Cascade

Ribato
Chapter #41

Bab XXXIX: Aku dan Liburan (Bagian II)

Ucapan Lia barusan jatuh bagaikan dentum bom yang merusak seluruh ketenangan yang kubangun.

Melihat bola basket yang baru saja menghantam kepalaku memantul di lantai, Lia tidak bisa menahan senyum tipis di bibirnya. Dia ikut berjongkok di sampingku, melirik sebentar ke arah Risa dan Ekhsan yang masih kejar-kejaran konyol di arena permainan lain.

"Karena duduk tepat di belakang lo tiap hari, gue jadi sering merhatiin mata lo yang suka curi-curi pandang ke Risa," bisik Lia datar. "Gue tahu banyak cowok yang mengincar Risa. Tapi jujur, gue nggak nyangka kalau seorang Ravel yang dingin juga masuk di daftar itu."

Aku bangkit berdiri, mengelus pelipis yang terasa nyut-nyyutan, lalu mengambil bola basket yang tergeletak. Entah kenapa, hari ini rasanya terlalu repetitif dan membuat dadaku sesak.

"Asal lo tahu, gue nggak punya perasaan apa-apa sama Risa," balasku dingin sebelum melontarkan bola ke keranjang. Swish. "Gue ini orang yang realistis. Mana mungkin gue buang waktu menyukai cewek yang sudah jelas bakal nolak gue seratus persen."

Lia mengangguk-angguk pelan. "Bener sih... Ekhsan yang sepopuler dan setampan itu saja terus-terusan ditolak. Apalagi lo. Sorry ya kalau tebakan gue melenceng. Gue sempat mikir lo hajar Kak Andra waktu itu karena cemburu masalah Risa."

"Lo gila," dengusku ketus. "Konyol banget kalau gue nekat ngelakuin hal berbahaya cuma gara-gara cewek."

Setelah menguras beberapa koin di arena permainan, aku berjalan menuju deretan kursi kayu dan mendaratkan bokongku di samping Dodit yang juga tampak kelelahan. Namun, belum ada satu detik bokongku menyentuh dudukan empuk itu, Dodit mendadak berdiri kaku.

Melihat tingkah anak itu yang terus-terusan tantrum selama beberapa bulan terakhir membuat kesabaranku mengikis.

"Ngapain lo? Salah minum obat?" tanyaku menatapnya tajam.

"Pengkhianat..." bisik Dodit penuh kebencian. Dia menatapku jijik sebelum melenggang pergi mendekati Putri.

Genggaman tanganku mengepal erat di atas pangkuan. Pengkhianat. Apakah aku memang seperti itu di matanya?

Mungkin... benar. Aku memang tidak ada bedanya dengan Ibu.

Awalnya, aku berteman dengan mereka hanya karena tidak ingin kembali menjadi sasaran bullying seperti saat SMP. Setiap obrolan konyol, waktu yang terbuang, dan aktivitas bersama mereka terasa sangat memuakkan bagiku. Namun seiring berjalannya waktu, pertahanan itu goyah. Hubungan yang kupikir hanyalah transaksi simbiosismutualisme—di mana aku membantu tugas sekolah mereka dan aku menumpang perlindungan dari kepopuleran mereka—perlahan berubah warna.

Saat mereka pasang badan menolongku ketika dihajar oleh Andra dan gengnya, untuk pertama kalinya aku berpikir bahwa mereka adalah sahabat sejati, sama seperti Irul.

Tapi aku salah besar. Pada akhirnya, ego dan kecemburuan atas seorang wanita sanggup meremukkan segalanya dalam sekejap.

Waktu menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit. Kami sudah berdiri di depan area bioskop, menunggu pintu studio teater dibuka. Namun, suasana di antara kami terasa tegang.

Risa mendadak menghilang. Lia terus menatap layar ponselnya, mengirim pesan berulang kali dengan raut wajah kian gusar.

"Ke mana sih nih anak?" gerutu Lia seraya menghentakkan tumit sepatunya ke lantai. "Tiba-tiba ngilang nggak ada kabar!"

Beberapa menit sebelum pintu teater resmi dibuka, Risa akhirnya muncul dari belokan koridor sambil melambaikan tangan polos. Lia langsung menyergapnya.

"Dari mana aja sih lo?! Tiba-tiba ngilang gitu aja!"

"Itu... aku tadi cuma—"

Kalimat Risa terputus oleh suara dentang pengumuman dari pengeras suara bioskop yang memanggil penonton Teater 3. Kami membeli tiket film horor dan memilih deretan kursi E di barisan tengah.

Posisinya tersusun rapi: Risa duduk di paling ujung dekat tangga jalan, diikuti Ekhsan, Lia, aku, Putri, Dodit, Irul, dan Faiza di ujung kanan.

Lampu studio perlahan dipadamkan, menggantinya dengan kegelapan pekat saat film dimulai. Semua orang fokus menatap layar lebar, sampai sebuah adegan jump scare mengejutkan meledak dari pengeras suara.

Srek!

Putri refleks mencengkeram erat pundakku. Dari sudut mata, kulihat Dodit melempar tatapan membunuh dalam kegelapan. Di sisi lain, Irul sengaja menempelkan bahunya ke lengan Faiza—yang dibalas dengan gestur tubuh Faiza yang tampak sangat kaku dan tidak nyaman. Sementara itu, Risa mati-matian menggeser tubuhnya ke kanan, menghindari Ekhsan yang berpura-pura ketakutan agar bisa bersandar padanya.

Begitu adegan menakutkan itu berlalu, Risa mendorong bahu Ekhsan, dan aku pelan-pelan menepis jemari Putri dari pundakku.

Di pertengahan film, aku menyadari Risa sama sekali tidak fokus. Layar ponselnya berkali-kali menyala redup di dalam kegelapan. Tanpa pamit pada yang lain, gadis itu mendadak bangkit dan berjingkat keluar dari studio teater.

Aku melirik jam tangan digital di pergelangan tanganku: pukul 18.15 WIB.

Sambil menghela napas, aku ikut bangkit dari kursi dan menyusul langkah Risa ke luar.

"Ris!" panggilku saat melihat Risa berjalan cepat di lorong bioskop yang sepi.

Risa menghentikan langkahnya dan menoleh heran. "Ravel? Kenapa kamu keluar?"

"Lo mau shalat Maghrib, kan?" tembakku langsung.

"Iya," jawab Risa mengangguk mantap. "Sudah masuk waktunya. Aku nggak mau terlambat."

Lihat selengkapnya