Dunia lawan jenis selalu menjadi sebuah teritori asing yang tidak pernah benar-benar kupahami bagaimana cara kerjanya. Sejak kecil, memoriku hanya dipenuhi oleh interaksi yang homogen. Lingkungan sekolah dasar dan menengahku didominasi oleh barisan murid perempuan, membuatku terbiasa hidup dalam zona nyaman yang serbateratur dan halus.
Titik balik itu terjadi saat aku bersiap menginjak bangku SMA. Malam itu, Ibu duduk di tepi ranjangku, membelai rambutku seraya melempar sebuah pilihan. Beliau bertanya apakah aku ingin tetap bertahan di sekolah Kristen khusus wanita seperti kemauan Ayah, atau memberanikan diri mencoba atmosfer baru.
Dengan jemari yang bertautan cemas dan segudang keraguan yang menggelayuti kepala, aku akhirnya berbisik pelan bahwa aku ingin mencoba bersekolah di sekolah swasta umum. Ayah sempat menentang keras—kekhawatirannya sebagai seorang kepala keluarga begitu kentara—namun Ibu, dengan ketenangan dan diplomasinya yang luar biasa, berhasil melunakkan kerasnya hati Ayah.
Aku melangkah ke sekolah baru dengan memegang erat sebaris pesan moral dari Ibu. Didikan agama yang kuat menjadi kompas utamaku untuk selalu menanamkan benteng yang kokoh; menjaga kehormatan diri serta menarik garis pembatas yang tegas dari lawan jenis. Aku sama sekali tidak keberatan berteman atau bertukar pikiran dengan mereka, selama sekat-sekat kesopanan itu tidak dilanggar.
Sampai pada akhirnya... netraku menangkap sosok Ravel.
Pertemuan pertama kami jauh dari kesan romantis. Kala itu, aku hanya melontarkan sebuah pertanyaan kasual, menawarinya untuk menunaikan salat Zhuhur bersama di masjid sekolah. Namun, tanggapan yang keluar dari belahan bibirnya sungguh di luar dugaan. Kalimat ketus dan sorot mata dingin yang dia lemparkan seketika membuat hatiku mencelos. Aku tertegun di tempat, memandangi punggungnya yang menjauh seraya membatin bingung: sebenarnya apa yang salah dengan pria ini hingga dia sekaku itu?
Namun, penilaianku mulai bergeser seratus delapan puluh derajat beberapa minggu setelahnya. Malam itu di bawah malam, aku melihatnya berdiri di tengah lapangan, menjalani hukuman dari Kepala Sekolah untuk berpidato di hadapan barisan pohon-pohon mangga.
Momen absurd itu entah mengapa terlihat begitu memukau di mataku. Intonasi suaranya yang tinggi, ketegasan yang tersirat di setiap kalimat, serta artikulasi vokalnya yang bersih dan jelas terdengar begitu dominan di area terbuka.
Sejak detik itu, sepasang mataku secara tidak sadar mulai sering mencuri pandang, mengikuti ke mana pun gerak-geriknya pergi. Ravel mendadak menjelma menjadi sebuah teka-teki rumit yang sangat ingin kupecahkan. Dia adalah enigma yang membingungkan; terkadang aku melihatnya bersikap begitu lembut dan protektif pada orang lain, namun dia bisa mendadak berubah menjadi monster yang luar biasa kasar dan defensif jika berhadapan langsung denganku.
Bahkan yang paling membuatku terheran-heran adalah perilakunya terkait ponsel. Di saat cowok-cowok lain berjejal dan mencari berbagai alasan demi bisa mendapatkan nomor kontakku, Ravel justru menjadi satu-satunya manusia yang menolak mentah-mentah saat aku meminta nomor ponselnya.
Aku tidak tahu jenis emosi apa yang sedang bertunas dan merayap di dalam dadaku saat ini. Yang aku tahu pasti... rasa penasaran yang teramat besar telah telanjur menancapkan akarnya di kepalaku.