Cascade

Ribato
Chapter #48

Bab XLVII: Aku dan Kebahagiaan yang Singkat

Kebahagiaan sering kali hanyalah mampir sejenak, sebab hidup pada hakikatnya adalah roda yang terus berputar.

Laju tim basket kami tak terbendung hingga piala Juara Nasional berhasil kami renggut dan bawa pulang. Malam itu, tepat pukul tujuh malam, bus antarkota yang membawa rombongan tim meluncur pelan masuk ke halaman sekolah. Beberapa siswa yang ikut mengawal kepulangan kami menyambut dengan sorak-sorai singkat sebelum akhirnya berangsur membubarkan diri.

Aku merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel untuk memesan ojek online. Namun, sebelum jempolku sempat menekan layar, sebuah bayangan tinggi mendadak berdiri di sampingku. Ekhsan.

"Lo nggak bawa motor?" tanya Ekhsan, matanya melirik ponselku.

"Sayangnya... enggak," sahutku malas.

Tanpa permisi, Ekhsan menyambar ponsel dari tanganku, membatalkan pesanan ojek yang sedang memuat pencarian driver, lalu menyeretku menuju area parkir belakang.

"Sini, biar gue anter!" tegasku.

"Nggak usah, San. Gue bisa—"

"Naik aja, elah!" Ekhsan menepuk-nepuk jok belakang motor sport hitammnya dengan keras.

Aku menelan ludah, menatap gundukan jok tinggi itu dengan ragu. "Gue nggak mau. Gue punya fobia kecepatan, dan gue tahu betapa gilanya lo kalau udah memegang stang."

"Santai, kali ini gue bawa pelan. Udah, naik!" Ekhsan memaksa, memasang helmnya dengan sekali gerakan mantap.

Dengan berat hati, aku memanjat jok belakang. Dan seperti yang sudah kuduga sejak awal, janji Ekhsan untuk "membawa pelan" adalah kebohongan publik terbesar. Begitu mesin meraung, motor sport itu melesat gila-gilaan membelah kemacetan jalanan malam kota, menyalip kendaraan lain dengan sudut miring yang membuat jantungku serasa melompat keluar.

Hanya butuh waktu separuh dari biasanya sampai roda motornya mencicit berhenti di depan pagar rumahku.

Begitu kakiku menyentuh tanah yang stabil, rasa lega langsung menyergap. Namun sebelum aku sempat memaki cara mengemudinya, samar-samar suara teriakan melengking dari dalam rumah menghentikan gerak kami berdua.

Suara bentakan berat Si Brengsek beradu kasar dengan jeritan tertahan dari Ibuku.

"Kamu terus-terusan begitu, kan?! Kalau diajak berhubungan suami-istri ada aja alasannya! Tapi kalau selingkuhanmu yang minta, kamu pasti langsung nurut kayak pelacur!"

"Kamu itu yang ada di otak cuma urusan selangkangan terus! Mana kewajibanmu sebagai suami?! Aku pulang kerja sudah lelah, cari uang buat makan, dan kamu sama sekali nggak ada rasa pengertiannya!"

"Alasan aja! Aku juga kerja di sini, bukan pengangguran! Kewajibanmu sebagai istri itu melayani suami!"

Aku dan Ekhsan membeku di samping motor. Keheningan yang sangat canggung merebak di antara kami, ditimpa gema pertengkaran dari dalam dinding rumah kayu yang tipis itu.

Ekhsan menatapku dengan raut wajah serba salah. "Gue rasa... lo punya masalah sendiri di rumah."

"Gue nggak nyebut ini masalah," balasku ringan, berusaha memasang senyum tipis yang tawar. "Gue nyebut ini... proses pendewasaan."

"Mau gue bantu?" tanya Ekhsan pelan, nadanya mendadak serius.

tanganku merengkuh lengan jaketnya. "Serius lo mau bantu? Gue bakal seneng banget kalau lo mau hajar Si Brengsek itu sekarang."

"Gue cuma basa-basi, Bangsat!" Ekhsan menyentak tangannya lepas, memutar bola matanya.

"Basa-basi lo basi banget, Cuk," kekehku pelan. "Dah, sana pulang. Nanti tetangga ngerpikir gue homo lagi, dianterin cowok terus ditungguin di depan pagar."

Ekhsan menatapku sebentar, seolah memastikan aku akan baik-baik saja, sebelum akhirnya memutar gas dan memacu motornya pergi membelah kegelapan malam.

Aku memutar tubuh, mendorong pintu pagar besi yang berderit nyaring. Langkah kakiku terasa amat berat saat menyusuri teras. Jemariku gemetar pelan ketika memegang gagang pintu utama. Aku tidak tahu harus memasang wajah seperti apa di dalam nanti. Aku tak punya cukup kekuatan untuk menegur mereka, tapi aku juga tak bisa terus-terusan lari.

"Assalamualaikum!" teriakku lantang seraya mendorong pintu hingga terbuka lebar.

Pertengkaran di ruang tamu terhenti seketika. Si Brengsek tampak duduk di sofa dengan sebatang rokok menyala di antara jemarinya, sementara Ibu berdiri di dekat meja makan dengan mata merah berair. Suasana mendadak hening, namun sisa bara amarah di mata pria itu tampak belum padam.

"Dari mana aja lo seminggu nggak pulang-pulang?!" bentaknya, mengalihkan amarahnya padaku.

"Aku... ada pertandingan basket nasional," jawabku seraya menunduk.

"Sekolah yang bener, Asu!"

Sret! TAK!

Sebuah asbak kaca tebal melayang cepat dari tangannya dan menghantam pipi kiriku dengan keras sebelum jatuh gemerincing ke lantai. Rasa panas dan nyeri menusuk mendalam di rahangku, memicu denyut kemarahan yang membakar di balik dadaku. Aku mengepalkan kedua tangan erat-erat, menahan diri agar tidak melompat menyerangnya.

"Bangsat kau!" Ibu histeris, melempar tubuhnya berdiri di depanku. "Jangan lampiaskan emosimu ke anakku, Anjing!"

Lihat selengkapnya