Ada pepatah tua yang selalu kukagumi: sedia payung sebelum hujan.
Prinsip itu kutegang erat-erat agar aku tidak menjelma menjadi beban bagi orang lain. Salah satu alasan terbesar mengapa Si Brengsek dahulu memohon rujuk pada Ibu sudah pasti karena dia tercekik jerat utang yang menumpuk. Pria itu tidak punya mental maupun persiapan untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
Namun, aku bukanlah dia. Aku menolak keras menjadi Si Brengsek berikutnya.
Sebab itulah, aku rela menukar sore-sore yang biasanya kuhabiskan untuk bermain game atau nongkrong tidak jelas dengan bekerja kasar. Berbekal aplikasi pencari kerja paruh waktu, di sinilah aku berada sekarang—berdiri di antara riuk deretan gerai makanan, menjaga kios Cheese Coin di area pusat kuliner. Sudah dua bulan aku melakoni pekerjaan ini demi mengumpulkan modal kuliah secara mandiri.
Sore itu, aku sedang menyiapkan parutan keju bersama Kak Yudha, senior gerai yang sudah lebih dulu bekerja.
"Kak, katanya sore ini ada anak baru yang masuk?" tanyaku menata piring saji.
Kak Yudha melirik jam tangannya. "Tunggu aja. Kata Bu Riyati, orangnya sampai jam lima sore."
Tepat pukul lima, seorang gadis melangkah mendekati kios. Dia mengenakan jaket hoodie kebesaran dengan masker kain menutup separuh wajahnya. Begitu dia merosotkan hoodie dan melepas maskernya, mataku membelalak seketika.
"Faiza?" seruku menunjuknya.
Gadis itu tertegun sejenak. "Lho, Ravel? Kamu kerja di sini juga?"
Aku membisu beberapa detik. Bayangan hari itu mendadak melintas tajam di kepalaku—hari di mana aku, teman-teman sekelas, dan beberapa guru datang melayat ke rumahnya. Ibu Faiza akhirnya menyerah pada penyakit kronisnya dan tutup usia. Saat itu, semua orang melontarkan kalimat belasungkawa formal, kata-kata klise untuk 'bersabar', namun hanya aku yang memilih bungkam di sudut ruangan. Aku tahu betul, tak ada satu pun deretan kata di dunia ini yang sanggup menambal rasa hampa akibat kehilangan orang tercinta.
Dan sore ini, di hadapanku, Faiza berdiri tegap mengenakan pakaian kerja.
"Gue... udah dua bulan di sini," gagasku seraya menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Cuma ya... kagak nyangka aja ketemu lo di sini."
"Bu Riyati itu kenalan Ayah," jelas Faiza tenang, menarik rambut panjangnya untuk diikat rapi ke belakang. "Beliau tawarin kerjaan waktu tahu aku lagi cari kegiatan. Enggak nyangka malah se-gerai sama kamu."
Kak Yudha tertawa kecil. "Wah, kebetulan banget kalau udah saling kenal. Jadi gue nggak perlu repot-repot ngajarin dari nol, ya."
Aku menyerahkan celemek khusus pegawai pada Faiza. Sambil menunggu pesanan pertama datang, aku mengajarinya tata letak bahan dan cara mengoperasikan mesin pencetak adonan. Di tengah jeda saat Kak Yudha sibuk dengan ponselnya, aku memberanikan diri membuka suara.
"Lo... lagi butuh uang banget, Za?" tanyaku pelan.
Faiza menyapu remah tepung di atas meja stainless steel. "Enggak juga. Cuma mau ngisi waktu aja. Sejak Ibu enggak ada, rumah rasanya terlalu sepi. Daripada ngelamun, mending aku kerja."
"Lo kuat banget ya, Za," gumamku, menatapnya tulus. "Bahkan setelah kehilangan sebesar itu, lo masih bisa berdiri setegar ini."
Faiza menghentikan usapannya. Dia menunduk dalam-dalam, membuat bayangan poni menutup sepasang matanya. "Aku enggak sekuat itu, Vel. Sama sekali enggak..."
Melihat bahunya yang sedikit bergetar, aku menghela napas. "Gue... pernah ditinggal Nyokap, walaupun cuma sebentar. Dia kabur karena kagak tahan sama Bokap yang kasar. Waktu itu gue ngerasa hampa dan hancur banget. Gue emang kagak pinter ngerangkai kata-kata hiburan, Za... tapi gue paham betul rasa sesak di dada lo."
Faiza mendongak, matanya berkaca-kaca. "Ravel, sebenarnya aku..."