Popularitas selalu menjadi bahan bakar utama yang menggerakkan para remaja. Berada di lingkungan ini menyadarkanku pada satu hal: orang-orang sangat haus akan validasi untuk menjadi "yang terpilih". Terpilih sebagai siswa teladan, terpilih menjadi juara kelas, atau sekadar terpilih menjadi seorang pacar. Mungkin satu-satunya hal yang tidak mereka sukai hanyalah terpilih menjadi mayat.
Hari ini adalah pertandingan penentuan. Seleksi tahap akhir untuk menyaring pemain yang akan mewakili sekolah di babak penyisihan lomba basket antarpelajar. Udara di dalam aula terasa padat, dipenuhi oleh bau keringat, decit sol sepatu karet yang bergesekan dengan lantai kayu, dan pantulan bola yang ritmis.
Sementara yang lain sibuk melakukan pemanasan dengan penuh ambisi, aku justru masih berdiri setengah bersembunyi di balik dinding pintu masuk aula. Aku sedang mencoba mencari-cari niatku yang tercecer. Logikaku menyuruhku untuk bermain asal-asalan saja agar tidak terpilih. Namun, darah mudaku, sisa-sisa ego masa lalu yang belum sepenuhnya mati, berontak dan menuntutku untuk tampil maksimal. Masalah utamanya adalah: aku tidak tahu apakah mentalku sudah siap untuk kembali memikul beban ekspektasi di tengah lapangan.
Saat aku masih larut dalam perdebatan batin, sebuah hantaman keras tiba-tiba mendarat tepat di lipatan belakang lututku. Tubuhku limbung ke depan, nyaris mencium lantai jika saja tanganku tidak sigap menahan dinding.
Aku menoleh dengan kilat amarah dan mendapati sosok Putri berdiri di sana. Gadis itu mengenakan celana jins, kaus kasual, dan sebuah bando berwarna merah muda yang kontras dengan tatapan matanya yang sedingin es. Dia bersedekap dada, menatapku dari atas ke bawah.
"Ngapain lo? Mau bikin gue cedera sebelum main?" sungutku kesal. "Tapi boleh juga sih ide lo. Kalau kaki gue patah, gue bisa pulang lebih awal dan beasiswa gue nggak akan dicabut karena alasan medis. Nih, silakan patahin sekalian!" Aku menjulurkan kaki kananku ke arahnya dengan sinis.
"Lo itu bener-bener, ya…."
Bukannya membalas ucapanku, Putri melangkah maju dan menginjak punggung sepatuku berkali-kali dengan tumitnya.
"Aduh! Sakit, bodoh! Ngapain sih lo?!" teriakku sambil menarik kaki.
"Serius sedikit bisa nggak, Ravel tolol?" desis Putri, suaranya rendah tapi tajam. "Ngapain lo pasang tampang pecundang kayak gitu? Padahal jelas-jelas lo latihan mati-matian sampai malam tiap hari. Jelas-jelas lo pengin main. Ngapain lo nyoba lari lagi, brengsek?"
"Gue…." Kata-kataku tercekat di tenggorokan.
Harus kuakui, insting gadis ini terlalu tajam. Namun, apakah pantas bagiku untuk kembali berdiri di lapangan yang sama, yang pernah menghancurkan keluargaku dulu?
"Lagi-lagi masang tampang pecundang." Putri tiba-tiba melayangkan tinjunya, mendarat cukup keras di ulu hatiku hingga aku terbatuk. "Kalau lo butuh alasan buat menang, biar gue yang kasih."
Putri merogoh saku jinsnya, mengeluarkan ponsel pintar, dan menyorongkan layarnya tepat di depan wajahku.
"Sejak kapan lo ngambil—"
"Kalau lo nggak main serius hari ini, gue bakal sebarin foto ini ke akun gosip sekolah," ancam Putri tanpa berkedip. "Mari kita lihat, apa yang bakal terjadi?”
Darahku mendidih. Aku diam membeku, membayangkan skenario terburuk yang bisa terjadi. Jika foto ini tersebar.
"Nah, tatapan lo yang sekarang jauh lebih bagus dari tadi. Sekarang... masuk ke lapangan dan seriuslah, Manusia Purba." Putri menepuk bahuku keras-keras, lalu melenggang masuk ke tribun penonton.
Aku menarik napas panjang, mencoba membuang sesak di dada. Aku sudah menghancurkan ibuku karena basket, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan Risa yang menjadi korban.
"Baiklah," gumamku sambil menepuk kedua pipiku sendiri dengan keras. "Gue rasa hari ini bakal jadi hari yang sangat menyebalkan."
Di tengah lapangan, Coach David meniup peluitnya dan segera membagi anak-anak menjadi dua tim. Aku ditempatkan satu tim dengan Kak Farel untuk melawan tim Ekhsan yang didominasi oleh anak-anak kelas dua. Ini bukan komposisi yang adil. Di tim Ekhsan, berdiri Kak Erlan, si center raksasa yang tingginya nyaris menyentuh angka dua meter.
Coach David melangkah ke center circle, mengapit bola di pinggangnya, lalu melemparkannya tinggi-tinggi ke udara untuk tip-off.
Kak Erlan melompat, dan dengan mudah tangan panjangnya menyapu bola itu ke arah Ekhsan. Ekhsan menerima umpan tersebut dengan mulus, men-dribel bola secepat kilat menembus pertahanan kami. Mau tak mau, aku harus berhadapan satu lawan satu dengannya.
"Yo, Vel! Kita lihat seberapa jago omongan lo," provokasi Ekhsan, menyeringai lebar.
Dia melakukan crossover cepat, memantulkan bola di bawah lututnya hingga aku kehilangan keseimbangan. Dengan satu gerakan spin, dia meledak melewati pertahananku, melempar umpan ke pemain kelas dua yang langsung menyelesaikannya dengan lay-up. Dalam hitungan menit, papan skor sudah menunjukkan kami tertinggal angka.
"Jangan khawatir, Vel. Nanti kita balas pakai tembakan tiga poin lo. Ekhsan minggu-minggu ini emang lagi on fire, agak susah buat ngejaga bocah satu itu," Kak Farel berlari ke arahku, menepuk punggungku ringan.
"Tentu saja. Mungkin itu yang disebut the power of love, Kak. Sayang sekali Kak Farel kita yang tampan ini masih jomlo," balasku sinis, mencoba menutupi rasa gugup.
"Lo itu emang kurang ajar mulutnya, Vel," tawa Kak Farel.
Permainan kembali bergulir. Aku menerima bola dan mulai membangun serangan dengan ritme lambat. Mataku menyapu lapangan, mencari celah kosong di garis tiga angka. Namun, begitu aku menemukan posisi yang pas, Ekhsan sudah berdiri tegak di hadapanku, merentangkan tangannya lebar-lebar.
"Mau nyari spot nembak, huh? Lo kira bakal gue biarin?" tantangnya.