Cascade

Ribato
Chapter #30

Bab XXX: Aku dan Hari Raya

Orang-orang selalu menggaungkan Idulfitri sebagai hari kemenangan. Namun, satu hal yang tidak pernah kupahami sampai sekarang: kemenangan seperti apa yang mereka maksud? Bagi diriku sendiri, setiap kali hari raya itu tiba, aku justru merasa kehilangan hal yang paling berharga dan berakhir sebagai pecundang yang kalah telak oleh keadaan.

Tiga hari menjelang Lebaran, atmosfer liburan sekolah mulai terasa. Pagi itu aku terbangun pukul sembilan, menikmati menit-menit awal libur dengan santai. Begitu melangkah keluar dari kamar, pemandangan hangat langsung menyergapku. Ibu sedang duduk di depan televisi, sibuk mengaduk adonan kue.

"Eh, kamu sudah bangun, Vel? Mau bantu Ibu bikin kue kering?" Ibu mendongak, menyunggingkan senyum hangatnya yang selalu kurindukan.

Aku mengambil posisi duduk di samping Ibu. Mataku lurus memperhatikan pergerakan tangannya, mencoba meresapi kembali kedekatan yang sempat hilang selama beberapa tahun terakhir ini. Suara dengung mesin mixer memenuhi ruangan, mencampur mentega dan tepung menjadi satu. Tak lama kemudian, Nanda muncul dari balik pintu kamar dan langsung merangkak naik ke pangkuanku.

"Ibu lagi bikin kue apa?" tanya Nanda polos.

"Ibu lagi bikin kue buat Lebaran nanti, Sayang. Nanda, kan, paling suka kue kastengel. Kalau kakakmu..." Ibu menghentikan gerakannya sejenak, mengusap lembut puncak kepala Nanda. "...dia pasti langsung menyerbu kue nastar."

"Ih, kenapa Kakak sukanya nastar? Padahal kastengel yang ada kejunya jauh lebih enak," celetuk Nanda, menoleh ke arahku dengan dahi berkerut.

"Soalnya nastar itu rasanya manis. Sama kayak adeknya Kakak yang satu ini," sahutku, langsung menjulurkan jemari untuk menggelitik perutnya. Gadis kecil berusia sepuluh tahun itu langsung menggeliat kegelian sambil tertawa renyah.

"Ravel, sudah, jangan diganggu terus adiknya. Kasihan sampai batuk-batuk begitu. Mending sekarang kamu bantuin Ibu mencetak adonan."

Adonan di dalam wadah besar sudah kalis, siap untuk diberi isian selai nanas. Aku menurunkan Nanda dari pangkuan, mencuci tangan hingga bersih, lalu kembali duduk menghadap meja kerja Ibu. Kuambil sejumput adonan, menepuk-nepuknya hingga pipih di telapak tangan, mengisinya dengan selai, lalu memutarnya perlahan hingga membentuk bola-bola kuning yang rapi.

"Kamu masih ingat, Vel? Dulu waktu kamu masih kecil, kamu paling rajin duduk di sebelah Ibu buat bantuin bikin kue begini tiap mau Lebaran."

"Ingat, Bu. Itu... selalu jadi saat-saat yang menyenangkan buat aku," kataku jujur.

"Tenang saja, mulai sekarang Ibu janji saat-saat seperti ini nggak akan pernah hilang lagi dari rumah kita," tutur Ibu, suaranya melembut. "Ngomong-ngomong, kamu masih ingat nggak kejadian soal degan utuh waktu itu?"

"Degan?" Aku memiringkan kepala, mencoba menggali memori.

"Bagaimana bisa lupa? Waktu kita beli degan utuh buat buka puasa di rumah lama. Kita semua kelimpungan karena nggak ada yang bisa membelah tempurungnya. Tapi kamu, entah karena ditenagai rasa lapar yang sudah di ujung tanduk, mendadak bisa membelah kelapa muda itu jadi dua bagian sempurna pakai golok tumpul," Ibu tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya masih senyaring dulu, bersih tanpa beban. "Waktu itu tampang kamu lucu sekali. Ibu sampai tertegun melihatnya."

"Tentu saja. Aku, kan, anak Ibu yang paling kuat dan paling tampan di rumah ini. Nggak ada tandingannya."

Hari itu mengalir dengan begitu menyenangkan, dipenuhi oleh untaian nostalgia masa lalu, hingga akhirnya gema takbiran resmi bersahut-sahutan di langit malam.

Keesokan paginya, setelah menunaikan salat Id, kami sekeluarga berkumpul di ruang tamu. Ayah—si berengsek yang masih kubenci setengah mati—duduk di sofa utama berdampingan dengan Ibu. Sementara aku dan Nanda mengambil posisi bersimpuh di atas karpet lantai.

"Ayo, cepat... sungkem dulu sama Ayah dan Ibu kalian!" titah Ayah dengan nada memerintah.

Aku menatap mereka berdua dalam diam, mendadak memikirkan hal yang sarkas di dalam kepala. Mengapa manusia harus mengkhususkan satu hari untuk saling bermaaf-maafan, jika pada hari-hari berikutnya mereka hanya akan mengulangi kesalahan dan kebohongan yang sama? Bukankah tradisi ini terasa sangat munafik?

"Ravel, kenapa kamu malah melamun di situ? Cepat salami tangan Ayahmu," tegur Ibu, menyenggol pelan kaki Ayah.

"Mungkin dia lagi nggak butuh uang THR dari Ayah, Bu," si berengsek itu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas baru dari saku bajunya, mengibas-ngibaskannya di udara seolah-olah aku adalah bocah bodoh yang bisa dijinakkan dengan selembar kertas.

Menahan sisa harga diri, aku akhirnya maju merangkak, menyalami tangan si berengsek dan tangan Ibu secara bergantian.

Lihat selengkapnya