Hari ini adalah partai final kejuaraan daerah. Pencapaian yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Di dalam toilet gedung olahraga yang dingin, aku membasuh wajahku berkali-kali dengan air kran yang mengalir deras. Tanganku bergetar hebat di atas wastafel. Setiap kali aku memejamkan mata, memori kelam dari masa lalu berputar liar tanpa bisa dikontrol: suara teriakan Ayah yang memecah malam, gumpalan rambut Ibu yang berserakan di lantai, luka lebam di pipi Ibu saat memelukku, hingga momen ketika polisi menyeret Ayah keluar dari rumah.
Brak!
Aku menghantamkan kepalan tanganku ke cermin di atas wastafel. Bayanganku di dalam kaca tampak retak dan berantakan. Rasa getir dan ketakutan itu menolak pergi dari dadaku. Namun, hari ini aku harus menang. Ada janji yang harus kutagih, dan aku sudah lelah terus-menerus berlari sebagai pengecut.
Ponsel yang kuletakkan di tepi wastafel mendadak bergetar menyanyikan nada dering. Di layarnya, nama "Kepala Melon" tertera jelas.
Aku mendesah pelan lalu menggeser tombol hijau. "Ngapain lo?"
"Ravel! Kamu ada di mana?" suara Risa terdengar panik dari seberang telepon. "Kenapa kamu belum ada di bangku pemain? Pertandingan sebentar lagi mulai!"
"Gue lagi di toilet," balasku pendek sebelum langsung mematikan sambungan.
Mendengar suara Risa justru membuat degup jantungku makin tidak beraturan. Ada apa dengan gadis itu? Selain belakangan ini makin rajin mengirim pesan singkat, sekarang dia bahkan meneleponku. Sikapnya bisa membuat siapapun salah paham.
Aku mengeringkan wajah dengan ujung jersey lalu melangkah keluar dari toilet. Namun, baru beberapa meter berjalan di selasar yang sepi, aku tertegun. Sosok gadis berkerudung rapi itu sedang bersandar di dinding. Begitu melihat keberadaanku, matanya berbinar dan dia langsung berjalan cepat menghampiriku.
"Ngapain lo di sini?" tanyaku, menyilangkan tangan di dada. "Sejak kapan cewek populer yang katanya alim punya hobi nongkrong di depan toilet cowok?"
"Kamu itu, ya!" Risa meninju lengan atasku gemas, pipinya sedikit merona. "Aku kan cuma khawatir sama kamu."
"Nggak usah khawatir. Gue baik-baik aja," balasku sambil mengangkat satu lengan, berpose memamerkan otot bisep secara berlebihan. "Gue lebih dari siap buat ngebantai mantan tim SMP gue."
Risa mengembuskan napas lega, senyum tipis terukir di bibirnya. "Syukurlah. Aku kira kamu bakal memasang raut wajah penuh beban dan sedih seperti waktu itu. Sekarang aku sedikit lebih tenang."
Risa melangkah mendekat, lalu tanpa ragu dia meraih kedua pergelangan tanganku dan membukanya—membuat kedua telapak tanganku mendongak ke atas dalam posisi berdoa.
"Kalau kamu merasa takut di lapangan nanti, ingat ini..." Risa menatap mataku dengan binar yang begitu bening. "Allah selalu bersama kita."
Aku menatap dua telapak tanganku yang terbuka, lalu menatap raut wajahnya yang sangat bersungguh-sungguh. Sebuah tawa pelan terkerek keluar dari tenggorokanku.
"Kenapa kamu malah tertawa?!" Risa menggembungkan pipinya kesal.
"Nggak... nggak," aku berdeham, mengubah ekspresiku menjadi luar biasa serius. "Bukannya kita berdua bukan muhrim, Ris? Atau... lo sengaja megang tangan gue karena mau gue jadi suami lo?"
"Astagfirullah!"
Risa seketika melepas cengkeramannya seolah tanganku baru saja dialiri listrik tegangan tinggi. Wajahnya memerah sempurna hingga ke ujung telinga. "Dasar Ravel mesum!"
Dia berbalik dan melangkah pergi dengan hentakan kaki yang gusar. Tawa riang yang sudah lama hilang dari dadaku akhirnya meledak bebas.
"Woi, Kepala Melon! Mau ke mana lo?!" teriakku dari belakang.
"Jangan panggil aku Kepala Melon!" teriak Risa tanpa menoleh, menjulurkan lidah di balik bahunya. "Padahal kemarin sudah janji! Ravel idiot!"
Melihat tingkahnya, gumpalan kecemasan di dalam dadaku perlahan terurai. Atmosfer kelam yang menghimpitku sejak pagi lenyap digantikan rasa hangat yang aneh.
Aku melangkah masuk ke dalam arena pertandingan dan bergabung di bangku cadangan. Suasana tribune sudah bergemuruh hebat. Ekhsan yang sudah mengenakan jersey kebanggaannya segera merangkul pundakku keras-keras.
"Lihat tuh, Vel! Gemuruh suaranya gila banget!" seru Ekhsan, merentangkan tangannya ke udara seolah dialah bintang utama acara ini. "Habis ini kita fix bakal jadi cowok paling populer se-kabupaten. Gue udah siap mental buat dikejar-kejar cewek dan ditagih tanda tangan!"
"Bakal populer sih iya, San," sahut Kak Farel yang sedang mengikat tali sepatunya di samping kami. "Tapi sayang banget, populernya tetap dalam status ditolak Risa."
Gelak tawa meledak seketika di antara para pemain. Ekhsan bersungut-sungut hendak membalas, namun Coach David segera menepuk tangannya keras-keras untuk mengambil alih kendali.
"Baiklah! Berkumpul semuanya!"