Waktu bergulir tanpa kompromi. Tanpa terasa, kami resmi menginjakkan kaki di kelas sebelas. Setelah proses seleksi jurusan yang cukup sengit, aku menetapkan pilihan pada kelas IPA. Bagi orang yang terbiasa hidup dalam pusaran kekacauan, tidak ada yang lebih menyegarkan daripada awal yang baru: ruang kelas yang masih berbau cat basah, wajah-wajah baru, dan yang paling penting—bebas dari gangguan si Kepala Melon.
Berangkat terlalu pagi selalu menjadi strategi terbaikku. Ruang kelas XI IPA 1 masih sunyi. Sinar matahari pagi menerobos celah ventilasi, memantul di atas deretan meja kayu yang masih kosong. Aku langsung mengambil tempat di bangku paling depan pojok kanan—posisi strategis untuk mengamati pintu sekaligus dekat dengan jendela.
Aku merogoh ponsel, mengetik pesan singkat untuk Irul.
‘Woi, cepat kemari! Gue udah kancingin bangku strategis buat kita.’
Balasan masuk satu menit kemudian. ‘Masih bantu ibu gue bungkus gorengan, Vel. Rajin amat lo pagi-pagi udah mangkal di kelas.’
Aku menyunggingkan senyum tipis, menutup aplikasi pesan, lalu beralih membuka game online. Tidak ada hal yang lebih nikmat selain membunuh waktu di pagi hari yang tenang dengan satu pertanding cepat. Namun, baru saja karakterku melangkah ke arena permainan, derap langkah halus mendekat. Aroma lembut bedak bayi yang teramat kukenal mendadak menyeruak di udara.
Sebuah tas kain diletakkan tanpa permisi di bangku tepat di belakangu.
"Hai, Vel. Kayaknya kita sejodoh deh, satu kelas lagi," sapa sebuah suara riang.
Aku mendongak, mendapati Risa berdiri di samping mejaku dengan sunggingan senyum paling cerah yang membuat pertahananku runtuh seketika.
"Kepala Melon... ngapain lo di sini?" rintihku, menatapnya tak percaya.
Risa mendengkus pelan, menyilangkan tangan di dada dengan raut dibuat-buat kesal. "Jahat banget, sih! Jangan panggil Kepala Melon lagi. Namaku cantik, pemberian Ibuku: Risa. Mohon bantuannya untuk satu tahun ke depan ya, Ravel?"
Alarm bahaya di kepalaku langsung menyala berdering-dering. Tanpa membuang waktu, aku mematikan ponsel, menyambar tas punggungku, dan beranjak dari kursi. Aku harus pindah ke barisan paling belakang sebelum kelas makin ramai.
Namun, belum sempat aku melangkah dua tapak, Risa mendadak menyambar tali tasku, menahannya dengan kedua tangan.
"Ngapain lo?! Lepasin!" gertakku sambil menarik tas itu kembali.
"Kita kan udah seminggu nggak ketemu pas liburan kemarin, masa kamu nggak rindu sedikit pun?" sahut Risa santai, malah makin mempererat cengkeramannya pada tali tasku.
"Jangan ngomong sembarangan! Kemarin lusa kita ketemu pas evaluasi panitia MPLS!"
Aksi tarik-menarik tas tak terhindarkan di depan pintu. Di tengah usahaku mempertahankan hak milik, sosok Faiza melangkah masuk dengan gaya stoiknya yang khas. Pandangannya bergulir dingin menatap kami berdua.
"Pagi-pagi sudah gladi bersih drama," cetus Faiza pendek seraya menggelengkan kepala.
Mendengar suara Faiza, Risa mendadak melepas tali tasku tanpa peringatan. Akibatnya, dorongan tenaga yang kugunakan membuatku terhuyung ke belakang dan hampir saja menabrak sudut papan tulis. Risa tanpa rasa dosa malah melesat menghampiri Faiza, merangkul lengan gadis itu dengan manja.
"Faiza! Kamu duduk di sini sama aku, ya? Lia kan masuk jurusan IPS, jadi aku nggak ada teman duduk," bujuk Risa seraya menunjuk bangku di belakangku.
"Hmm. Boleh," jawab Faiza singkat, meletakkan tasnya di atas meja.
Melihat fokus Risa teralih, aku bermaksud memanfaatkan celah itu untuk kabur menuju barisan belakang. Namun, Risa seolah punya mata di punggungnya. Dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat, jemarinya kembali mencengkeram tali jinjing tasku dan menyentaknya seketika.
BRUK!
Tubuhku tertarik kembali dan terhempas kaku di atas bangku depan. Beberapa siswa yang mulai berdatangan menatap ke arah kami. Bisik-bisik kecil dan senyum-senyum tertahan mulai merayap di antara mereka.
Aku memijat pelipis, menatap Risa dengan napas terengah. "Woi, lo nggak mikirin reputasi lo apa bertingkah kekanak-kanakan gini?"