Ada dua hal yang sanggup meremukkan sebuah hubungan tanpa pernah disadari pelakunya: keegoisan dan ketiadaan komunikasi.
Dua racun itu melekat sempurna pada diri Si Brengsek. Pria itu bukan sekadar sosok kaku yang gagap mengutarakan isi kepala, melainkan manusia berhati dingin yang selalu mengambil keputusan sepihak. Dia bisa menghabiskan uang untuk mengoleksi puluhan burung berkicau, pulang larut malam dengan napas berbau alkohol, dan yang paling membuat Ibu terluka—dia selalu mendeduakan kami di hadapan keluarga besarnya.
Aku masih mengingat jelas hari itu. Ibu berdandan amat cantik dengan celana jeans pas badan dan topi bundar berhias satu motif bunga mencolok. Wajahnya berseri-seri karena hari itu adalah liburan yang kami nanti-nantikan. Sebagai tebusan atas insiden mabuknya beberapa hari sebelumnya, Si Brengsek berjanji memboyong kami ke taman wahana di luar kota.
Namun, sebuah dering telepon menghancurkan segalanya. Hanya karena salah satu kerabatnya membutuhkan bantuan sepele, Si Brengsek membatalkan rencana itu secara sepihak. Ibu yang tak bisa melawan hanya sanggup meraung menangis, melempar dan membanting barang-barang di ruang tamu hingga pecah berkeping-keping.
"Kalau ayahmu nggak mau pergi sama kita, kita cari orang lain!" jerit Ibu malam itu.
Dengan jemari bergetar emosi, Ibu menyambar ponselnya, mengusap layar kasar, lalu melakukan sebuah panggilan. Tak sampai setengah jam kemudian, Ibu menarik tanganku keluar rumah, menuntunku masuk ke dalam mobil sedan mulus yang dikendarai Om Vikri.
Bahkan hingga aku tumbuh dewasa, pertanyaan itu masih kerap bersarang di kepalaku. Om Vikri berusia sepuluh tahun lebih muda dari Ibu, berparas tampan, dan jelas berada secara finansial. Apa yang sebenarnya dicari pria itu dari seorang wanita bersuami yang rapuh seperti Ibuku?
Pertanyaan retoris itu merambat, menjelma menjadi cermin yang menatapku hari ini: Mengapa aku menyukai Risa? Apakah karena dia cantik? Apakah karena statusnya sebagai idola sekolah? Atau karena kepribadiannya yang rumit, penuh teka-teki, namun diam-diam mempesona?
Ujian akhir semester resmi usai. Hari ini aula utama sekolah disulap menjadi panggung megah untuk acara pelepasan kelulusan kelas tiga, sekaligus pembacaan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) pengurus OSIS.
Kursi-kursi tersusun rapi berderet. Kami yang mengenakan jas almamater OSIS sibuk berdiri di lorong-lorong, mengarahkan deretan siswa sesuai tingkatan kelas. Dari sudut panggung, mataku menangkap pemandangan yang tak biasa. Beberapa siswa laki-laki mencoba mendekati Risa untuk mengajak berbincang, namun Risa yang sekarang bertindak beda. Dengan raut dingin dan ketegasan singkat, dia menolak interaksi itu dan memilih bergabung rapat di dekat Kak Auliyah dan Dwi.
Gadis itu benar-benar berubah.
"Beneran Risa yang bakal bacain LPJ nanti?" bisik Ekhsan yang berdiri di sampingku seraya bersedekap dada.
"Kak Dwi mendadak demam tinggi, jadi Risa yang harus gantiin," sahutku datar.
Ekhsan meremas jemarinya, raut wajahnya menyirat kecemasan. "Anak itu bakal baik-baik aja nggak, ya? Dia kelihatan tegang banget."
"Nggak usah sok perhatian, Babi," celetukku seraya menginjak ujung sepatu Ekhsan pelan. "Inget Elfie woy! Kalau semua cewek lo cemasin, kasihan Dodit makin kelihatan tragis jomblo sendirian."
Acara berjalan sesuai susunan acara hingga puncaknya tiba.
