Cascade

Ribato
Chapter #40

Bab XXXIX: Aku dan Liburan

Orang-orang sering bilang, semakin keras kau mengejar sesuatu, semakin gencar sesuatu itu berlari menjauhimu. Keinginan yang terlalu menggebu kerap berakhir menjadi abu.

Contoh hidupnya ada pada Dodit dan Irul—dua manusia yang selalu babak belur dalam urusan asmara. Irul pernah bersorak gembira saat penembakannya diterima seorang gadis, hanya untuk dihantam kenyataan pahit seminggu kemudian lewat kalimat: "Aku nerima kamu cuma karena kasihan, Rul. Nggak beneran suka." Sementara Dodit? Dia menembak orang yang salah dan memanen hinaan yang menguliti harga dirinya.

Bagi diriku sendiri—yang menggantungkan hidup demi membuat Ibu tersenyum—satu-satunya hal yang layak dikejar mati-matian adalah nilai.

Begitu Ibu meletakkan lembar rapor di atas meja belajar, aku membawanya masuk ke kamar. Kupandangi barisan angka yang didominasi angka sembilan. Hanya mata pelajaran Agama yang mendapat angka tujuh, sementara Matematika dan Fisika tertahan di angka delapan. Pandanganku bergulir turun menuju bagian bawah lembar kertas kaku itu: Peringkat Paralel: 5.

Memang, beasiswaku aman. Sekolah membebaskan biaya SPP bulanan untuk murid yang bertahan di peringkat satu hingga sepuluh. Namun, melihat angka lima melingkar di sana, ada rasa sesak yang menyelusup pelan di dada. Aku gagal menjadi yang terbaik.

Bzzzt... Bzzzt...

Ponsel di atas kasur bergetar hebat. Nama "Irul Buncit" tertera di layar. Kuantumkan jemari menggeser ikon hijau lalu menempelkan ponsel ke telinga.

"Peringkat berapa lo?" tembakku tanpa basa-basi.

"Bisa santai nggak, Cuk? Ini masih pagi, udah main tembak nilai aja!" gerutu Irul di seberang telepon.

"Udah, jawab aja!" cecarku gusar.

"Ya... pokoknya masuk sepuluh besar lah. Ngomong-ngomong—"

"Sebut angkanya, Irul!"

"Elah, maksa amat! Gue mau ngomongin—"

"Peringkat satu, kan?"

Hening sejenak. Irul mendesah berat. "Iya! Gue peringkat satu paralel! Puas lo?! Yang lebih penting tuh gue mau ngomong sesuatu dari tadi, dipotong mulu. Ntar gue aduin Risa lo!"

"Ngapain bawa-bawa Risa?" alisku menukik tajam.

"Habisnya lo menyebalkan! Gini, anak-anak udah pada janjian mau nonton bioskop bareng buat refreshing habis ujian. Acara tiga hari lagi. Lo wajib ikut! Lumayan kan, bisa memotong waktu libur seminggu lo buat ketemu Risa?"

"Oh. Oke."

Klik.

Aku langsung mematikan sambungan dan melempar ponsel ke kasur. Namun, belum ada sepuluh detik, ponsel itu kembali melengking nyaring.

"Apa lagi?" tanyaku begitu menggeser tombol hijau.

"Jahat banget lo main matikan gitu aja!" protes Irul setengah menjerit. "Ayolah, Vel, ikut! Gue tuh mau sekalian PDKT sama Faiza. Masa di sana cuma ada gue cowok sendiri bareng Faiza, Risa, sama Lia? Bisa canggung setengah mati gue!"

Aku memijat pangkal hidungku. "Oke, oke. Gue bantuin. Lo bener-bener merepotkan, ya. Terpaksa dua hari ini gue harus buka jasa jockey game lagi buat nyari uang jajan. Jadi, tiga hari lagi, kan?"

"Sip! Thanks, Bro!"

Panggilan terputus. Aku menatap layar ponsel yang kembali redup. Iseng, jemariku menggeser layar menuju aplikasi pesan singkat, lalu membuka deretan pembaruan status. Sebenarnya, aku sudah menyembunyikan status Risa agar hatiku tidak terus-terusan goyah. Namun, sebuah unggahan berlatar putih polos tanpa tulisan memicu rasa penasaran.

Jemariku mengetuk gambar itu.

Dugaanku tepat. Itu adalah foto lembar rapor Risa dengan deretan angka mengagumkan. Peringkat dua paralel. Di bagian bawahnya, tertulis barisan kalimat rapi: “Alhamdulillah, usaha tidak pernah mengkhianati hasil.”

Aku menahan layar dengan jempolku untuk membaca lebih detail. Namun, nasib sial bekerja sangat cepat. Ibu jariku tergelincir dari tepi layar dan tanpa sengaja menekan ikon reaksi berbentuk hati merah tepat di unggahan Risa.

Mati gue!

Panik menembus kepalaku. Aku terburu-buru membuka obrolan pribadi, bermaksud menghapus jejak kebodohan itu. Namun, sebelum jemariku sempat mengetik, dua centang biru mendadak berubah warna dan pesan masuk meluncur kilat.

Risa:

Lihat selengkapnya