Adakalanya seseorang baru bisa mengerti setelah saling membuka hati dan bicara jujur. Sayangnya, aku cukup bodoh dalam hal semacam itu. Aku lebih sering mengeluarkan kata-kata tajam yang menyakitkan tanpa sadar. Namun, terkadang keadaan punya caranya sendiri untuk memaksa kita dan orang-orang di sekitar kita saling memahami—suka atau tidak.
Siang itu, aku berdiri di tengah lapangan indoor dengan napas membakar tenggorokan. Keringat mengalir deras dari pelipis, menetes ke atas lantai kayu berselip suara berdecit dari sol sepatu yang saling beradu. Teriakan riuh penonton, benturan fisik antar-pemain, dan instruksi melengking dari Coach David melebur menjadi satu kebisingan yang memekakkan telinga.
Di papan skor digital, angka merah itu berkedip kejam: 58—64.
Kami tertinggal enam angka. Dan waktu tersisa tidak sampai tiga menit lagi.
"Ravel!" suara Coach David menggema tajam dari pinggir lapangan.
Aku menoleh sekilas, menyapu keringat di dahi dengan punggung tangan.
"Jangan terlalu lama di perimeter! Mereka sudah membaca pergerakanmu!"
Aku mengangkat satu tangan tinggi-tinggi, menandai bahwa aku mengerti. Namun di dalam hati, ada keputusasaan tipis yang mulai menjalar. Perjalanan kami di DBL nasional sepertinya harus terhenti di babak semifinal ini. Bukan semata-mata karena tim lawan lebih unggul, melainkan karena sejak awal pertandingan, aku merasa bertarung dengan ganjalan di dadaku sendiri.
Ganjalan bernama Ekhsan.
Dia berdiri di sisi kiri lapangan, dijaga ketat oleh dua pemain lawan. Tatapan kami sempat bertemu selama sepersekian detik. Cold. Tanpa senyum, tanpa isyarat. Lalu dia membuang muka begitu saja. Aku mendengus pelan. Masih sama.
Bahkan setelah perbincangan pahit kami di area parkir hotel pagi tadi, tembok tebal itu belum sepenuhnya runtuh. Ada jurang pemisah yang tidak bisa begitu saja ditutup hanya dengan mengucapkan kalimat formalitas seperti, "Ayo, kita lupakan masalah kemarin."
Peluit wasit melengking. Permainan berlanjut.
Bola berada di genggaman Kak Farel. Dia memantulkan bola melewati garis tengah sebelum meluncurkan operan dada yang mantap kepadaku. Aku menerima bola di luar garis tiga angka. Seorang small forward lawan langsung maju merapatkan penjagaan.
Aku melakukan dribble cepat ke kanan, memancing responsnya. Dia mengikuti. Aku menarik langkah ke belakang—step back. Ruang terbuka selebar setengah meter. Aku mengangkat bola, bersiap melepaskan tembakan. Namun sebelum kakiku sempat terangkat dari lantai, pemain lawan lainnya datang melakukan double team.
"Brengsek."
Aku mencoba menerobos celah sempit di antara dua tubuh tinggi itu. Satu langkah, dua langkah, sudut pandangku tertutup rapat. Di sisi lain, Ekhsan berhasil memotong pergerakan lawan dan berlari kosong menuju ring.
Mata kami bertabrakan lagi. Celah operan itu ada. Sangat terbuka.
Namun keraguan konyol menyusup ke jemariku dalam hitungan milidetik. Aku menahan bola sejenak—terlalu lama. Saat aku menyadarinya, Ekhsan sudah terlanjur melewati posisi idealnya. Kesempatan emas itu menguap. Dalam posisi terdesak, aku memaksakan tembakan melayang.
Brak! Bola menghantam keras sisi ring.
"Rebound!"
Pemain jangkung lawan menyambar bola liar itu dan langsung meluncurkan serangan balik cepat.
"Sial!" aku merutuk, berbalik melesat mengejar lawan.
Daya tahan tubuhku selalu menjadi kelemahan utama. Di menit-menit akhir seperti ini, kakiku terasa seberat timah dan paru-paruku serasa disiram cairan asam. Namun dari sudut mataku, bayangan jersey Ekhsan melesat mendahuluiku dari sisi lain.
Pemain lawan melakukan lay-up. Ekhsan melompat tinggi, merentangkan tangannya, dan... TAP! Dia berhasil menepis bola di udara dengan blok yang bersih.
Sayangnya, bola liar itu memantul kembali ke tangan pemain lawan yang bertugas mengekor dari belakang. Aku memaksakan sisa staminaku, berlari sekencang mungkin menuju titik jatuhnya bola. Untuk sejenak, aku dan Ekhsan mengejar satu sasaran yang sama.
"Kirinya, Vel!" teriak Ekhsan mendadak.
Tanpa berpikir panjang, tubuhku bergerak secara refleks sesuai intruksinya. Pemain lawan terkejut dan mencoba mengubah arah dribble, namun juluran tanganku lebih cepat menyambar bola. Steal!
Begitu bola terkuasai, aku langsung berbalik arah, memacu fast break. Ekhsan berlari sejajar denganku di sisi kanan. Skenario dua lawan satu. Hanya tersisa satu pemain bertahan lawan di depan kami.
Aku menembus area pertahanan, memancing defender lawan untuk sepenuhnya menumpuk penjagaan kepadaku. Sudut untuk lay-up pribadi terlalu sempit dan berisiko terblok. Aku melirik Ekhsan di kanan. Dia berdiri bebas tanpa pengawalan.
Genggamanku pada bola tidak ragu lagi. Aku melepas operan memantul yang presisi ke tangan Ekhsan. Ekhsan menerima bola dengan mulus, melompat satu langkah, dan menyelesaikannya dengan lay-up anggun ke dalam jaring.
60—64.
Kami berdua berbalik melangkah cepat menuju area pertahanan sendiri. Ekhsan melewatu bahuku seraya menepuk punggungku pelan.
"Umpan bagus," gumamnya, suaranya masih terdengar agak kaku.
"Cuma kebetulan," balasku pendek seraya mendengus pelan.
Namun di dalam hati, ada percikan energi baru yang menyala. Pertandingan menyisa dua menit. Selisih empat angka.
Giliran lawan membangun serangan. Bola dipindahkan dari tangan ke tangan dengan tempo cepat. Aku memfokuskan seluruh perhatianku untuk membaca pergerakan lawan di depanku. Tiba-tiba, dia melakukan cutting tajam memotong ke arah ring. Aku memutus jarak sekuat tenaga, tetapi reakasiku kalah cepat setengah detik—dia menerima bola tepat di bawah ring!