Cascade

Ribato
Chapter #37

Bab XXXV: Aku dan Rahasia di Balik Ring


Kalimat yang keluar dari mulut Ibu malam itu terus menggantung di dalam kepalaku bagai gema yang menolak padam. Rasa penasaran yang membakar membuatku membongkar tumpukan kardus lama di sudut kamar, mencari kembali arsip majalah sekolah masa SMP yang pernah kusembunyikan. Dan di sana, di halaman profil ekskul olahraga yang berdebu, aku menemukan satu kenyataan yang berhasil membuat tenggorokanku mendadak kering.

Sore itu, aula olahraga sekolah kembali riuh oleh lengkingan peluit dan jerit spatu karet yang bergesek keras dengan lantai semen. Tim basket putri sekolah kami melakoni laga perempat final. Aku yang biasanya menolak hadir dalam keramaian apa pun, akhirnya berdiri di dekat gerbang parkiran bersama Irul, menimbang keputusanku sendiri.

"Wah, keajaiban dunia ke berapa nih si Ravel mau menginjakkan kaki di tribune cewek?" seloroh Irul sambil menepuk bahuku kasar.

"Gue cuma mau cari angin segar," balasku singkat, merapatkan jaket. "Daripada telat, mending masuk sekarang."

Di area penonton, kami bergabung dengan Ekhsan, Dodit, Lia, dan Risa yang sudah lebih dulu mengamankan barisan kursi depan. Irul mendorong bahuku agar duduk di samping Risa, namun belum sempat bokongku menyentuh dudukan kayu, Ekhsan berdiri di depanku, memberi isyarat gerakan tangan agar aku bergeser. Irul mengerti kode itu dan buru-buru menukar posisinya denganku. Aku melirik Dodit yang duduk di ujung—bahunya tegang, menatapku dari samping dengan raut wajah yang kurang bersahabat.

Peluit tanda dimulainya pertandingan akhirnya dibunyikan.

Di tengah lapangan, sosok Putri mendadak menyedot seluruh perhatian. Gadis yang biasanya tampil dengan gaya rambut bergelombang yang terurai manja itu kini mengikat kencang rambutnya membentuk ponytail tinggi. Garis wajahnya tampak jauh lebih tegas, matanya menyala dipenuhi ambisi yang buas.

Beberapa menit berjalan, Putri berhasil mencuri bola dari point guard lawan, melesat melakukan drive sendirian, dan mengakhiri aksinya dengan layup sempurna. Suara gemuruh penonton meledak. Usai merayakan poin itu bersama kawan timnya, mata Putri mendadak mengunci keberadaanku di tribune depan. Dia berlari kecil mendekati garis tepi, menatap lurus ke arahku, lalu menjulurkan telunjuknya menunjuk dadanya sendiri sebelum mengarahkannya ke langit-langit gedung. Sebuah gestur penuh percaya diri yang sangat provokatif.

"Putri bener-bener gila ya," bisik Ekhsan dari samping, matanya tak lepas dari lapangan. "Cantik, pinter, jago main basket, selebgram lagi. Beruntung banget lo, Vel."

"Beruntung dari mananya?" tanyaku datar.

"Bukannya kalian berdua udah resmi jadian? Lo tahu nggak, gara-gara rumor kalian di kelas kemarin, si Dodit hampir kena serangan jantung?" Ekhsan terkekeh pelan.

"Gue sama Putri nggak ada hubungan apa-apa. Drama di kelas kemarin itu cuma kelakuan sintingnya dia," tekanku dengan nada serendah mungkin. "Lagian mana mungkin cewek kayak dia mau sama cowok gak jelas kayak gue? Udah, mending lo fokus nonton."

Tim kami sempat mendominasi, unggul sepuluh angka di kuarter pertama. Namun, dalam olahraga, kenyamanan kerap kali menjadi awal dari kehancuran. Lawan merespons dengan mengganti taktik—mereka menugaskan seorang pemain bertahan berpostur tinggi tegap untuk menempel ketat Putri secara fisik. Setiap kali Putri memegang bola, pergerakannya langsung dikunci rapat.

Kebuntuan itu merembet ke seluruh tim. Alur serangan mendadak mati, tembakan-tembakan spekulatif mengudara tanpa arah, dan selisih poin berbalik dengan sangat cepat. Saat peluit akhir berbunyi, tim putri kami harus menelan kekalahan telak dengan selisih dua puluh poin.

Atmosfer di tribune seketika mendingin. Teman-teman sekelas kami beranjak dari kursi dengan canggung, meratapi hasil pertandingan dengan bisik-bisik kecewa. Di sudut sana, Dodit tampak terburu-buru menuruni tangga tribune, kemungkinan besar berniat menjadi pahlawan yang menghibur Putri di ruang ganti.

Aku merapatkan releting jaket kulitku, bersiap melangkah keluar gedung. Ada satu hal penting yang sebenarnya ingin kukonfirmasikan pada Putri hari ini, tapi melihat kondisinya yang runtuh, logikaku melarang.

"Woi, Vel! Lo nggak mau turun buat ngehibur pacar lo?" panggil Ekhsan saat aku menuruni tangga, didampingi Risa di sampingnya.

"Gue bilang gue nggak ada apa-apa sama dia," sahutku ketus tanpa menghentikan langkah. "Lagian tuh si Dodit udah turun duluan."

"Tapi Ravel... mungkin Putri sedang sangat membutuhkan dukunganmu," timpal Risa lembut, matanya menatapku penuh keprihatinan. "Kamu kan teman sekolahnya sejak SMP, dan dia pernah bilang kalau kalian sebenarnya cukup dekat."

Langkah kakiku terhenti seketika. Kalimat Risa menghantam bagian sensitif di dalam dadaku.

"Kita nggak pernah dekat," potongku dingin, memutar tubuh menghadap mereka berdua. "Gue cuma badut di hidupnya, dan dia cuma penontonnya. Hubungan kita dari dulu cuma transaksi batin yang saling melapukkan. Paham?"

"Wow... kejam banget lo, Vel," gumam Ekhsan, menggelengkan kepala.

"Benar, kamu tidak boleh sebegitu dinginnya pada seseorang yang sedang berjuang," tegur Risa.

Aku mendesah kasar, menangkupkan kedua tanganku di depan dada dengan raut wajah jengah. 

"Apa-apaan sih ini? Sekarang kalian berdua kompak menceramahi gue? Kalian berdua itu bener-bener cocok, tahu nggak? Makanya gue mohon, mending kalian berdua cepat jadian aja terus berhenti campur tangan sama urusan gue!"

Tanpa menunggu balasan dari mereka, aku berbalik dan setengah berlari menuju area parkiran.

Lihat selengkapnya