Cascade

Ribato
Chapter #39

Bab XXXVIII: Aku dan Ujian yang Mendekat

Masalah adalah sesuatu yang pasti akan kita temui selama bernapas. Namun sering kali, ketika gelombang itu akhirnya berlalu, kita justru terpaku saat menoleh ke belakang—terkejut melihat bagaimana kerumitan itu terurai dengan sendirinya oleh waktu.

Kabar burung tentang penembakan Putri yang tercium oleh Lia sempat menjadi bahan guncangan utama di sekolah selama hampir satu bulan. Di minggu-minggu awal, para siswi sibuk mempertanyakan selera Putri yang mendadak meluncur bebas, sementara para siswa sibuk menduga pikat gaib apa yang kupakai hingga gadis secantik Putri bisa bertekuk lutut. Namun, karena aku dan Putri memilih saling melempar tatapan asing dan bertindak seolah tak pernah ada apa-apa, isu panas itu perlahan kehabisan bahan bakar dan padam dengan sendirinya.

Apalagi ujian akhir semester sudah di pelupuk mata. Aku tidak boleh membiarkan fokusku terbelah. Senyum bangga Ibu adalah satu-satunya hal yang ingin kulihat saat penerimaan rapor nanti.

Pagi itu, kelas riuh seperti biasa. Di sudut depan dekat jendela, Putri sedang sibuk menyusun tripod ponsel untuk membuat konten video media sosialnya bersama Hanna. Sejak insiden di gudang itu, Putri seolah merobek habis topeng "gadis alim" yang dulu dipakainya. Dia tidak lagi berkumpul bersama Risa atau Lia, melainkan lebih sering memperagakan tarian tren internet bersama Hanna.

Aku memilih tak acuh, merapatkan pandangan pada buku catatan ringkasan materi yang kubuat semalaman.

Pintu kelas terbuka. Ekhsan melangkah masuk bersama Yogi dan Dodit. Begitu mataku dan Dodit beradu, sebuah kecanggungan tipis merayap di udara—membuat kami berdua refleks membuang muka. Sudah sebulan penuh kami hampir tak pernah bertukar sapa.

Melihat riak dingin itu, Ekhsan menghembuskan napas panjang lalu mengambil tempat di sampingku.

"Bakal lo biarin terus kayak gini, Vel?" bisik Ekhsan, menopang dagu dengan tangannya. "Ayolah, masa cuma gara-gara Putri kalian berdua jadi kayak orang musuhan?"

"Gue udah jelasin semuanya ke kalian," balasku datar tanpa mengalihkan mata dari lembar buku. "Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Putri. Kalau Dodit masih sengaja pasang tembok dan emosi, itu cuma membuktikan seberapa krisis kepercayaan dirinya sebagai cowok."

"Duh, omongan lo dingin banget," Ekhsan meringis pelan. "Ya emang dari dulu lo kayak es batu sih, tapi kan—"

"Daripada lo pusing mikirin itu, mending fokus belajar buat ujian akhir," potongku cepat. "Gue harus bertahan di lima besar kelas biar beasiswa gue nggak hangus. Mau belajar bareng gue?"

Raut wajah Ekhsan seketika berubah horor. Dia melompat dari kursinya seolah meja belajar itu baru saja dialiri arus listrik.

"Waduh, sorry banget nih, Vel!" seru Ekhsan sambil menggaruk lengannya yang sama sekali tidak gatal. "Gue punya alergi akut sama buku pelajaran. Kulit gue mendadak gatal-gatal kalau berdekatan sama deretan rumus. Gue balik ke belakang dulu!"

Ekhsan melesat kabur ke bangku belakang bergabung dengan Yogi dan Dodit. Aku hanya menggeleng pelan.

Tak lama, Irul berjalan mendekat dan mendaratkan satu tepukan mantap di bahuku. "Serius amat, Bro."

"Gue lagi berjuang buat masa depan," tanggapku. "Kapasitas otak gue nggak kayak Einstein seperti lo yang bisa menghafal tabel perkalian sampai 99 x 99 di luar kepala."

Wali kelas kami masuk sebentar hanya untuk mengumumkan bahwa jam pertama kosong karena para guru sedang rapat evaluasi. Kami diberi instruksi untuk belajar mandiri. Begitu pintu kelas kembali tertutup, suasana seketika pecah menjadi kegaduhan riang.

Ekhsan langsung mengeluarkan gitar akustik dari dalam tasnya dan mulai memetik senar sekenanya. Di meja sebelah, Risa menepuk pelan pundak Irul, menyodorkan buku catatan Fisika milik guru yang absen hari ini. Irul dengan senang hati menjelaskan rumus konversi energi dengan gamblang, seolah materi rumit itu hanyalah bacaan anak-anak.

Aku yang mendengarnya dari samping hanya bisa mendesah berat. "Gue benci banget sama Fisika dan Matematika."

"Matematika sama Fisika nggak seburuk itu kok, Vel," sahut Irul santai. "Asal lo paham konsep dasar dan turunan rumusnya—"

Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, tanganku sudah terulur membungkus rapat mulut Irul.

"Sekali lagi lo ngomong gitu, gue sumpal mulut lo pakai penghapus papan tulis," ancamku kesal. "Menghafal variabel X, Y, kecepatan, sama tekanan fluida itu udah cukup bikin tempurung kepala gue mau pecah."

Risa yang menyaksikan pertengkaran kecil itu terkekeh pelan. "Tenang, Ravel. Kalau kamu merasa kesulitan, aku bisa bantu mengajarimu."

Pandanganku beralih ke arah Risa. Mata kami beradu selama beberapa detik. Tatapan polosnya yang jujur mendadak membuat dadaku berdesir aneh. Refleks, aku membuang muka ke arah dinding, dan dari sudut mata kulihat Risa juga terburu-buru memalingkan wajahnya yang memerah.

Aduh, apa-apaan sih gadis ini? Bikin diabetes pagi-pagi saja.

Aku berdeham keras untuk menutupi kecanggunganku, mencoba kembali berpura-pura membaca.

Di saat yang sama, Ekhsan yang sedang memangku gitar mendadak bangkit, melangkah penuh percaya diri, lalu duduk santai di sudut meja Risa. Seluruh pasang mata di kelas mendadak tertuju padanya. Suasana kelas yang tadinya bising perlahan surut.

Ekhsan memetik senar gitarnya dengan petikan arpeggio yang begitu lembut dan teratur.

"Kutuliskan kenangan tentang... cara ku menemukan dirimu..."

Lihat selengkapnya