Ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa kau hindari. Ban motor yang mendadak gembos di tengah jalan, rantai putus saat buru-buru, atau hujan deras yang mengguyur tepat dua menit setelah kau selesai menjemur pakaian.
Bagi diriku sendiri, ekstrakulikuler mengaji di hari Minggu adalah mimpi buruk yang tak terelakkan itu.
Kau tahu rasanya dibombardir ratusan pesan singkat yang menagih hal sama setiap jam? Sungguh mengganggu dan memuakkan. Selama seminggu penuh, Risa Andrisa tidak berhenti menerorku. Karena aku tidak pernah membalas, terornya berlanjut dengan serbuan stiker animasi kucing yang memohon-mohon.
Pada akhirnya, pertahananku runtuh. Dan di sinilah aku sekarang—berdiri di pelataran sekolah pada hari Minggu pagi.
Latihan basket baru dibuka sebulan lagi. Tanpa alibi latihan fisik, aku kehilangan alasan untuk menolak. Begitu mematikan mesin motor di area parkir yang sepi, rasa lelah dan enggan langsung menggelayuti seluruh sendiku.
"Ini hari Minggu. Nggak ada jadwal latihan basket. Harusnya gue di kamar, leyeh-leyeh," gerutuku seraya mengusap tengkuk.
Aku memutar tubuh, berniat membatalkan niat dan kembali pulang. Namun tepat di gerbang utama, sosok Risa muncul dengan seragam ekstrakulikulurnya. Gadis itu menyadari keberadaanku dan langsung melambaikan tangan dengan binar cerah.
Bahaya. Aku cepat-cepat menggelengkan kepala agar tidak goyah, lalu mempercepat langkah kembali ke parkiran. Namun, suara langkah kaki setengah berlari menyusulku dari belakang.
"Mau ke mana, Ravel? Ruang mengajinya di sebelah sana!" Risa menunjuk ke arah koridor gedung utama.
"Entahlah. Tiba-tiba punggung gue encok," balasku asal tanpa menghentikan langkah. "Kayaknya gue alergi mengaji. Mending gue pulang sebelum mendadak pingsan."
Sret!
Risa melompat dan berdiri menghadang di depanku. Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membusungkan dada, lalu menggembungkan kedua pipinya hingga memerah.
Raut wajahnya saat berusaha bersikap galak justru terlihat menggemaskan. Sekilas, terbersit dorongan konyol di kepalaku untuk mencubit pipinya keras-keras sampai dia meringis.
"Jangan beralasan terus!" protesnya seraya menghentakkan kaki pelan. "Kamu udah sampai di sini, jadi harus masuk! Lagipula aku kirim pesan seminggu ini nggak pernah kamu balas. Kamu sengaja mematikan fitur centang biru kan biar kelihatan belum dibaca?"
Aku sedikit terkejut. Gadis yang kukira polos tanpa dosa ini ternyata cukup jeli membongkar trik murahanku.
Meski begitu, membayangkan diriku duduk terbata-bata mengeja huruf di depan orang banyak membuat perutku mual. Di lapangan basket, aku tahu cara menggiring, mengoper, dan melakukan lay-up. Tapi mengaji? Itu teror murni. Aku cuma tahu Alif, Ba, Ta, Tsa... Sisanya? Apa itu simbol mirip huruf 'W' di atas huruf, atau bentuk melengkung seperti atlet lompat indah? Belum lagi ada istilah Arab gundul—memangnya huruf-huruf itu sedang diosis sampai harus digunduli?
Saat pikiranku liar membayangkan hal-hal aneh, sebuah telapak tangan kecil melambai-lambai di depan mataku.
"Ravel... Ravel! Dengerin aku nggak sih? Kenapa malah melamun?" Risa bertolak pinggang.
Aku menghela napas pasrah. "Lo itu... kenapa sih seniat ini ngurusin gue? Lo naksir gue, ya? Bahaya lho, jangan suka sama cowok kayak gue."
Risa tertawa kecil, memiringkan kepalanya. "Naksir? Kamu ini bicara apa sih. Aku menganggapmu teman, Ravel. Lagipula pacaran saat sekolah itu tidak boleh."
"Terus kenapa lo ngotot banget?"
"Soalnya..." Risa mengukir senyum yang teramat tulus. "Setiap kali kita mengajak orang dalam kebaikan, Allah bakal melapangkan jalan kita di dunia. Kamu nggak mau jalannya dipermudah?"
Mendengar mukadimah ceramah yang mulai berbusa, aku mengibarkan bendera putih. "Iya, iya. Ayo ke kelas."
Kami berjalan bersisian menyusuri koridor sunyi menuju kelas agama.
Ekstrakulikuler mengaji yang kabarnya dulu hanya diikuti lima orang, kini berkembang pesat. Ada sekitar tiga puluh siswa dari tingkatan kelas satu sampai tiga yang berkumpul. Dan di antara kerumunan itu... Ekhsan tampak sedang duduk santai.
Ngapain si Ekhsan ikut acara beginian? batinku heran.