Cascade

Ribato
Chapter #38

Bab XXXVII: Aku, Putri dan Perasaan yang Tertinggal

Tahukah kau apa hal yang paling berat di dunia ini? Bukan beban fisik atau kegagalan, melainkan sebuah kebaikan. Kebaikan yang datang di waktu yang salah bisa menancapkan akar perasaan yang aneh—mengikis perlahan hingga akhirnya menghancurkanmu dari dalam.

Putri Ayu. Aku pertama kali menyadari keberadaannya saat kami duduk di kelas dua SMP. Waktu itu, seorang teman SD-ku penasaran setengah mati dengan paras cantik Putri. Dia meremas selembar kertas lalu melemparnya ke arah Putri untuk mencari perhatian. Putri tidak peduli, tetap asyik mengobrol dengan teman sebangkunya. Saat temanku melempar kertas untuk kedua kalinya, seorang senior memergokinya. Namun anehnya, bukannya temanku yang dihukum, senior itu justru menyeretku keluar dan menyuruhku berdiri di depan kelas atas tuduhan mengganggu siswi.

Seiring berjalannya waktu, aku menemukan pelarian baru dari kekacauan hidupku: membaca manga favorit dan bermain basket. Aku mencintai olahraga itu, tapi kenyataan pahit menyengatku keras-keras: tubuhku gemuk, pergerakanku lambat, dan staminaku menyedihkan. Aku hampir tak pernah dilirik untuk masuk skuat utama dan membusuk di bangku cadangan.

Sadar akan keterbatasanku, aku memutuskan melatih satu-satunya hal yang bisa kukuasai: tembakan tiga angka. Setiap ada kesempatan, aku mendrible dan menembak.

Sore itu, menjelang seleksi kejuaraan daerah, aku bertahan lebih lama di lapangan yang mulai sepi. Tembakanku berkali-kali melesat mulus melintasi jaring, namun dadaku terasa hampa. Saat itulah, dari arah pintu gerbang, sosok seorang gadis melangkah masuk. Aku berbalik usai mengeksekusi satu tembakan. Mata kami beradu, dan gadis itu mendadak mematung.

"Eh Put, lo masih belum pulang?" tanyaku dengan napas yang memburu.

"Nggak, gue cuma mau ambil barang gue yang kelupaan, Vel," ujar Putri dingin.

Karena sikapnya yang teramat dingin, aku tidak berminat memperpanjang percakapan. Aku menyambar bola, mundur ke garis tengah lapangan, lalu mencoba menembak. Bola melayang jauh, membentur keras bibir ring, dan memantul liar. Aku mendesah kecewa.

"Lo udah ngelakuin latihan kayak gini sejak kapan?"

Pertanyaan dari Putri membuatku menoleh kembali. Gadis itu sedang menggigit bibir bawahnya, menatapku dengan binar rasa penasaran yang tak mampu disembunyikan.

"Mungkin... sudah ada dua bulanan ini. Entahlah, gue juga lupa," jawabku mencoba mengingat-ingat.

Aku mengabaikan keberadaan gadis aneh itu dan melanjutkan latihanku. Jariku memegang bola kayu itu, merasakan betapa sulitnya mengontrol pantulan kulitnya ke lantai. Aku tidak secerdik atau selincah Toyul. Aku payah. Tapi aku ingin terpilih. Aku ingin berdiri di lapangan yang sama bersama mereka.

Lima belas menit berlalu hingga otot betisku berkedut kram. "Gue rasa cukup sampai di sini."

Aku melangkah menuju ruang kelas untuk mengambil tas. Di dalam kelas yang temaram, kulihat Putri sedang berlutut, mencari-cari sesuatu di kolong meja dengan raut panik. Aku tahu apa yang dicarinya—benda yang hampir saban hari bertengger di telinganya.

"Sudah ketemu Put, headset-nya?" tanyaku sambil menyandang tas.

Putri berdiri seketika dari bawah meja, menatapku dengan pandangan tajam berselimut gengsi.

"Pulang aja, gue bisa nyari sendirian kok."

Waktu itu, pikiranku masih murni, masih memegang teguh wejangan kebaikan dari Ibu. Tanpa memedulikan penolakannya, aku berlutut, menyisir kolong meja dan kursi.

"Ngapain lo? Pulang aja sana. Ini bukan urusan elo!"

"Benar, tapi ibu gue selalu bilang untuk membantu siapapun yang kesulitan. Apalagi jika itu adalah seorang gadis. Sebagai lelaki, wajib untuk melindungi wanita."

Putri bungkam. Dia akhirnya ikut mencari bersamaku. Karena benda itu tak ada di kelas, aku menyusuri lorong-lorong tempat kami tadi berlari saat jam istirahat. Kuraba tiap sudut semen dan kursi kayu di selasar, hingga mataku menangkap wadah plastik putih berbentuk kerang di bawah bangku taman.

"Put... Put! Aku menemukan headset-mu!" beritahuku girang, berlari kembali ke dalam kelas.

Putri memburu menghampiriku. Saat kuserahkan wadah kerang putih itu, raut dingin dan ketus yang menghiasi wajahnya seketika luluh, berganti senyuman yang begitu cerah.

"Wah, makasih Vel... makasih banget! Ini benda kesayangan gue!"

Tanpa diduga, Putri berjingkat dan memeluk tubuhku erat. Namun saat menyadari apa yang dilakukannya, dia buru-buru mendorong dadaku kasar dan memalingkan wajahnya yang memerah.

"Jangan salah paham lo! Ini... ini cuma karena gue seneng aja!"

Lihat selengkapnya