Orang bijak pernah berkata, "Dunia adalah tempat yang kejam untuk dihuni, bukan karena orang-orang jahat di dalamnya, melainkan karena orang-orang yang tidak peduli."
Pikiran itu mendadak melemparku kembali pada masa lalu—hari di mana Si Brengsek itu resmi dijebloskan ke dalam penjara. Untuk sejenak, aku dan Ibu sempat mengecap kehidupan yang amat damai. Hanya kami berdua. Masa-masa itu memang singkat, tetapi terasa begitu tenang. Aku membantu menyapu dan merapikan rumah, sementara Ibu memasak dan bekerja.
Namun, ketenangan kaku itu hancur saat ketukan keras menghantam pagar rumah kami pada suatu siang.
Tante Wina dan jajaran keluarga besar dari pihak pria itu berdiri berjejer di balik gerbang besi. Saat aku melangkah hendak membukakan pintu, Ibu mendadak menarik tubuhku ke balik punggungnya, membeberkan telapak tangannya yang dingin untuk membekap mulutku rapat-rapt.
"Jangan dibuka... Jangan dibuka, Vel..." bisik Ibu meledak-ledak. Getaran hebat di jemarinya sudah cukup menjelaskan betapa ketakutan dirinya saat itu.
Salam bernada intimidasi menggema di luar. Mereka terus menyoraki rumah kami selama seminggu penuh, hingga pada suatu sore, Ibu lupa mengunci slot pagar.
"Erni..."
Sebuah panggilan beracun yang dibungkus nada lembut terdengar dari ambang pintu. Tante Wina. Ibu yang berdiri kaku di dekat meja makan tak lagi punya ruang untuk melarikan diri. Tante Wina bersama para bibi melangkah masuk, menyebar dan duduk mengelilingi Ibu yang membungkuk kaku.
"Apa kita nggak bisa bicara baik-baik?" ujar salah satu bibiku dengan nada menuntut.
Ibu hanya menunduk dalam-dalam, mengatupkan bibir tanpa suara.
"Cabut laporanmu dan biarkan kami membayar uang jaminannya," potong Tante Wina tanpa empati. "Bagaimanapun juga, dia itu suamimu."
"Apa kalian nggak lihat apa yang saudara kalian lakukan ke aku?!" jerit Ibu mendadak mendongak, suaranya parau tercekik. "Apa kalian buta melihat kondisiku?!"
Tante Wina mencibir dingin. "Dia cuma khilaf! Lagian itu bukan sepenuhnya salah dia. Kamu yang terlebih dahulu memicu semuanya!"
"Wina!" bentak bibiku yang lain, sebelum kembali menatap Ibu. "Erni, tolonglah. Cabut laporanmu. Kalau setelah ini kamu mau bercerai, kami yang akan mengurus semuanya."
"Apa setelah bebas dia benar-benar mau menceraikanku?" tanya Ibu dengan mata memerah. "Aku sudah minta cerai berkali-kali dan dia selalu menolak! Apa kalian berani menjaminnya?!"
Kata 'cerai' yang keluar dari mulut Ibu membuat dadaku bergetar hebat. Meski pria itu bajingan, aku sudah hidup bersamanya cukup lama. Bayangan tentang keluargaku yang hancur berkeping-keping membuat kepalaku seperti dihantam batu.
"Gue yang bakal jamin!" Tante Wina meninggikan suara, matanya mendelik sinis. "Gue jamin dia bakal ceraikan lo! Bahkan bakal gue cariin wanita yang jauh lebih cantik dari lo! Gue gelar pesta pernikahan paling mewah sampai lo cuma bisa ngeliat dari jauh sambil gigit jari!"
Ibu terdiam, jemarinya meremas kain daster yang dikenakannya.
"Nggak mau..." bisik Ibu pelan, lalu menggeleng kencang. "Aku nggak mau dia bebas! Kalau dia bebas, aku nggak tahu apa lagi yang bakal dia lakuin ke aku dan Ravel!"
Ibu bangkit berdiri, berusaha menerobos kerumunan keluarga pria itu menuju pintu keluar. Pemandangan mendadak kacau. Para wanita itu menahan lengan Ibu, saling tarik-menarik di tengah teriak histeris Ibu yang mencoba melepaskan diri. Ibu berlari keluar rumah, menggedor pintu tetangga terdekat mencari pertolongan, namun para tetangga justru mengunci rapat jendela mereka—tak ingin ikut campur dalam kemelut rumah tangga orang lain.
Melihat Ibu dipojokkan dan ditahan secara paksa di tengah jalan setapak, tubuhku yang saat itu baru berusia tiga belas tahun mendadak bergerak di luar kendali.
"LEPASKAN!"
Teriakan lantangku memecah kesunyian gang. Aku menerjang maju, mendorong tubuh Tante Wina hingga terhuyung ke belakang, lalu pasang badan berdiri membentengi Ibu.
"Apa kalian semua udah gila?!" napasku berburu kasar, mataku membara ditimpa air mata amarah. "Kalau Ibu bilang nggak mau, jangan paksa Ibu!"
Keheningan dingin jatuh seketika. Merekam raut wajah Tante Wina dan yang lainnya yang terperanjat melihat seorang bocah melotot penuh kebencian, keluarga pihak pria itu akhirnya memilih mundur dan pergi meninggalkan kami.
Sret!
Aku tersentak bangun, menyadari tubuhku masih bersandar kaku di atas bangku bus yang berguncang pelan. Merekam sisa-sisa mimpi buruk itu membuat dadaku terasa seperti disayat sembilu. Namun di saat yang sama, ingatan itu makin membulatkan tekadku: Aku memang harus menjauhi Risa. Orang hancur sepertiku hanya akan menyeret gadis sebaik dia ke dalam neraka yang sama.
Roda bus akhirnya berhenti mencicit di halaman sebuah vila luas berdinding kayu di daerah pegunungan. Udara dingin yang menusuk tulang langsung menyergap saat kami turun. Para guru membimbing pembagian kamar. Kelompok siswa laki-laki ditempatkan di bangsal bawah—satu kamar untuk lima orang.
Aku, Ekhsan, Irul, Yogi, dan Dodit menempati kamar paling ujung. Begitu pintu terbuka, Ekhsan langsung melempar tubuhnya ke atas kasur busa, menggerakkan tangan dan kakinya mengepak-ngepak layaknya orang berenang.
"Woi! Cuci kaki dulu, Bangsat! Jangan asal nyelonong ke kasur!" jerit Irul emosi dari ambang pintu.
"Santai, Rul. Kaki gue wangi bunga sakura," celetuk Ekhsan tanpa rasa dosa.
"Tegang amat lo, Rul. Kayak mau ujian nasional aja," timpal Yogi seraya menaruh tasnya di sudut ruangan.