Cascade

Ribato
Chapter #57

BAB LVI: Aku dan Cermin Diri

Orang-orang sering bilang tidak ada istilah baik dan buruk dalam urusan politik maupun cinta. Menurutku, itu cuma prinsip konyol yang dipakai orang-orang tak tahu diri untuk membenarkan tindakan mereka.

Pagi itu, panggung politik sekolah resmi dimulai. Beberapa kandidat sudah mencuri start kampanye. Di dekat gerbang utama, Risa berdiri didampingi Dhani, membagikan lembaran HVS warna-warni kepada para siswa yang lewat. Langkahku sempat tertahan ketika Risa menyodorkan selembar kertas itu padaku seraya menyunggingkan senyum tipis.

Aku melirik tulisan cetak tebal di bagian atas brosur tersebut.

‘Marilah Mendekatkan Diri kepada Sang Pencipta.’

Dahiku berkerut dalam. Slogan macam apa ini? Ini mau mengajak murid-murid ikut pemilihan OSIS atau pendaftaran organisasi radikal? Sepertinya mereka berdua benar-benar kagak ada harapan. Aku menggeleng-gelengkan kepala, lalu melangkah pergi.

Di bawah tangga gedung utama, Ekhsan dan seorang siswi kelas sepuluh bernama Citra sedang sibuk membagikan brosur versi mereka. Begitu menyadari keberadaanku, Ekhsan melesat memotong jalanku seraya menepuk bahuku kencang.

"Pilih gue ya, Vel! Awas kalau kagak!" serunya mantap, menyodorkan kertasnya.

Aku membaca kalimat di sana: 'Di dalam tubuh yang sehat, bersemayam jiwa yang kuat.'

"Oke... slogan lo lumayan kece," kataku terkekeh canggung seraya menggaruk tengkuk.

Ekhsan kembali berburu suara, sementara aku melanjutkan langkah menuju kelas. Di dalam, Irul tampak santai merengkuh ponselnya. Di sudut meja tergeletak wadah stirofoam—aroma gurih kuah bubur ayam menyeruak dari sana. Beberapa detik setelah jemarinya menari di atas layar, Irul berdiri menyambar kotak makanan itu lalu bergegas keluar kelas.

Didorong rasa penasaran, aku mengekor di belakangnya dari jarak aman. Irul menuruni tangga dan berhenti di lantai satu. Di sana, seorang gadis berjilbab rapi sudah menunggunya dengan wajah tersipu saat menerima wadah bubur tersebut.

"Bukankah Yura sangat manis, Kak Ravel?"

Aku melompat kaget. Ringe tahu-tahu sudah berdiri tepat di sampingku, menopang dagu di atas pegangan tangga seraya memperhatikan Irul.

"Lo... kenal sama gadis itu?" tanyaku menetralkan napas.

"Tentu saja," sahut Ringe percaya diri. "Namanya Yura, hobinya nonton drakor, makanan kesukaannya—"

"Tunggu-tunggu, itu info udah kelewat detail," potongku heran.

"Biasa saja, aku kan Ringe Dewi Fortuna. Ratu jaringan informasi," Ringe berdeham kecil, menepuk dadanya bangga. "Makanya, kalau Kak Ravel merekrut aku jadi wakil... pemilihan OSIS ini dijamin bakal menang mudah."

Aku mengamati Irul dari kejauhan. Anak itu memang sering bersikap impulsif kalau sudah berurusan dengan cewek. Tapi aku memilih tidak ikut campur—itu ranah pribadinya. Aku memalingkan wajah, menatap Ringe yang masih menungguku.

"Udah, balik ke kelas sana. Sebentar lagi bel. Gue mau pergi dulu."

Aku berbalik melangkah naik, namun Ringe justru mengekor, melompat-lompat kecil seperti katak melintasi anak tangga. "Jadi, apa rencana kampanye Kak Ravel?"

"Gue kagak minat sama pemilihan ini, jadi—"

Ucapan dan langkahku terhenti bersamaan. Di bordes tangga atas, Risa dan Dhani sedang berjalan beriringan membawa sisa tumpukan brosur. Ringe mendadak menghentikan lompatannya, menatap Risa dan Dhani bergantian dengan senyum jahil yang mencurigakan.

"Wah... Kak Risa beneran berpasangan sama Dhani, ya?" cetus Ringe, menyenggol siku Dhani tanpa canggung. "Kalian berdua kelihatan cocok banget. Yang satu gadis populer di kelas dua, yang satu cowok hits di kelas satu."

Dhani terkekeh halus, mengibaskan tangannya sopan. "Kamu terlalu memuji, Ringe. Justru kamu yang populer. Sepertinya Kak Ravel membuat pilihan wakil yang sangat tepat."

"Jadi kalian berdua bakalan berpasangan di pemilihan nanti? Wah, cocok banget!" Risa bertepuk tangan sekali, menyunggingkan senyum manis tanpa beban.

"Tentu saja!" sahut Ringe riang, merangkul lengan seragamku santai. "Aku dan Kak Ravel itu pasangan serasi. Aku cantik dan pinter, Kak Ravel ganteng. Gimana kalau nanti jam istirahat kita ngumpul di kantin buat bahas strategi kampanye, Kak?"

Aku memajukan tangan, menjentikkan buku jariku pelan ke dahi Ringe.

Lihat selengkapnya