Cascade

Ribato
Chapter #59

BAB LVIII: Aku dan Janji di Atas Kertas


‘Dari Murid, Untuk Murid, Bersama Membangun Sekolah.’

Itulah slogan yang terpampang di atas lembaran kertas HVS di depan kami. Sore itu, aku dan Ringe duduk di sudut kafe tak jauh dari sekolah. Di hadapan Ringe berjejer mangkuk seblak berkuah merah membara, piring banana split yang leleh, dan segelas es teh manis. Sementara aku hanya memesan sepiring kentang goreng dingin.

Ringe mengamati selembar draf kampanye yang kutulis. Dahi mulusnya berkerut dalam, alisnya menukik tajam.

"Kak Ravel serius mau bikin selebaran kayak begini?" tanya Ringe meragukan.

"Ada yang salah? Itu pemikiran terbaik gue," sahutku santai, menggeser piring kentang.

"Slogannya sih oke," cetus Ringe, menunjuk poin pertama dengan sendok es krimnya. "Tapi janji kampanyenya kelewatan muluk, Kak! Karya wisata ke Labuan Bajo? Seriusan?! Kakak kagak mikirin anggaran sekolah apa?"

Aku tersenyum kecut, menggaruk tengkuk. "Lo... tahu soal begituan?"

"Aku ini mantan Ketua OSIS waktu SMP, ya!" omel Ringe menepuk dahinya sendiri. "Aku tahu sedikit-sedikit soal kalkulasi anggaran. Ini benar-benar kagak realistis!"

"Ah, yang penting kan menarik perhatian dulu. Soal janji bisa kita akali nanti. Gue sebut ini Nusantara Style," pamerku terkekeh.

"Kak Ravel!" Ringe melotot gemas. "Bicara Kakak udah mirip anggota dewan korup yang haus balik modal! Bikin yang lebih masuk akal, dasar!"

"Oke, oke... gue perbaiki nanti," batukku menetralkan suasana. "Ngomong-ngomong, gimana peta kekuatan kita di pemilihan kali ini?"

Ringe menyandarkan punggungnya, menyendok seblak pedasnya seraya berpikir. "Lawan terberat kita itu Kak Risa sama Kak Putri. Kak Putri pegang suara anak-anak kelas tiga karena dia populer. Kalau Kak Risa jelas mendominasi anak-anak kelas dua."

"Ekhsan gimana? Dia kan banyak penggemarnya."

"Ekhsan memang disukai banyak orang, tapi pas MPLS kemarin dia kagak kelihatan menonjol," analisis Ringe tangkas. "Justru kehadiran Kak Ravel yang nempel di ingatan anak-anak. Kakak yang naik panggung, Kakak juga yang duduk di kursi pengurus utama sebagai wakil. Menurutku, peluang Kakak buat nyuri suara itu gede banget."

"Jadi ganjalan utamanya cuma Putri sama Risa?"

"Yup. Kak Putri manfaatin akun Instagram-nya yang follower-nya ribuan. Selebarannya juga penuh janji manis, plus promosi di YouTube," Ringe menatapku mantap. "Tapi tenang, aku udah punya rencana."

Selesai makan, Ringe memaksaku mengantarnya pulang. Dia menyuruhku menunggu di depan pagar rumahnya, sebelum kembali keluar membawa sebutir bola basket yang sedikit mengelupas.

"Ngapain lo bawa-bawa bola?" tanyaku heran.

"Tenang saja. Serahkan padaku," Ringe tersenyum penuh misteri. "Parkir motor Kakak di sini, kita jalan ke taman!"

Kami berjalan menuju taman komunal di ujung kompleks yang memiliki lapangan semen kecil dengan satu ring basket tanpa jaring. Ringe berlari kecil memantulkan bola, lalu melakukan tembakan lay-up dari dekat. Bola memantul keras di papan pantul dan menggelinding ke arah kakiku.

"Jangan bilang lo mau..."

Lihat selengkapnya