Sejak dahulu, menjadi pemain cadangan adalah posisi yang paling menyebalkan dan kotor. Berada di bangku itu secara tidak sadar memaksamu memelihara niat busuk; berharap teman satu timmu bermain buruk atau bahkan mengalami cedera agar kau memiliki kesempatan untuk masuk ke lapangan.
Sudah tiga minggu aku terjebak dalam siklus itu, sekadar menjadi penonton dekoratif di pinggir lapangan kayu, menyaksikan tim inti bermain dengan sangat solid. Mereka mulai melangkah maju, sementara aku justru tenggelam dalam frustrasi yang kontradiktif—sebagian diriku ingin sekali lagi berdiri di tengah lapangan, namun sebagian besar mentalku mati-matian menolaknya.
Hingga pada akhir pekan itu, aku memutuskan untuk absen sepenuhnya dari jadwal babak penyisihan terakhir. Aku memilih menuruti ajakan Ibu untuk pergi ke sebuah dealer sepeda motor bekas di ujung kota, yang pemiliknya kebetulan adalah salah satu teman lama Ibu. Kami dibawa masuk ke area depan yang dipenuhi jajaran motor berbagai merek dan tahun.
"Ravel, kamu suka motor yang mana?" tanya Ibu, tatapannya menyapu barisan kendaraan roda dua itu.
"Sepeda motor? Kenapa tiba-tiba, Bu?" aku mengernyit bingung.
"Sebentar lagi kamu naik ke kelas dua, Vel. Kamu pasti butuh alat transportasi sendiri seperti teman-temanmu. Ibu sering lihat Ekhsan, Dodit, Yogi, bahkan Irul dengan motor bututnya itu kalau menjemputmu. Karena itu, Ibu ingin membelikanmu satu."
Aku menatap jajaran motor di depanku. Meskipun statusnya barang bekas, kondisi fisiknya masih sangat terawat. Ada riak kebahagiaan kecil yang sempat meletup di dadaku—sensasi khas remaja yang menginginkan kebebasan berkendara. Namun, logikaku langsung menyiram letupan itu dengan realitas yang pahit. Aku menoleh ke arah Ibu lalu menggelengkan kepala.
"Sepeda pancalku masih bagus, Bu. Masih cepat dan kayuhannya ringan. Sebaiknya uangnya kita simpan saja buat cicil bayar utang."
Akibat kegagalan Ibu sebagai kreditur beberapa tahun lalu, tumpukan utang keluarga kami membengkak drastis. Aku tahu betul rahasia umum di rumah kami: alasan si berengsek Ayah mau menerima Ibu kembali mungkin bukan karena cinta yang tersisa, melainkan karena dia sudah tidak sanggup menghadapi kejaran para penagih utang sendirian.
"Nak," Ibu mengulurkan tangan, mengusap lembut rambut poniku. "Jangan terlalu mengkhawatirkan soal perekonomian kita. Waktu itu berjalan cepat. Begitu kamu lulus nanti, kamu bisa bekerja dan gantian membantu Ibu melunasi semuanya. Motor bekas ini harganya tidak seberapa, dan InsyaAllah semua bisa Ibu beli secara bertahap. Jadi, pilihlah tanpa ragu."
Mendengar penuturan Ibu, aku justru memandangi deretan motor itu seolah-olah mereka adalah tumpukan rongsokan yang menuntut bayaran mahal. Uang selalu menjadi akar masalah di keluarga kami, dan aku menolak menjadi egois dengan menambah beban baru.
Melihatku yang terus bergeming, Ibu dengan gemas mendorong pundakku mendekati salah satu motor matik. "Ini sepertinya bagus, Vel. Warnanya putih, warna kesukaanmu." Ibu tersenyum lebar.
"Bu, kalau aku benar-benar boleh memilih..." Aku menjulurkan telunjuk, mengarah tepat pada sebuah motor sport bongsor berwarna hitam pekat di ujung ruangan. "...aku mau yang itu."
"Wah, selera anakmu boleh juga, Ni!" puji Bang Suleman, si pemilik dealer, sembari terkekeh.
"Ravel!" Ibu melotot, memprotes seleraku yang kelewat mahal.
"Aku cuma bercanda," aku menyengir lebar seperti orang bodoh, lalu beralih menatap si pemilik toko. "Yang paling murah di sini yang mana, Bang Suleman?"
"Itu, ada matik warna merah di sudut sana. Tahun keluarannya sudah cukup lama, jadi harganya jauh lebih miring dibanding yang lain."
"Nah, kalau begitu kita ambil yang merah itu saja, Bu," tawarku langsung.
Ibu menatap motor matik merah itu dengan ragu. "Tapi, Nak... apa tidak apa-apa? Kendaraannya agak kecil. Bagaimana kalau nanti kamu mau membonceng seseorang... siapa itu namanya... ah, Risa? Jok belakangnya mungkin agak sempit untuk Risa-Risa itu."
"Ibu..." Napasku berembus berat, pipiku mendadak terasa panas. "Sudah kubilang berapa kali, aku dan Risa itu tidak mungkin. Dia sama sekali tidak punya perasaan apa-apa padaku."
"Mana mungkin? Anak Ibu ini, kan, tampan sekali. Kulitnya bersih, hidungnya mancung persis seperti orang Arab. Mana ada anak gadis yang bisa tahan dari godaan anak Ibu yang satu ini?" Ibu terbahak, lalu mencubit kedua pipiku dengan gemas.
Setelah menyelesaikan urusan administrasi, aku dan Ibu membawa matik merah itu pulang. Namun, atmosfer hangat itu seketika menguap begitu kami sampai di depan rumah. Di sana, bersandar pada pagar besi, sosok Putri sudah menunggu dengan kedua lengan bersedekap di dada.
Begitu menyadari kedatangan kami, Putri langsung menegakkan tubuh. Dia menghampiri kami dan dalam sekejap memasang ekspresi wajah imut andalannya.
"Permisi, Tante... masih ingat tidak sama saya?" tanya Putri, intonasi suaranya mendadak berubah menjadi sangat halus dan sopan.
"Ah, kamu gadis cantik dan manis yang waktu itu datang, kan? Jadi, kalian berdua sekarang satu sekolah lagi?" wajah Ibu langsung berbinar ramah.
"Iya, Tante. Maaf sebelumnya, saya sebenarnya ingin sekali mengobrol lama dengan Tante. Tapi situasinya sedang darurat, saya pinjam Ravel-nya sebentar, ya?"