Cascade

Ribato
Chapter #58

BAB LVII: Aku dan Garis Batas

Dhani Apriyansyah—sosok adik kelas yang belakangan ini seperti duri di dalam dagingku. Meskipun perawakannya biasa saja dan Ekhsan jelas menang telak dari segi visual, Dhani memiliki karisma alami yang sulit diabaikan. Tutur katanya selalu tertata rapi, caranya menjaga jarak dengan para siswi begitu santun, belum lagi keterampilannya memperbaiki perangkat elektronik sekolah yang membuatnya dengan cepat disukai banyak orang. Sejak dia membantu Risa memperbaiki berkas presentasi MPLS yang rusak beberapa bulan lalu, aku sudah memasang radar waspada padanya.

Dan kini, kami berdua duduk berhadapan di sudut kantin yang sepi. Semangkuk es soda berada di depanku, sementara cangkir kopi hitam panas mengepul di hadapan Dhani.

"Jadi, apa yang mau lo omongin?" bukaku datar, bersedekap dada.

Dhani meletakkan cangkir kopinya dengan gerakan amat tenang. Tatapannya lurus menghantam mataku. "Baiklah, aku akan jujur, Kak Ravel. Aku tidak akan menyerah soal Kak Risa."

"Menyerah?" Aku terkekeh sinis, menutup rasa sengatan di dada. "Suka sama Risa? Ambil saja, apa hubungannya sama gue? Lagian gue sama dia kagak ada hubungan apa-apa."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku, padahal bagian dalam dadaku berteriak menolak.

Dhani menatapku beberapa detik, lalu menghela napas halus. Dia mengulurkan tangan, menepuk pelan punggung tanganku yang mengepal di atas meja. "Benarkah? Syukurlah. Aku sempat berpikir Kak Ravel punya perasaan yang sama. Jadi... sepertinya perasaan Kak Risa yang selama ini bertepuk sebelah tangan."

Aku sentak menarik tanganku kembali, menatapnya tajam. "Maksud lo apa?!"

"Ah, ternyata Kak Ravel tipe cowok yang sama sekali tidak peka, ya?" Dhani tersenyum tipis, namun matanya sama sekali tidak menyiratkan kebohongan. "Karena Kak Ravel mengaku tidak punya perasaan padanya, akan kuberitahu satu hal. Kak Risa itu selalu membangun benteng dan menjaga jarak dengan semua laki-laki—termasuk aku. Tapi kalau di dekat Kakak, benteng itu lenyap begitu saja. Jujur, aku sempat cemburu dan berniat mundur. Tapi beruntunglah, Kak Ravel sendiri yang bilang kalau tidak suka padanya. Apalagi Kakak juga berniat kabur dari pemilihan OSIS. Jadi—"

"Lo kalau ngomong banyak bacot juga, ya," potongku kaku, gigiku bergetuk rapat.

Dhani memiringkan kepalanya sedikit. "Kenapa Kak Ravel pasang wajah menyeramkan begitu? Bukankah tadi Kakak sendiri yang bilang—"

"Gue suka... gue suka sama Risa!" seruku tertahan, menumpahkan semua yang kusembunyikan di balik tenggorokan.

Dhani tertegun sejenak. Namun, sedetik kemudian, raut wajahnya yang ramah perlahan meluruh, berganti dengan ekspresi dingin dan amat serius.

"Begitu rupanya," desah Dhani, menyandarkan punggungnya di kursi. "Jika memang perasaan kalian saling bersambut, aku mau tanya satu hal, Kak Ravel. Bagaimana jika seandainya Kak Risa sendiri yang menyatakan cintanya padamu?"

Mulutku terkatup rapat. Jemariku di atas meja bergetar pelan. Sebuah pertanyaan sederhana, namun rasanya seperti lidahku mendadak kelu untuk menjawabnya.

"Sepertinya aku sudah mendapatkan jawabannya," Dhani berdiri dari kursinya, merapikan kerah seragamnya yang tidak kusut. "Aku akan memenangkan panggung OSIS ini untuk Kak Risa. Dan jika itu terjadi, aku minta Kakak menolak kalau Kak Risa memohon Kakak untuk bergabung. Bukankah itu yang Kak Ravel harapkan selama ini? Lari dari tanggung jawab?"

"Lo mau bikin Risa jadi bahan taruhan?!" tegasku membentak pelan.

"Tidak. Aku cuma tidak sudi melihat gadis sebaik Kak Risa digantung oleh cowok penakut dan tidak punya prinsip seperti Kakak," cecar Dhani tajam, menatapku tanpa berkedip. "Kakak cuma memanfaatkan perasaannya tanpa pernah berani memberikan kepastian. Aku sangat membenci hal itu. Karena itulah, aku akan memenangkan pemilihan ini dan merebut tempat kalian berdua."

Aku tertawa sumbang. "Dengan slogan konyol lo yang mengajak orang mendekatkan diri pada Tuhan itu?"

"Slogan itu dibuat sendiri oleh Kak Risa, dan menurutku itu sangat indah," sahut Dhani tenang. "Jangan meremehkanku, Kak Ravel. Aku bukan pria ragu-ragu yang penakut seperti Kakak. Kalau Kakak memang tidak ingin tempat Kakak direbut... maka hadapi aku. Tidak, hadapi kami di pemilihan nanti."

Dhani berbalik dan melangkah pergi, meninggalkanku yang mematung. Itu adalah sebuah tantangan terbuka yang teramat telanjang. Dhani Apriyansyah memang berbahaya. Dia berani, lugas, bertindak tanpa ragu, dan memiliki kemampuan. Sekolah ini jelas akan jauh lebih tertata jika dipimpin oleh orang sepertinya. Lalu aku? Aku cuma pecundang yang selalu mencari celah untuk kabur.

Aku menenggak sisa es sodaku hingga tandas. Tenggorokanku terasa kering dan peluh dingin menetes di pelipisku.

Pelajaran Fisika di jam pertama berakhir. Guru jam berikutnya berhalangan hadir, membuat suasana kelas II-IPA langsung berubah riuh bak pasar kaget. Ada yang sibuk memetik gitar di sudut ruangan, mendengarkan musik, hingga asyik bertarung di dalam gim ponsel.

Putri tiba-tiba melangkah ke barisan belakang, membawa tumbler minuman stainless miliknya lalu menggebrak mejaku pelan.

"Daripada bosan mati, gimana kalau kita main Truth or Dare?" usul Putri lantang.

Ide itu langsung disambut sorak-sorai. Dua meja belakang digeser menyatu, dan beberapa murid—termasuk aku, Irul, Faiza, dan Risa—duduk melingkar. Putri meletakkan tumblernya di tengah meja, lalu memutarnya kencang. Botol itu berputar semakin pelan hingga moncongnya berhenti tepat menunjuk ke arah Faiza.

"Nah! Truth or Dare?" tanya Putri antusias.

Lihat selengkapnya