Cascade

Ribato
Chapter #35

Bab XXXIV : Aku dan Trauma Basket

Kemenangan beruntun kerap kali menjadi pemicu utama dari sebuah mimpi buruk. Saat manusia mulai terlena dan jumawa atas kemampuannya sendiri, semesta selalu punya cara yang menyakitkan untuk melemparnya kembali ke tanah.

Tim sekolah kami terus melaju, menggilas lawan demi lawan hingga akhirnya menembus babak perempat final. Tim yang kami hadapi kali ini jauh lebih solid. Aku dijaga sangat ketat oleh seorang pemain bertahan berpostur nyaris dua meter yang menempelku bagai bayangan. Namun, beruntung tim kami masih memiliki Kak Farel dan Ekhsan. Fokus lawan yang terdistribusi penuh padaku justru membuka ruang tembak yang lebar bagi mereka berdua untuk terus mencetak angka.

Gemuruh sorak penonton menggema di aula. Untuk pertama kalinya, pihak sekolah mengutus ratusan siswa untuk mengisi tribun dan memberi dukungan resmi. Pertandingan berakhir tegang dengan selisih tiga angka untuk kemenangan kami.

Begitu peluit panjang berbunyi dan euforia perayaan meledak di tengah lapangan, aku memilih meliputkan diri. Seperti biasa, aku berjalan menyusuri koridor samping yang sepi, melangkah menuju sebuah mesin minuman otomatis di sudut bangunan.

Saat jemariku baru saja memasukkan kepingan uang kertas ke dalam slot mesin, tiga bayangan tinggi mendadak mengepungku dari belakang.

Satu pemuda berkulit gelap berbadan jangkung, satu lagi berpostur pendek dengan rambut keriting mengembang, dan yang berdiri di tengah adalah seorang pemuda berkulit putih dengan rambut yang dicat pirang terang. Tiga wajah dari masa lalu yang amat kuhafal.

"Wah, lihat siapa ini. Si jago tembak kembali beraksi," sindir si rambut keriting, menyilangkan tangan di dada. "Setelah menghancurkan tim basket SMP kita dulu, sekarang lo punya target baru buat dihancurkan?"

"Benar," timpal si rambut pirang dengan tatapan dingin. "Kenapa lo nggak main sehebat ini waktu di SMP dulu, Vel? Gue sebagai mantan kapten lo bener-bener merasa kecewa."

"Lo bener-bener bikin mual, tahu nggak?"

Brak!

Pemuda berkulit gelap itu mendadak mendorong dadaku kasar. Tubuhku terhentak menghantam dinding besi mesin minuman kaleng hingga menimbulkan dentuman nyaring.

"Tiba-tiba kabur di tengah pertandingan penting, terus sekarang berlaga jadi pahlawan buat sekolah lain?" desisnya tajam.

Melihat ketiga wajah itu serasa membuka kembali luka lama yang membusuk di dalam dadaku. Rasa bersalah yang teramat sangat mendadak menghantam ulu hati. Isi perutku mual bergejolak, kepalaku berdenyut hebat, dan persendianku mendadak lemas. Aku tidak sanggup membalas tatapan mereka. Aku hanya bisa menunduk pasrah, membiarkan beban trauma itu kembali meremukkan punggungku.

"Kenapa lo diam aja? Bisu lo sekarang?!" bentak si rambut keriting.

"Gue... gue juga nggak mau kabur saat itu," kataku dengan suara bergetar, menahan sesak. "Tapi waktu itu ibu gue—"

Brak!

Sebuah pukulan mentah melesat cepat, menyapu sisi kiri kepalaku dan menghantam telak dinding mesin minuman di belakangku. Suara dentuman keras itu membuat telingaku berdenging.

"Nggak usah bawa-bawa alasan basi!" bentak si rambut pirang, wajahnya mendekat ke telingaku. "Pertandingan baru jalan setengah dan lo main pergi gitu aja! Permainan kita kacau berantakan! Sekarang tim kita mungkin bakal berhadapan di final. Apa lo berniat ngancurin kita sekali lagi?!"

"Kalian... apa-apaan ini?!"

Sebuah pekikan tegas dari arah belakang memecah ketegangan. Aku mendongak perlahan dan mendapati Risa sedang berlari menghampiri kami dengan napas memburu.

"Lepaskan Ravel! Atau aku laporkan kalian ke guru pembina sekarang juga!" Risa berdiri berkacak pinggang, menatap ketiga pemuda itu tanpa rasa gentar sedikit pun.

Si rambut keriting terkekeh meremehkan. "Oho, apa-apaan ini? Selain balik main basket, ternyata si pecundang ini juga punya cewek. Cantik lagi."

"Kakak cantik," timpal si pemuda berkulit gelap, menyeringai jahat ke arah Risa. "Apa lo nggak tahu kalau cowok yang lo belain ini cuma bisa merusak hal di sekitarnya? Dia ini dalang utama kekalahan tim kita dulu. Oh iya, lagian ibunya juga—"

"Toyul, Sandrew, David, cukup!" potongku keras. Suaraku tercekat di tenggorokan. "Gue mohon... nggak usah diperpanjang. Gue memang salah karena kabur waktu itu. Kalian boleh pukul gue sepuasnya kalau itu bikin kalian lega. Tapi..." Aku melirik Risa dengan mata memerah. "Kepala Melon, mending lo pergi dari sini. Gak usah ikut campur. Gue bisa nyelesain masalah gue sendiri!"

"Nggak mau!" Risa justru melangkah maju, pasang badan tepat di depanku. Dia merentangkan kedua tangannya, melindungiku dari ketiga pemuda itu. "Ravel bukan orang seperti yang kalian tuduh! Dia memang jutek dan menyebalkan, tapi dia pemuda yang baik, perhatian, dan sangat peduli dengan orang lain!"

Risa mendongak, menatap tajam ketiga senior SMP-ku itu. "Kalau kalian masih berniat berbuat kasar, aku bakal teriak sekencang-kencangnya sampai seluruh aula datang ke sini!"

Melihat keberanian Risa dan ancaman yang tidak main-main itu, si pemuda berkulit gelap akhirnya melepaskan cengkeramannya pada kerah kausku. Dia meludah ke samping, menatapku kelam. "Awas lo, Vel," bisiknya, sebelum akhirnya berbalik pergi disusul kedua temannya.

Lihat selengkapnya