Cascade

Ribato
Chapter #45

Bab XLIV: Aku dan Benteng yang Kita Bangun

Ada sebuah pepatah yang pernah kudengar: Beri kekasihmu setangkai bunga, dan dia tetap punya seribu alasan untuk mengkhianatimu. Beri temanmu sebatang rokok, dan dia akan rela merampok bersamamu.

Bagiku, kedua perumpamaan itu sama-sama bodoh.

Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya selain dirimu sendiri, dan tidak ada tempat bergantung yang cuma-cuma. Semua hal memiliki harga yang harus dibayar.

Jadwal latihan basket kembali bergulir. Karena perjanjian di awal tahun ajaran, aku terikat untuk terus bermain sampai naik ke kelas dua. Sekolah kami menerima undangan resmi untuk bertanding di Kejuaraan Nasional setelah berhasil menyabet gelar juara daerah tahun lalu. Masalah utamanya cuma satu: hubunganku dengan Ekhsan sudah hancur lebur. Bagaimana bisa dua orang yang bahkan enggan saling tatap berada di satu lapangan dan membela tim yang sama?

Entah sudah berapa kali aku menghela napas panjang sore ini. Langkah kakiku terasa seberat timah saat menyusuri koridor menuju aula indoor.

Sret!

Seseorang mendadak menjegal belakang lututku dari balik pilar, membuat tubuhku kehilangan keseimbangan dan hampir tersungkur.

Aku memutar tubuh dengan kemarahan yang membumbung, namun sosok gadis yang berdiri bersedekap di depanku seketika memotong kalimat umpatanku.

"Kenapa muka lo malas-malasan gitu, Manusia Purba?" cibir Putri dengan dagu terangkat.

Aku mengusap celana seragamku yang berdebu. "Berhenti memanggil gue 'manusia purba'."

"Melihat ekspresi lo yang lesu begitu, gue jadi heran... inikah cowok yang dapat gelar top scorer waktu kejuaraan daerah kemarin?" Putri memiringkan kepalanya, melempar tatapan menilai yang menyebalkan.

"I-itu cuma kebetulan," balasku defensif.

"Jadi... si Manusia Purba ini ternyata lagi galau gara-gara dibuang dari kawanannya?"

"Gue nggak galau," tegasku, menatapnya lurus. "Lagipula dari dulu gue nggak pernah butuh kawanan."

"Iya, iya... gue percaya deh," Putri melangkah maju, memangkas jarak di antara kami hingga aroma wangi tubuhnya merayapi indra penciumanku. "Seorang Ravel Andri, bocah sok tangguh yang merasa bisa menghadapi seluruh isi dunia sendirian... tapi kenapa sekarang malah memasang raut wajah memuakkan begitu?"

Aroma parfumnya yang begitu dekat sempat mengacaukan konsentrasiku. Perempuan ini benar-benar berbahaya jika dibiarkan terlalu dekat.Aku menarik tubuhku mundur satu langkah, berusaha merebut kembali kendali.

"Tapi orang dengan raut memuakkan ini pernah bikin lo jatuh cinta, kan?" tembakku seraya mengusap hidung, memasang senyum miring terbaikku.

Bugh!

Satu tendangan telak dari ujung sepatu olahraganya mendarat di tulang keringku.

"Aduh! Sakit, Woi!" ringisku sambil memegangi kaki.

"Nggak lucu," bisik Putri pelan.

Raut wajahnya yang mendadak berubah dingin dan redup menyisakan kecanggungan tipis. Tanpa membalas perkataanku lagi, dia berbalik dan melangkah masuk ke dalam aula. Dari belakang, kulihat gantungan pelindung headset berbentuk cangkang kerang itu masih terpasang rapi di ritsleting tas sekolahnya—sebuah peninggalan kecil yang membawa kilas balik singkat, meski tak lagi berarti banyak bagiku.

Anehnya, hinaan pedas dari Putri justru berhasil mengikis sedikit rasa malas di dadaku. Aku menghela napas, lalu menyusul masuk ke dalam aula.

"Wah, top scorer kita akhirnya datang!" seru Kak Andre, senior kelas dua, begitu melihatku melangkah melewati pintu tebal aula.

Beberapa anggota tim langsung menyambar tas olahragaku dan mendorongku ke tengah lapangan untuk melakukan pemanasan ringan sebelum Coach David datang. Dan seperti lelucon buruk yang sudah kutebak, aku dimasukkan ke dalam tim yang sama dengan Ekhsan untuk melawan tim Kak Farel.

Sepanjang sesi scrimmage, Ekhsan benar-benar menganggapku seperti hantu. Dia menolak melempar bola ke arahku, bahkan saat aku berdiri sepenuhnya tanpa pengawalan di luar garis tiga poin. Dia lebih memilih memaksakan drive keras menembus dua pemain lawan daripada harus membagi bola padaku.

Akibat keberadaan ego di lapangan, tim kami dihajar habis-habisan hingga peluit melengking milik Coach David menghentikan permainan.

"Cukup! Berkumpul semuanya!" teriak Coach David seraya menepuk tangannya keras-keras. Suara gema tepukannya memantul di dinding aula yang tinggi.

Kami semua berlari kecil mendekatinya.

Coach David menyapu pandangan ke arah kami dengan mata tajamnya. "Sebelum saya menyampaikan agenda penting, lari memutari aula dua puluh kali dari sekarang! Siapa pun yang finish di barisan paling belakang dapat bonus lima putaran. Lakukan!"

Lihat selengkapnya