Menjadi seorang kakak kelas seharusnya menuntut tingkat kedewasaan yang lebih tinggi. Karena memiliki seorang adik di rumah, aku cukup memahami konsep menjaga dan mengalah. Namun, tetap saja ada satu hal yang gagal kucerna oleh akalku: bagaimana bisa seorang Risa Andrisa—gadis yang selama ini amat ketat menjaga jarak dari lawan jenis—bisa begitu cepat akrab dengan seorang murid baru?
Nama anak itu Dhani Apriansyah. Siswa kelas sepuluh yang mendadak jadi buah bibir. Bukan semata karena penampilannya yang rapi, melainkan karena kemampuannya yang di atas rata-rata. Saat masa MPLS lalu, laptop yang digunakan Risa untuk menyiapkan materi presentasi mendadak mengalami kerusakan sistem dan hampir menghilangkan seluruh file penting. Dhani, yang saat itu duduk di barisan depan, dengan tenang mengambil alih dan memperbaiki masalah teknis itu hanya dalam hitungan menit.
Sejak hari itu, kecanggungan di antara mereka seolah menguap. Bahkan siang ini, di tengah riuh jam istirahat, Dhani tanpa ragu melangkah menghampiri meja Risa.
Sementara itu, di sudut lain, aku punya pergumulan sendiri. Jika Risa disibukkan oleh kehadiran Dhani, aku malah diteror oleh seorang siswi baru yang tak kenal menyerah.
"Kak Irul, liat Kak Ravel nggak?"
Suara nyaring itu terdengar mengalun di ambang pintu kelas. Mengenali pemilik suara itu, aku refleks menjatuhkan diri ke lantai, meluncur masuk ke bawah meja guru, lalu memberi isyarat mata penuh ancaman pada Irul. Usir dia atau lo mati.
Irul meringis ragu, matanya melirik ke bawah meja lalu kembali ke arah pintu. "Itu... dia tadi..."
Sayangnya, Ringe—gadis berbando merah yang berdiri di ambang pintu itu—terlalu jeli. Dia memiringkan tubuhnya, melongok ke balik meja guru, dan menangkap basah posisiku yang sedang berjongkok kaku.
"Wah, Kak Ravel lagi main sembunyi-sembunyi, ya?" sapanya riang, sepasang matanya berbinar jenaka.
Aku menghela napas pasrah, menepuk-nepuk celana seragamku yang terkena debu, lalu berdiri mengacuhkan rasa malu. Pandanganku secara refleks terlempar ke arah meja belakang. Risa sedang menatapku lurus-lurus. Namun, alih-alih melayangkan sindiran seperti biasanya, gadis itu mendadak menganggukkan kepala pada Dhani dan menyetujui ajakan anak itu untuk pergi ke kantin bersama.
Dada yang mendadak berdenyut panas membuatku mengepalkan tangan di dalam saku. Dhani sialan.
"Kak Ravel kenapa sih?" Ringe melangkah mendekat, cemberut manis. "Surat yang aku titipin ke Ida kemarin belum dibalas juga. Jadi aku ke sini mau nanya langsung. Ngomong-ngomong, Kakak lapar nggak? Ke kantin bareng, yuk?"
"Gue... gue mau ke kantin sama Irul," sahutku cepat, memutar kepala menatap Irul. "Ya kan, Rul?"
Irul mundur satu langkah seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aduh, Vel... gue mendadak dipanggil Pak Efendi ke ruang guru buat bahas ekstrakulikuler. Lo pergi sama Ringe aja, ya. Semangat, Vel!"
Tanpa rasa dosa, pengkhianat itu melesat kabur meninggalkan koridor.
Tak ada pilihan lain. Aku melangkah menuju kantin dengan Ringe yang mengekor riang di sampingku. Otakku berputar keras menyusun deretan kalimat penolakan yang paling dingin agar gadis ini berhenti mengejarku. Namun, sesampainya di area kantin, suasana sudah terlanjur padat. Satu-satunya meja yang masih menyisakan bangku kosong adalah meja yang ditempati Risa dan Dhani.
Ringe tanpa ragu menarik lenganku menuju meja tersebut. "Permisi Kak Risa, boleh kami duduk di sini?"
"Oh, silakan, Ringe. Masih kosong, kok," jawab Risa halus.
Ringe dengan sigap mengambil tempat duduk tepat di samping Risa, memaksa diriku untuk mengambil bangku kosong sisanya—tepat di hadapan Dhani.
"Kak Ravel mau pesan apa? Biar aku yang pesanin," tawar Ringe seraya memiringkan kepala.