Malam menyergap vila diiringi tusukan hawa dingin pegunungan. Di ruang utama yang lapang, puluhan murid duduk melingkar di atas karpet. Riuh rendah percakapan beradu dengan denting gitar Dodit yang mengiringi vokal Putri di tengah ruangan. Tepuk tangan pecah begitu nada terakhir usai disusul pertunjukan dari kelas lain—mulai dari lelucon garing stand-up comedy hingga gerakan konyol joget Tok-Tok yang memicu gelak tawa.
Sebuah tepukan mendarat di bahuku dari belakang. Kak Auliyah berdiri di sana dengan senyum tipis.
"Vel, bantuin angkut makanan buat anak-anak, yuk," pintanya.
Aku bangkit dari sudut paling belakang, mengekor langkah senior-ku itu keluar dari ruang utama.
"Cuma kita berdua, Kak?"
"Enggak, ada mas-mas warung yang bantu. Kita pesan beberapa hidangan di luar," jawabnya santai sebelum melirikku mendelik. "Ngomong-ngomong... lo sama Risa beneran pacaran?"
Langkahku terhenti seketika. "Hah? Kenapa Kakak bisa mikir sampai ke sana?"
"Soalnya gue liat kalian di gapura tadi," Kak Auliyah menunjuk ke arah kegelapan di luar vila—arah yang persis merujuk pada pilar tua tempat aku dan Risa berdiri beberapa jam lalu. Senyum godanya mengembang. "Gue liat kalian hampir nempel banget. Berani juga lo ya, Vel."
Aku menghela napas berat, menetralkan denyut asing di dada, lalu melanjutkan langkah. "Jangan ngarang. Kita nggak ngapa-ngapain. Dan Risa... mana mungkin punya perasaan sama gue. Nggak bakal masuk akal."
"Lah, menurut gue malah cocok," sahut Kak Auliyah dengan mata berbinar-binar. "Bintang basket sekolah sama Juara Tilawah... kayak adegan di drama romantis tahu nggak?"
"Nggak usah halu, Kak. Hal kayak gitu nggak bakal pernah kejadian."
Warung langganan vila tak jauh dari sana. Aku mengangkut panci besar berisi rawon panas yang membumbungkan aroma rempah gurih, sementara Kak Auliyah membawa wadah nasi. Di dapur vila, beberapa guru ikut membantu menata piring.
"Kalian balik ke ruang depan aja, biar ini Pak Efendi sama guru-guru yang terusin. Bersenang-senang sana," titah Pak Efendi.
Begitu kembali ke ruang utama, pemandangan menggelikan sudah menanti. Irul berdiri di tengah lingkaran, memegang mikrofon sambil menyanyikan lagu cinta dengan ekspresi teramat serius, diiringi petikan gitar Ekhsan. Di puncaknya, Irul mengambil setangkai bunga dari Lia, berjalan mendekati Faiza, lalu berlutut riil di hadapannya.
Teman-teman di sekitar Faiza langsung bersorak, mendorong gadis itu hingga berdiri berhadapan dengan Irul.
Melihat adegan itu, sekujur merinding langsung menyengat tengkukku. Aku mengusap lengan, berusaha mengusir rasa geli berlebih.
"Ini acara Makrab apa syuting FTV Hidayah, sih?" gumamku sambil menggidikkan bahu.
Kak Auliyah di sampingku terkekeh. "Ayolah, Vel, seru tahu! Mumpung masih muda, nikmatin aja drama-drama begini."
"Ini bukan Kak Auliyah yang gue kenal. Nenek lampir yang biasanya demen menjewer telinga gue sembunyi di mana?"
Kak Auliyah menatapku tajam sambil mendengkus, lalu kembali menyoraki Faiza yang akhirnya menerima tangkai bunga itu.
Suasana ruang utama langsung pecah. Sorak-sorai, siulan, dan godaan riuh bersahut-sahutan. Sejak detik itu, julukan "Umi" dan "Abi" resmi melekat pada mereka berdua.
Kak Auliyah menyiku pinggangku, menyeringai. "Jadi... kapan lo mau nembak Risa kayak gitu?"
"Gampang, Kak," sahutku datar. "Nanti gue pinjam speaker pengeras suara sekolah, nembak Risa di tengah lapangan sambil bawa buket bunga sebesar gapura... biar bisa buat nyumbat kepala Kakak yang agak kosong itu."
"Ish! Nggak asyik banget lo!"
Malam keakraban ditutup dengan tawa riuh. Kami kembali ke kamar masing-masing saat jarum jam menunjuk angka dua belas. Namun, saat aku baru hendak meluruskan punggung di atas kasur lipat, Ekhsan dan Yogi saling memberi kode lewat anggukan kepala.