Di koridor sekolah, rumor adalah komoditas yang bergerak lebih cepat daripada peluru. Pagi itu, atmosfer di sekitarku mendadak berubah ringkih. Begitu kakiku baru saja melewati gerbang, Irul sudah muncul dari balik pilar, menyergap lengan jaketku, dan menyeretku setengah berlari menuju sudut kantin yang sepi.
Tanpa basa-basi, dia menyodorkan layar ponselnya tepat di depan hidungku. Sebuah unggahan foto. Di sana, Putri tampak sedang menggandeng lenganku dengan erat di selasar balai kota kemarin.
"Gila, ya. Nggak nyangka gue, guru cinta gue diam-diam punya skill dewa," bisik Irul, menaik-turunkan alisnya dengan seringai usil. "Bisa-bisanya lo ngegaet salah satu selebgram paling dikejar di sekolah kita."
"Selebgram kepala lo peyang!" Aku menepis tangannya kesal. "Gue sama Putri nggak ada hubungan apa-apa. Ini siapa sih yang kurang kerjaan banget moto-moto begini?"
"Nggak usah ngeles, Vel. Satu sekolah udah tahu kalau Putri yang nganterin lo ke lapangan pakai mobil mewahnya. Semua orang juga liat kalian pulang bareng. Jangan-jangan... di dalam mobil itu lo berdua—"
Sebelum kalimat sialannya selesai, aku langsung memiting leher Irul dengan lengan kananku. Menggunakan buku jari tangan kiri, aku menggosok dahi lebarnya yang mulai berkeringat hingga mengilap. Irul mengerang, tubuhnya menggeliat mencoba melepaskan diri dari kuncianku, namun aku justru mempererat pitingan sampai dia menepuk-nepuk lenganku pasrah.
"Iya, iya! Ampun, Vel! Lepasin, sakit tahu!" ringik Irul. "Gue tahu lo nggak ada apa-apa sama dia. Lepasin dulu, elah!"
Aku melepaskannya, lalu berbalik berjalan menuju kelas. Irul mengekor di belakang sambil merapikan rambutnya yang berantakan. Sepanjang selasar, tatapan orang-orang seperti jarum tak kasat mata—menancap pada punggungku diikuti bisik-bisik yang tertahan setiap kali aku lewat. Aku sudah terlalu kenyang menerima tatapan menghakimi seperti ini di masa lalu, jadi aku memilih acuh dan langsung menghempaskan tubuh di bangku.
Di sudut depan kelas, Risa yang sedari tadi sedang tertawa bersama Lia mendadak bungkam begitu melihat kedatanganku. Manik mata kami sempat bertemu selama satu detik yang canggung, sebelum Risa memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah jendela. Aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal, mulai merasakan ada yang tidak beres.
Brak!
Sebuah hantaman telapak tangan di atas mejaku mengejutkan seisi kelas. Aku mendongak dan mendapati Putri sudah berdiri di sana. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapku dengan senyuman manis yang tampak sangat artifisial.
"Jangan lupa nanti sore latihan ya, Sayang," ucap Putri, suaranya sengaja dikeraskan hingga beberapa pasang mata di sekitar kami langsung menoleh.
"Lo itu... bisa stop nggak?" desisku pelan. Aku merogoh tas, mengeluarkan kotak sepatu basket baru yang dia berikan kemarin, lalu menyodorkannya ke depan dadanya. "Nih, sepatu lo. Gue balikin. Makasih buat kemarin."
Raut wajah Putri langsung berubah drastis. Matanya berkaca-kaca dalam sekejap, dan dia menutup mulutnya dengan dramatis. "Ravel... kamu jahat banget. Hiks... apa pemberianku seburuk itu sampai kamu tega ngembaliinnya di depan umum?" ucapnya dengan isak tangis palsu yang luar biasa meyakinkan.
"Jangan bikin drama di sini, kita—"
Kalimatku menggantung. Dari sudut mataku, aku melihat Risa tiba-tiba bangkit berdiri dari bangkunya. Dia merapikan roknya dengan sentakan kasar, lalu berjalan cepat keluar kelas tanpa menoleh sedikit pun.
Begitu Risa menghilang di balik pintu, aku menangkap siluet tipis di wajah Putri—satu sudut bibirnya terangkat membentuk seringai penuh kemenangan. Perempuan ini sengaja memprovokasi situasi. Kilatan amarah membuat logikaku berputar cepat. Ibu selalu bilang: jika ada perempuan yang mencoba memanipulasimu dengan drama, jangan mundur, tapi balikkan keadaan dan terima tantangannya.
Aku menegakkan tubuh, meraih pergelangan tangan Putri, lalu menariknya sedikit mendekat hingga jarak wajah kami mengikis. Aku menatap lurus ke dalam matanya dengan senyuman yang dipaksakan setenang mungkin.
"Ah, iya. Gue hampir lupa," kataku dengan nada suara yang sengaja diubah menjadi berat dan lembut. "Haruskah gue panggil lo dengan nama itu mulai sekarang? Putri... Sayang?"
Putri sempat tertegun selama sepersekian detik, kilatan terkejut melintas di matanya yang bundar sebelum dia dengan cepat menguasai diri. Dia melangkah maju satu senti lagi, menjulurkan jari telunjuknya, dan menyentuh ujung hidungku dengan gemas. "Kalau begitu, ingat ya nanti latihan, Sayang. Aku paling nggak suka sama cowok pemalas."
Setelah melempar bom atom itu, Putri berbalik dan melenggang pergi meninggalkan kelas dengan santai.
Aku melongo, mendadak sadar bahwa keagresifan gadis itu berada di luar kalkulasiku. Saat aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas, atmosfer sudah berubah mencekam. Di antara semua tatapan aneh yang ditujukan padaku, tatapan milik Dodit adalah yang paling mengerikan—seolah dia siap mencincangku menjadi potongan kecil. Aku menjatuhkan diri kembali ke kursi, merutuki kebodohanku sendiri. Aku baru saja masuk ke dalam jebakan yang kubuat sendiri.
Begitu bel pulang berdentang, Putri sudah berdiri di samping mejaku. Wajahnya kembali polos tanpa dosa, seolah drama tadi pagi tidak pernah terjadi.
"Yuk, kita latihan, Sayang," ajaknya, jemarinya berniat menyambar lenganku.
"Jangan panggil gue pakai sebutan itu," sahutku ketus, menyampirkan tas di bahu dan berjalan cepat mendahuluinya.