Kesibukan OSIS yang menyebalkan selalu menyapa tepat saat hari pertama masuk sekolah setelah liburan. Untuk mencairkan kejenuhan pasca-uji semester, kami menggelar classmeeting. Empat cabang olahraga dilombakan: basket, futsal, voli, dan tenis meja. Total ada dua puluh satu kelas—termasuk tingkatan kelas tiga—yang siap bertarung.
Daya tarik utamanya adalah hadiah khusus berupa speaker aktif untuk kelas yang berhasil menyabet gelar juara di tiga kategori sekaligus. Namun, demi menjaga keadilan, panitia menerapkan aturan ketat: siswa yang terdaftar sebagai anggota ekstrakurikuler dari cabang olahraga terkait dilarang keras ikut berpartisipasi.
Pagi itu, suara Kak Auliyah bergema melalui pengeras suara di tengah lapangan utama.
"Perhatian untuk seluruh perwakilan kelas! Pertandingan akan segera dimulai! Bagi peserta cabang basket, harap berkumpul di aula indoor. Peserta voli menuju lapangan depan, dan peserta futsal segera bersiap di lapangan belakang!"
Aku berdiri di pinggir lapangan futsal belakang gedung sekolah bersama Risa, memperhatikan kerumunan siswa yang mulai memenuhi bangku penonton. Laga pembuka hari ini mempertemukan kelas kami dengan kakak kelas tingkat tiga.
Dari kejauhan, Irul berlari terengah-engah mendekatiku.
"Vel! Lo nanti ikut main futsal bareng gue!" seru Irul cepat.
Aku menatapnya tajam. "Woi, kan udah gue bilang jangan masukin nama gue ke daftar mana pun! Gue masih sibuk ngurusin operasional OSIS."
"Ya gimana lagi? Yang nyatet nama lo sama gue kan si Yogi!" sahut Irul membela diri.
"Wah, emang bajingan si Yogi," umpatku gusar.
Puk!
Sebuah tepukan pelan tapi mantap mendarat di lenganku. Risa menatapku dengan alis menukik. "Ravel, enggak boleh mengumpat seperti itu."
"Bising lo, Sa," balasku ketus seraya melepaskan almamater OSIS dan melemparnya sembarangan ke atas bangku penonton. "Argh... ya sudahlah! Main tinggal main ini."
Aku melangkah masuk ke area lapangan semen bersama Irul, Dodit, Ekhsan, dan satu kawan sekelas lainnya. Irul mengambil posisi sebagai penjaga gawang—pilihan realistis karena dia malas banyak berlari.
Peluit pertanda kick-off dibunyikan. Namun, sejak menit pertama, ketimpangan langsung terasa. Setiap kali menguasai bola, Ekhsan maupun Dodit sengaja memalingkan muka dan menolak mengoper bola ke areaku. Mereka lebih memilih memaksakan umpan terobosan yang mudah dipotong lawan atau menembak spekulatif dari jarak jauh.
Kerja sama tim kami hancur lebur. Tak butuh waktu lama bagi tim kelas tiga untuk membantai kami dengan skor menyedihkan.
Begitu peluit panjang dibunyikan, Yogi—selaku ketua kelas—menghampiri kami di pinggir lapangan dengan wajah merah padam.
"Kalian bertiga sebenarnya niat main nggak sih?!" cecar Yogi gusar.
"Niatlah. Memangnya kita kenapa?" balas Dodit santai sambil meneguk air mineral.
"Astaga..." Yogi mengacak-acak rambut keritingnya yang basah oleh keringat. "San, Dod! Kenapa dari tadi kalian sama sekali nggak mau ngoper bola ke Ravel?!"
Ekhsan dan Dodit sempat membeku sejenak mendengar teguran langsung itu.
"Cuma perasaan lo aja kali, Yog. Kami tetap ngoper kok," sahut Ekhsan berkilah.
"Nggak, itu bukan cuma perasaan Yogi," potong Dodit dengan nada dingin yang menusuk. "Buat apa gue ngoper bola ke seorang pengkhianat?"
"Kalian ini sebenarnya kenapa sih?" Yogi mengerutkan dahi, bingung menatap ketegangan yang mendadak membeku di antara kami.
Aku menghembuskan napas panjang. Pemandangan ini sungguh memuakkan. Selama beberapa bulan terakhir, kami hanya berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja di depan orang lain. Padahal, retakan yang tercipta sejak insiden itu semakin menganga lebar.
Sedari awal, aku memang tidak pernah berharap hubungan pertemanan ini menjadi sesuatu yang abadi. Jika pada akhirnya harus hancur, lebih baik sekalian kubakar sampai menjadi abu daripada terus berpura-pura.
"Mereka bertingkah konyol begini cuma gara-gara cewek," letupan kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku.