Cascade

Ribato
Chapter #61

BAB LX: Aku dan Perasaan yang Bocor

Perasaan itu misteri paling memuakkan. Sehebat apa pun kamu mencoba menyangkal, kamu tidak akan pernah bisa menyembunyikannya selamanya. Cinta, benci, rasa muak—serapat apa pun kamu menyumbatnya, suatu saat akan bocor juga.

Pagi itu, bus sekolah yang membawa pengurus OSIS dan peserta LDKS melaju membelah jalanan menuju markas perkemahan militer. Selain anak kelas satu dan dua, beberapa mantan pengurus kelas tiga—termasuk Kak Auliyah—ikut mendampingi. Setelah membantu para guru menata barang di bagasi bawah, aku melangkah menyusuri lorong bus untuk mencari bangku kosong.

"Ravel... Ravel!"

Risa melambaikan tangannya penuh semangat, menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya. Tanpa ragu, aku menghampirinya, melemparkan tas ranselku ke bawah rak, lalu duduk di sebelahnya.

Kecangguhan mendadak menyeruak tebal. Aku melirik Risa—gadis itu membalas tatapanku dengan mata berbinar cerah dan ukiran senyum yang teramat manis. Begitu pandangan kami beradu, secara refleks kami berdua melempar muka ke arah jendela.

"B--bagaimana kencanmu dengan Ringe kemarin?" tanya Risa tiba-tiba, memecah hening.

"Itu kagak bisa disebut kencan," sahutku kaku. "Lagian sejak kapan lo kenal kata-kata begitu?"

"Kamu pikir aku setidak tahu itu?" Risa memajukan bibirnya, memalingkan wajah ke arahku. "Laki-laki dan perempuan pergi berdua ke mal itu kan dinamakan berkencan. Habis berkencan biasanya pacaran, terus—"

"Tunggu-tunggu, dapat pengetahuan dangkal dari mana lo?" potongku heran.

"Aku googling dan baca buku, tahu!" cetusnya cemberut.

Manis banget, bangsat... Aku menggeleng-gelengkan kepala, terbatuk pelan menetralkan dada yang mendadak berdesir. Konsentrasi, Vel! Jangan terbuai.

"Gini ya, Kepala Melon," ujarku memutar bola mata. "Laki-laki dan perempuan jalan berdua kagak otomatis kencan. Misal lo pulang sekolah bareng Dhani terus mampir ke rumahnya, apa itu disebut kencan juga?"

"Ya tidak lah," jawab Risa polos. "Dhani kan sudah aku anggap seperti adikku sendiri."

Jantungku mendadak mencolot kegirangan. Sebuah cengiran bodoh tanpa sadar terukir di bibirku, membuat Risa memiringkan kepalanya bingung.

"Kamu kenapa tersenyum begitu, Vel? Ada yang lucu?"

"Kagak," aku berdeham keras, mengusap tengkuk. "Kencan itu cuma berlaku buat dua orang yang sama-sama punya perasaan. Karena lo pernah bilang pernah suka sama cowok, lo bisa ajak cowok itu keluar makan atau jalan-jalan."

Risa menerawang menatap langit-langit bus. "Sepertinya menyenangkan ya, kalau bisa pergi bersama orang yang kita suka..."

Aku menatap profil samping wajahnya dengan tumpukan pertanyaan yang berdesakan di kepala. Siapa sebenarnya cowok yang berhasil mengusik hati gadis ini? Ekhsan? Dhani? Atau... tidak, kagak mungkin gue.

Untuk mengusir pikiran tak masuk akal itu, aku cepat-cepat merogoh ponsel dan membuka gim online. Di tengah fokusku mengeksekusi musuh di layar, Risa merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus stik kentang rasa balado. Gadis itu mengunyah santai seraya menggeser duduknya rapat ke sampingku, menyandarkan dagunya dekat dengan bahuku untuk mengintip layar ponsel.

Aroma bedak bayi yang lembut dari tubuh Risa seketika menyerbu indra penciumanku. Konsentrasiku hancur lebur. Karakter gimku tewas mengenaskan secara beruntun.

Aku mendengkus pasrah, mematikan layar ponsel lalu menyandarkan kepala di sandaran kursi. Aku selalu membangun benteng tinggi di hadapan gadis ini, tapi entah mengapa, pagi ini aku ingin jujur.

"Gim itu... yang nyelamatin gue waktu kecil dari pertengkaran orang tua," gumamku pelan, menatap lurus ke depan.

Risa menghentikan kunyahannya, menoleh padaku.

Lihat selengkapnya