Sempurna. Hanya kata itu yang sanggup melukiskan bagaimana tim kami melibas lawan demi lawan.
Pertandingan tingkat nasional adalah panggung tertinggi yang diimpikan setiap pebasket usia sekolah. Di arena inilah para juara dari tiap provinsi dikumpulkan untuk membuktikan siapa yang layak berada di puncak. Sudah seminggu kami berada di luar kota, merangkai kemenangan demi kemenangan hingga berhasil menembus babak semifinal.
Meski begitu, perjalananku di luar lapangan tidak semulus strategi permainan kami. Selama seminggu ini, hubunganku dan Ekhsan bagaikan dua garis sejajar yang tak pernah bersinggungan. Kami tidak pernah saling sapa, tidak saling tatap, dan hanya bertukar isyarat kaku saat Coach David mengawasi di lapangan.
Pagi itu, saat aku sedang merapikan tali sepatu olahragaku di kamar hotel, ponsel di atas meja bergetar pendek. Sebuah pesan masuk. Aku menggeser layarnya, menemukan nama Risa di sana.
Apa-apaan gadis ini? batinku heran.
Begitu kubuka, tampak sebuah foto selfie grup. Risa tersenyum lebar di depan kamera bersama Putri, Irul, Faiza, dan Lia. Di bawah foto itu tertera baris kalimat singkat: Kami sudah di lobby hotel!
Aku bergegas turun menggunakan lift menuju lobi utama. Benar saja, rombongan konyol itu sedang duduk santai di sofa area penerima tamu.
"Ngapain kalian ke sini?" cetusku langsung begitu berdiri di depan mereka. "Pertandingan kan baru mulai satu jam lagi."
Putri menyeringai sinis seraya menyandarkan punggungnya. "Gue yang ngajak mereka. Daripada lo makin loyo dan ngacauin tim kayak waktu itu, mending gue bawain Juliet lo ke sini biar lo makin termotivasi."
"Juliet...?" Risa memiringkan kepalanya polos, menatap Putri bingung.
Aku menepuk jidatku sendiri. "Nggak usah didengar, Ris. Dia cuma ngelindur."
"Karena kita sudah sampai di hotel megah ini, gimana kalau kita jalan-jalan keliling dulu?" usul Putri seraya bangkit berdiri.
"Terserah kalian mau keliling ke mana. Gue mau balik ke kamar," balasku acuh, memutar tubuh.
Namun sebelum aku melangkah, Putri sudah lebih dulu menyambar kerah jaketku dari belakang, menarikku hingga berhadapan kembali dengan Risa.
"Lo temenin Risa aja, Vel," bisik Putri dengan senyum miring yang mengesalkan, lalu mengedipkan sebelah matanya padaku. "Biar kami sisanya yang keliling sendirian."
"Ide bagus tuh!" Irul ikut menimpal seraya mengacungkan jempol. "Risa tadi bilang penasaran sama area taman hotel ini. Mending lo ajak dia jalan-jalan. Gue sama yang lain mau ke atas ketemu Ekhsan."
Tanpa memberi kami kesempatan memprotes, Irul dan Putri mendorong bahuku dan Risa secara halus menuju pintu kaca yang mengarah ke taman dalam hotel, sementara mereka buru-buru melangkah menuju lift.
Keheningan mendadak menyergap. Suasana di antara kami berubah canggung secara instan.
Aku berdeham pendek, berpura-pura menatap ke arah kolam ikan di tepi jalan setapak. "Mereka tuh memang selalu semena-mena. Lo juga harusnya jangan mau-mau aja diajak ke sini. Lihat kan sekarang, lo jadi ketiban sial gara-gara ditinggal sendirian bareng gue."
"Kenapa sial?" Risa menoleh padaku, mengukir senyumnya yang paling murni. "Aku malah senang kok kalau sama kamu."
Deg.
Kalimat sederhana itu menghantam dadaku tanpa ampun. Jika aku adalah sebuah mesin, detik ini juga seluruh sirkuit di dalam kepalaku pasti sudah mengalami overheat dan mati total.
Namun aku segera menepis getaran konyol itu. Gadis sepolos Risa tentu mengucapkan kata 'senang' dalam artian yang paling polos—senang sebagai seorang teman. Tidak lebih.
"Ya sudah," gumamku berusaha menjaga nada suaraku tetap datar. "Gue ajak lo ke restoran hotel dulu. Cari sarapan."
Aku membawanya ke area prasmanan. Risa mengambil beberapa potong roti manis dengan bentuk karakter kartun yang menggemaskan, sedangkan aku hanya mengambil mangkuk bubur ayam dan segelas yogurt. Kami duduk berhadapan di meja kayu dekat jendela kaca besar yang menghadap ke taman.
Dengan raut wajah yang tampak sangat menikmati momen, Risa membelah roti berbentuk kelinci di tangannya lalu memasukkannya pelan ke dalam mulut.
Ini adalah kali pertama aku bisa memperhatikannya makan dari jarak sedekat ini. Jemarinya yang lentik, caranya mengunyah yang anggun dan tertata rupa, hingga gerakan kecil kepalanya yang bergoyang pelan saat mengecap rasa manis roti itu—segalanya terasa begitu alami. Di detik ini, aku akhirnya benar-benar paham kenapa pria seperti Ekhsan sanggup berbuat nekat demi mendapatkan perhatiannya.