Cascade

Ribato
Chapter #56

BAB LV: Aku dan Gelombang Kecil yang Mengusik

Langkahku terhenti kaku di selasar utama. Kertas HVS yang tertempel di papan pengumuman itu seolah menyedot seluruh udaraku. Di sana, di bawah judul Kandidat Ketua OSIS, lima nama tercetak jelas: Risa, Ekhsan, Putri, Irul, dan Ravel.

Aku mengucek mata, berharap salah lihat. Tapi nama itu tetap ada. Ravel. Namaku. Padahal seingatku, jangankan mendaftar, memikirkan untuk masuk struktur OSIS saja tidak pernah terlintas di kepalaku untuk tahun ini.

Dengan dada bergemuruh, aku melangkah cepat menuju kantor Kepala Sekolah. Pintu kayunya masih terkunci rapat. Ruangan itu kosong. Aku akhirnya meluruh, menenggelamkan tubuh di atas kursi semen bertekel dingin di pelataran koridor, berusaha menenangkan napas yang tersendat.

Tenang, Vel. Namamu di sana bukan berarti lo otomatis terpilih, batinku merasionalisasi, menatap lantai semen di bawah kaki. Kalau lo kagak kampanye, cuma duduk manis dan bersantai, mana ada yang sudi milih lo? Lagian saingan lo orang-orang abnormal semua.

Aku mulai memetakan sainganku satu per satu. Siapa yang sanggup mengalahkan Ekhsan—cowok yang merasa dirinya paling tampan se-angkatan? Atau Putri—gadis jangkung tukang rias yang jago basket dan punya pengikut di mana-mana? Lalu ada Risa—si anak emas sekolah, juara umum dua semester berturut-turut sekaligus pemenang tilawah Al-Qur'an.

Memikirkan nama-nama itu membuat bulu kudukku berdiri, tapi di saat bersamaan ada rasa lega yang menyusup. Selama aku berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa, aku pasti tereliminasi dengan sendirinya dari panggung konyol ini.

Setelah membulatkan tekad untuk tidak peduli, aku kembali ke kelas. Bangku Risa di belakang sudah dipenuhi kerumunan murid dari kelas lain yang riuh memberikan dukungan. Aku memilih melompati meja depan untuk meletakkan tas. Di sampingku, Irul tampak sibuk mengusap layar ponselnya.

"Jadi lo ikut nyalon Ketua OSIS juga, Rul?" tanyaku.

"Kayaknya nama gue ditulis tanpa persetujuan," sahut Irul tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari layar.

Melihat fokusnya yang terbagi, rasa jengkelku mencuat. Aku menendang kaki bangkunya cukup keras hingga bergeser.

"Woi! Ngapain lo?!" bentak Irul kaget.

"Habisnya lo gue ajak ngobrol malah asyik sendiri!"

"Ganggu aja lo. Gue lagi asyik ngobrol sama Yura nih."

Aku memicingkan mata. "Gadis mana lagi itu? Jangan bilang kenalan online lagi. Lo kagak kapok—"

"Santai kali, ini bukan kenal online," potong Irul cepat, lalu melirik waspada ke arah Faiza. "Lo tahu adik kelas yang gue deketin pas MPLS kemarin?"

"Wah... lo emang sesuatu ya," aku mengacungkan jempol. "Baru beberapa bulan lalu lo menangis-nangis di—"

Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, Irul sudah membungkam mulutku rapat-rapat seraya menatap Faiza dengan cemas.

"Pokoknya nanti sepulang sekolah Pak Efendi memanggil kita," bisiknya cepat sebelum melepaskan tangannya.

Waktu berlalu cepat, dan sehabis bel terakhir, aku mendatangi kantor Kepala Sekolah. Di dalam, Irul, Ekhsan, Putri, dan Risa sudah duduk berjejer.

"Kau terlambat, Nak Ravel. Silakan duduk," Pak Efendi menunjuk kursi kosong di hadapannya.

Aku duduk, dan Pak Efendi menyandarkan punggungnya seraya membuka pembicaraan.

"Untuk kandidat OSIS tahun ini, selain mereka yang mencalonkan diri, sisanya dipilih oleh Bapak dan juga Kak Auliyah. Beberapa kandidat yang dirasa Kak Auliyah pantas adalah Nak Ravel dan Irul. Kalian berdua adalah murid yang direkomendasikan Kak Auliyah." Pak Efendi mengedipkan sebelah matanya. "Pemilihan akan diadakan dua bulan lagi dan kalian bebas berkampanye. Tentu saja dengan cara bersih. Lalu, kalian harus memilih wakil dari kelas satu untuk membantu kalian. Saat pemilihan nanti, kalian wajib menyampaikan pidato visi dan misi. Ada yang ingin ditanyakan?"

Rencanaku memang diam, tapi rasa ganjal di dadaku membuat tanganku terangkat tanpa sadar. Pak Efendi mengangguk, mempersilakanku.

"Jadi... apa saya boleh mengundurkan diri, Pak? Saya rasa saya tidak akan mampu," kataku terus terang.

"Apa maksudmu? Kau punya ide-ide bagus tahun lalu. Bazar sekolah, ustaz untuk Pondok Ramadan... kenapa jadi tidak mampu?" Pak Efendi tersenyum tulus.

"Itu... itu cuma kebetulan, Pak. Saya sungguh tidak bisa jadi Ketua OSIS. Lagipula saya ada kerja sampingan tiap sore, jadi mungkin tidak akan ada waktu."

Lihat selengkapnya