Cascade

Ribato
Chapter #43

Bab XLII: Aku dan Cermin yang Bisu

Kejujuran sering kali menjadi bilah pisau yang menyayat tanpa kompromi. Katanya, kebenaran akan membebaskan, tetapi bagiku kebenaran hanya meninggalkan puing-puing kehancuran.

Sebulan berlalu sejak pertengkaran hebat di lapangan futsal saat classmeeting, dan suasana di dalam kelas masih terasa sedingin es. Garis batas tak kasat mata kini terbentang jelas. Ekhsan tak lagi menoleh ke arah mejaku, Dodit sengaja memutar jalan setiap kali melewati sudut bangkuku, dan Yogi hanya menyapa seperlunya jika ada urusan administratif kelas.

Aku tidak peduli. Untuk apa meratapi pertemanan rapuh yang hancur hanya karena ego dan urusan perempuan? Namun, seolah belum puas mengujiku, siang itu Irul—bocah yang biasanya menempel padaku—malah memilih duduk di bangku paling belakang, meninggalkanku sendirian di barisan tengah.

Hari itu, jam pelajaran Agama Islam diampu oleh Pak Imam. Beliau berdiri di depan papan tulis, menjelaskan bab salat mengenai tata cara makmum masbuk dengan nada suaranya yang tenang namun berwibawa.

"Baiklah, Anak-anak. Sebelum Bapak melanjutkan materi, Bapak ingin mengetes satu per satu hafalan bacaan salat kalian," ujar Pak Imam seraya meletakkan spidolnya.

Desah napas berat langsung terdengar dari beberapa sudut ruangan. Biasanya, dalam situasi terdesak seperti ini, Irul akan duduk di sampingku dan membisikkan bacaan ayat demi ayat. Namun kali ini, dia berada jauh di jangkauan. Aku terisolasi.

Satu per satu siswa mulai berdiri dan melafalkan bacaan salat. Hingga akhirnya, langkah kaki Pak Imam berhenti tepat di samping mejaku.

"Coba Nak Ravel, baca doa Iftitah," pinta Pak Imam lembut.

Aku menegakkan tubuh. Lidahku mendadak kufur. Aku mengutip bait awal doa Iftitah dengan ragu, namun begitu mencapai pertengahan, ingatanku mendadak kosong. Suaraku terputus di udara, menyisakan keheningan yang menyiksa.

Pak Imam memicingkan mata, menatapku lurus dengan pandangan menyelidik. "Apa Nak Ravel belum menghafal bacaan salat?"

Pertanyaan sederhana itu menghantam kesadaranku tepat di dada. Memang benar. Sejak kecil, aku hanya menghafal doa ruku dan sujud. Selebihnya, aku hanya menggumamkan kata-kata acak—bahkan terkadang terbesit ketakutan konyol jika bacaan asalku justru memanggil hal-hal buruk.

Aku menundukkan kepala, mengikis sisa-sisa keangkuhanku. "Maafkan saya, Pak. Saya... tidak menghafal bacaan salat."

Seketika, gelak tawa dan kasak-kusuk riuh pecah di seluruh penjuru kelas. Beberapa murid menatapku dengan pandangan meremehkan.

"Sudah! Berhenti!" suara tegas Pak Imam seketika membungkam riuh rendah kelas. "Tidak ada yang lucu dari seseorang yang jujur mengakui keterbatasannya. Yang terpenting adalah keberanian dan kemauan untuk belajar."

Pak Imam menepuk bahuku pelan. "Ravel, kamu tahu tentang ekstrakurikuler mengaji di sekolah kita?"

"Tapi Pak, saya ada jadwal latihan bas—"

"Risa," potong Pak Imam tanpa mengalihkan pandangannya dariku. "Bukankah kamu ketua ekstrakurikuler mengaji?"

Dari barisan depan, Risa berdiri dan mengangguk sopan. "Iya, Pak."

"Bapak minta tolong bantu Ravel nanti, ya. Ajari dia bacaan salat dengan benar agar dia tidak menjadi pemuda yang tersesat," Pak Imam kembali menatapku seraya terkekeh pelan. "Kamu harusnya bersyukur, Ravel. Bapak beri kamu mentor seorang gadis yang santun. Jangan lupa datang hari Minggu nanti."

Pak Imam kembali ke depan kelas untuk melanjutkan materi. Aku memutar kepala ke belakang. Risa sedang menatapku; dia mengukir senyum tipis lalu melambaikan tangannya pelan, seolah pertengkaran dan kalimat kasarku padanya tempo hari tak pernah terjadi.

Gadis ini memang memiliki kebaikan yang kelewat batas. Pantas saja banyak pria yang terlena lalu berakhir menjadi pecundang yang terabaikan. Aku segera membuang muka, memilih menatap papan tulis hingga bel istirahat berbunyi.

Saat bel berbunyi, aku langsung bangkit untuk menuju kantin. Risa berjalan melewatiku, memberikan tepukan lembut di bahuku seraya tersenyum manis.

"Ravel, jangan lupa hari Minggu, ya," ucapnya pelan sebelum berlalu keluar kelas bersama Lia.

"Iya, Bebeb Ravel... jangan lupa ya hari Minggu nanti kencan di ekstra mengaji~" sebuah lengan mendadak merangkul leherku dari belakang.

Rasa jengkel yang menumpuk sejak pagi membuat refleksku bekerja cepat. Aku mengepalkan tangan dan melayangkan sikut keras tepat ke perut Irul.

Bugh!

"Bacot lo, Rul!" umpatku tajam.

Irul seketika bersimpuh di lantai koridor, memegangi perutnya dengan wajah meringis dramatis. "Aduh... tega banget lo sama sahabat sendiri! Sadis lo, Vel!"

Dia bangkit perlahan seraya memandangi wajahku. "Harusnya lo senang bisa punya waktu lebih banyak bareng Risa. Atau... lo sebenarnya lebih suka kalau dipasangin sama Putri?"

Lihat selengkapnya