Menjadi seorang pemimpin berarti bersedia berdiri di barisan paling depan dan menanggung harapan banyak orang. Sebenarnya aku lebih memilih mati tersedak air kobokan daripada melakukan itu. Upacara bendera Senin pagi itu terasa beda. Seluruh petugas diambil alih oleh anak-anak kelas satu, sementara Kak Auliyah berdiri tegap di tengah lapangan. Di bawah sorot ratusan pasang mata, aku melangkah maju. Kak Auliyah menyarungkan jas almamater OSIS ke tubuhku—sebuah simbolis sederhana yang menyisakan beban berat di kedua pundakku.
Usai upacara, Pak Efendi memanggilku ke ruangannya. Suara ketukan pintuku disambut anggukan hangat dari sang kepala sekolah.
"Lihat, sudah kubilang kamu bisa melakukannya, Nak Ravel," ujar Pak Efendi tertawa kekeh. "Meski kadang suka bikin ulah, kamu selalu menyelesaikan tugasmu dengan serius."
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak," sahutku canggung, merapikan kerah jas yang terasa kaku.
"Kamu ingat saat pertama kali mendaftar di sekolah ini sendirian?" Pak Efendi menyandarkan punggungnya, menatapku menerawang. "Kamu mengurus semua berkas administrasi dan bilang kalau orang tuamu berpisah. Hari itu, saya tidak cuma melihat seorang anak belasan tahun, tapi pemuda yang dipaksa dewasa lebih cepat oleh keadaan. Ternyata tebakan saya tidak salah. Walau pidato visi-misimu kemarin agak nyeleneh dan menabrak aturan."
Pak Efendi terkekeh menggelengkan kepala, lalu melambaikan tangannya. "Jadi, apa kamu sudah menentukan susunan pengurus inti?"
Tanpa bersuara, aku merogoh ponsel dan mengirimkan berkas draf struktur OSIS untuk satu tahun ke depan. Pak Efendi meneliti layar ponselnya, dahinya berkerut tipis. "Sepertinya tidak banyak perubahan dari periode lalu. Baiklah, bagaimana dengan agenda LDKS dan perekrutan anggota baru?"
Setelah merincikan seluruh garis besar rencana kerja, aku pamit keluar. Sepulang sekolah, aku mengumpulkan anak-anak kelas dua yang kuproyeksikan menjadi pengurus inti dan ketua bidang di ruang OSIS. Aku mengamati kursi kayu di ujung meja—kursi yang selama ini diduduki Kak Auliyah. Kini, akulah yang harus menempatinya.
Aku berdiri di depan papan tulis, menggoreskan spidol hitam membagikan susunan jabatan.
"Ini struktur pengurus inti untuk tahun ini," bukaku tegas. "Risa akan kembali memegang posisi Sekretaris Utama karena dia yang paling paham alur administrasinya, dan April memegang Bendahara. Untuk ketua bidang, nama-namanya sudah tertera di papan. Ada yang mau disanggah?"
April langsung mengacungkan tangan, memprotes beban kerja bendahara dan meminta posisinya ditukar. Beberapa ketua bidang lain pun mulai berbisik malas menanggung tanggung jawab. Namun, aku tidak memberi ruang untuk tawar-menawar.
"Keputusan ini sudah final dan disetujui Pak Efendi," potongku tenang namun tak terbantahkan. Mau tidak mau, mereka akhirnya menerima, dan tugas pertamaku resmi dimulai.
Hari Minggu tiba. Area lapangan sekolah sudah dipenuhi riuh anak-anak kelas satu yang mengenakan seragam olahraga. Di dampingi Risa dan Irul, aku berdiri di bordes lapangan memeriksa jalannya seleksi baris-berbaris. Ada yang gerakannya kaku bak robot, ada pula yang kelewat luwes. Namun, fokus penilaianku bukan cuma ketangkasan fisik, melainkan rasa percaya diri dan cara mereka menyelesaikan kendala.
Tepat pukul satu siang, daftar nama peserta yang berhak lolos ke tahap LDKS berhasil dikantongi. Sebelum rapat penutupan dimulai, Irul mendadak menarik lengan seragamku menuju sudut kantin yang sepi.
"Ada apa, Rul?" tanyaku heran.
Irul menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya bersemu kaku. "Soal... kandidat yang lolos LDKS, Vel."
"Kenapa?"
"Anu... tolong loloskan Yura, ya? Gue... gue mau nembak dia pas LDKS nanti," akuisinya pelan.
Aku melirik lembaran kertas di tanganku. Nama Yura memang sudah melingkar merah di sana sejak awal. Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tabiat sahabatku yang satu ini.
"Lo benar-benar kagak ada obatnya kalau udah urusan cewek," terkekehku menyikut dadanya. "Tenang aja, namanya udah masuk dari tadi. Ayo balik ke ruangan biar cepet kelar. Gue ada janji sore ini."
"Dih, sok sibuk amat jadi Ketua OSIS," gerutu Irul mengikutiku dari belakang.