Dunia ini terkadang mirip seperti gim RPG. Bedanya, di dunia nyata tidak ada tombol load game atau save point tempat kau bisa mengulang pilihan yang salah. Saat mengambil rute dialog yang keliru hingga membuat NPC marah, kau tidak bisa begitu saja merisetnya.
Sayangnya, aku adalah tipe pemain keras kepala yang lebih memilih membakar jembatan di belakangku daripada harus berbalik arah.
Itu pula yang kulakukan pada Risa. Beberapa minggu belakangan ini, kami hidup bagaikan dua garis paralel yang tak lagi bersinggungan. Tidak ada tegur sapa, tidak ada tatapan mata. Secara teknis, hariku terasa jauh lebih tenang. Tidak ada lagi ceramah agama bernada lembut yang biasanya menembus pertahananku, atau senyum riang memuakkan yang selalu berhasil mengacak-acak fokusku.
Agar benteng ini makin kokoh, aku bahkan bertukar tempat duduk dengan Faiza. Sekarang gadis stoik itu duduk di barisan depan bersama Irul, sementara aku menyingkir ke sudut yang jauh dari jangkauan Risa.
Tanpa terasa, hari-hari menuju akhir semester merambat cepat hingga agenda karya wisata sekolah tiba.
Pagi itu, area parkir sekolah sudah dipenuhi riuh siswa dan deretan bus pariwisata. Sebagai panitia OSIS, aku memaksakan diri sibuk sejak terbit matahari—mengangkat kardus-kardus berisi kotak makan dan menyusun tumpukan buku panduan ke bagasi.
"Semua aman, Vel. Nggak ada yang ketinggalan di luar," lapor Irul seraya menepuk bahuku.
Aku mengangguk, menyapu keringat di dahi, lalu mengekor Irul masuk ke dalam bus kelas kami. Di dalam, pendingin udara menyembur dingin menimpa keriuhan anak-anak yang sibuk berebut tempat duduk. Irul melesat tanpa membuang waktu, menyambar satu-satunya kursi kosong di samping Faiza.
"Brengsek," gumamku pelan saat Irul melambaikan tangan tanpa rasa dosa.
Aku menyusuri lorong sempit bus, mengedarkan pandangan. Hampir seluruh bangku sudah terisi pasangan masing-masing. Hanya tersisa satu kursi kosong di barisan tengah... tepat di sebelah Risa.
Langkahku terhenti. Mata kami sempat beradu selama sepersekian detik sebelum Risa terburu-buru menundukkan kepala, meremas pinggiran tas pangkuannya erat-erat. Sebuah senyuman pahit terukir kaku di bibirku. Baguslah. Dia akhirnya benar-benar paham cara menjauhiku.
Aku berbalik menatap bangku paling belakang. Di sana, Ekhsan, Dodit, dan Yogi sedang asyik memetik gitar akustik seraya menyanyikan lagu pop bernada sumbang.
"San! Di sini ada kursi kosong," panggilku cukup keras. "Mau tukaran nggak?"
Petikan gitar Yogi terhenti. Ekhsan bangkit dari kursinya, melangkah mendekat. Matanya melirik ragu ke arah kursi kosong di samping Risa, lalu beralih menatapku dengan tajam—seolah bertanya apakah aku sudah benar-benar kehilangan akal sehat.
"Seriusan lo?" bisik Ekhsan seraya memicingkan mata.
"Ya. Gue lagi pengin duduk di belakang," jawabku datar, mendahuluinya melangkah ke barisan belakang.
Aku menepuk paha Yogi agar dia bergeser mendekati jendela. Aku memilih menjepitkan diri di antara Yogi dan Ekhsan, menghindari duduk terlalu dekat dengan Dodit. Hubunganku dengan Dodit memang belum sepenuhnya membaik pasca-insiden masa lalu, meski ketegangan antara aku, Ekhsan, dan Yogi sudah mencair.
Bus mulai melaju membelah jalanan kota. Suara petikan gitar Yogi dan nyanyian anak-anak di barisan belakang perlahan memecah kekakuan suasana. Satu jam perjalanan berlalu, rasa lapar mulai memicu perutku. Aku merogoh tas dan mengeluarkan sebungkus keripik kentang ukuran besar.