"Selanjutnya, Laporan Pertanggungjawaban kegiatan OSIS periode 2025/2026 akan disampaikan oleh Saudari Risa Andrisa."
Gema tepuk tangan membahana di seluruh aula. Risa melangkah ke balik podium dengan beberapa lembar dokumen di tangannya. Seragamnya terikat rapi, jilbab putihnya terpasang licin tanpa cela, dan wajahnya tampak tenang—setidaknya dari jarak sepuluh meter.
Aku mengangkat dagu, mengunci pandanganku padanya. Sudah beberapa minggu kami hidup bagaikan dua asing. Sejak pertengkaran hebat di perjalanan karya wisata malam itu, benteng raksasa berdiri kokoh di antara kami. Tidak ada lagi tegur sapa, tidak ada godaan konyol, bahkan tidak ada tatapan mata yang bertahan lebih dari satu detik. Sebuah jurang pemisah yang sangat aman.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Suara Risa mengalun melalui pengeras suara. Otomatis, aku menjawab salam itu dalam hati. Risa menunduk sejenak, mengamati deretan lembaran kertas di genggamannya.
"Yang terhormat Bapak Kepala Sekolah, para guru pendamping, serta teman-teman sekalian..."
Suaranya agak bergetar. Risa memang bukan tipe orator panggung. Dia adalah tipe orang yang sanggup mengenceramahiku belasan menit tanpa kehabisan napas dalam situasi personal, namun berdiri di hadapan ratusan pasang mata adalah medan perang yang sama sekali berbeda. Terlebih lagi, ini adalah LPJ. Setiap detail angka, nama program, dan anggaran bisa menjadi bahan kejanggalan jika salah diucapkan.
Jemari Risa menggenggam tepi dokumen terlalu erat hingga kertasnya meliuk. Mikrofon di tangan kirinya bergetar pelan.
"Selama satu periode kepengurusan, OSIS telah melaksanakan..."
Suara Risa mendadak terputus. Keheningan jatuh mencengkeram aula.
Risa menunduk kaku. Matanya bergerak cepat, menyapu baris pertama, melompat ke baris bawah, lalu kembali lagi ke atas dengan panik.
Sial. Dia kehilangan jejak paragrafnya.
"Selama satu periode kepengurusan..." ulangnya dengan nada yang makin menipis.
Bisik-bisik kasak-kusuk mulai merayap di sudut-sudut barisan siswa. Suara itu tidak keras, namun di atas panggung yang diterpa lampu sorot, bisikan itu sanggup membuat seseorang merasa seolah seluruh dunia sedang merayakan kegagalannya.
Dada Risa naik turun dengan hembusan napas yang memburu. Dia kembali terdiam, kali ini jauh lebih lama.
Aku menatap panggung tanpa berkedip. Sebulan lalu, mungkin aku akan memalingkan wajah. Aku akan berpura-pura sibuk mengamati ponsel atau bergumam pada diri sendiri: Bukan urusan gue.
Ketika Ibu dipojokkan keluarga ayah dulu, aku merasa tidak berdaya. Ketika Risa menangis, aku memilih melangkah pergi. Setiap kali ada orang yang membutuhkan uluran tangan, aku selalu mahir menciptakan seribu alasan mengapa aku bukan orang yang tepat untuk menolong. Aku selalu merasionalisasi bahwa menjadi dewasa berarti paham cara membentengi diri dan menjaga jarak.
Namun, detik itu sebuah pemahaman brutal menghantam kepalaku: Menjaga jarak hanyalah nama keren dari seorang penakut yang enggan mengakui ketakutannya sendiri.
"Vel..." bisik Ekhsan dari samping. Matanya tertuju pada panggung. "Risa kenapa? Nggak biasanya dia kayak gitu..."
Ekhsan menggerakkan kakinya hendak maju, namun langkahnya tertahan ragu.
Pikiranku berputar cepat. Bayangan Ibuku yang meraung, bayangan Si Brengsek yang melayangkan asbak, dan bayangan diriku yang membentak Risa di gapura vila berkelebat berurutan. Aku punya seribu alasan untuk diam di tempat demi menghindari masalah—persis seperti yang biasa Si Brengsek lakukan.