Cascade

Ribato
Chapter #62

BAB LXI: Aku dan Takdir yang Menembus Benteng

Jodoh dan kematian adalah dua hal yang paling kubenci untuk kupikirkan. Keduanya sama-sama tidak bisa kutebak, tidak bisa kuhindari, dan yang paling menyebalkan—tidak bisa kukendalikan.

Materi kepemimpinan sesi pertama yang dibawakan Pak Effendi di aula terbuka baru saja usai bersamaan dengan gema azan Zuhur. Usai membantu merentangkan karpet panjang untuk salat berjemaah, aku melangkah keluar gedung, menyandarkan punggung pada pilar semen yang dingin. Pemandangan di halaman ini mendadak melempar ingatanku pada LDKS tahun lalu—saat Risa mengajakku salat lalu kubalas dengan ketus, dan saat Ekhsan memberanikan diri menyatakan cinta yang berakhir dengan penolakan kaku.

"Ravel... kenapa berdiri di sini? Kamu... mau bolos salat lagi?"

Suara lembut itu memecah lamunanku. Risa berdiri dua langkah di depanku, alisnya berkerut tipis dengan tatapan penuh selidik.

Aku bergidik pelan, mengusap tengkuk. "Ngeri amat. Dialog lo persis kayak dejavu tahun lalu."

" Dejavu?" Risa memiringkan kepalanya bingung.

"Lo lupa?" terkekehku tipis. "Tahun lalu di tempat ini, lo nyuruh gue salat dan gw nolak sambil ngomong kasar. Dulu lo nyebelin banget, tahu?"

Risa memajukan bibirnya, menepuk bahuku pelan. "Ish! Kamu yang jauh lebih menyebalkan, Ravel! Waktu itu aku membatin, galak banget ini cowok, pasti hidupnya penuh masalah. Tapi... setelah makin kenal, ternyata kamu itu baik. Peduli sama orang lain, selalu kerja pakai hati, terus... keren banget kalau lagi presentasi."

Aku menyeringai, menarik kerah jasku dengan gaya jemawa. "Apaan nih? Jangan-jangan lo mulai jatuh cinta sama gue? Gue tahu kok, ketampanan gue ini emang meresap sampai ke pori-pori."

Risa mendadak terdiam. Rona merah tipis merayap cepat di pipinya, dan dia menunduk mendalam, meremas jemarinya sendiri. Reaksi yang jauh dari prediksiku itu membuat dadaku berdesir hebat.

"Ris—"

"Kak Ravel!"

PAK!

Sebuah tepukan keras di punggung hampir membuatku terjungkal ke depan. Ringe sudah berdiri di sampingku dengan cengiran tanpa dosa.

"Ngapain sih lo?!" omelku mengelus punggung.

"Lagian Kak Ravel malah asyik bermesraan di sini!" ledek Ringe melompat riang. "Udah mau ikamah tahu! Ayo wudhu... Yeay!"

Aku menoleh, namun sosok Risa sudah menghilang menyelinap ke barisan shaf perempuan.

Sore harinya, usai salat Asar dan sesi materi dari Kak Auliyah, panitia OSIS diberi waktu istirahat di sudut aula sebelum rapat jurit malam. Aku duduk menyendiri di lantai bersandar dinding, memangku laptop seraya mengunyah nasi bungkus.

Ekhsan mendadak menggeser duduknya tepat di sebelahku, membuka bungkus nasinya sendiri.

"Makin lengket aja lo sama Risa," buka Ekhsan santai, matanya menatap Risa di kejauhan.

"Perasaan lo aja," sahutku datar. "Kenapa? Masih cemburu? Bukannya lo udah jadian sama Elfi?"

"Gue udah putus, Vel."

Aku hampir tersedak gulai nangka. "Seriusan lo?!"

"Iya," Ekhsan tersenyum pahit, menunduk menatap nasinya. "Elfi ketahuan selingkuh. Ternyata dia punya cowok lain di sekolah luar."

"Gila..." geleng-geleng kepala. "Cowok tertampan di angkatan kita pun kagak luput dari tikungan tajam."

"Kagak usah ngeledek lo," Ekhsan menyenggol bahuku, lalu berbisik pelan. "Vel... gue mau minta tolong. Bisa kagak lo pasangin gue sama Risa pas jurit malam nanti?"

Aku menatap Risa dari kejauhan. Rasa rendah diri yang membayang di dadaku mendadak berbisik sinis. Ekhsan itu cowok baik, punya tampang, dan latar belakangnya jelas. Aku memang sudah berjanji tidak akan lari, tapi berdiri bersanding dengan Risa masih terasa seperti mimpi yang terlalu mahal.

"Ya udah... nanti gue usahain," gumamku akhirnya.

"Wah, memang sahabat sejati lo, Vel!" seru Ekhsan kegirangan, menepuk pundakku keras sebelum pindah duduk mendekati Risa.

Belum sempat aku melanjutkan suapan, Irul mendadak meluncur duduk di sisiku, meremas bahuku kuat-kuat sampai sendokku hampir terlepas.

"Apa-apaan sih kalian ini?!" seruku jengkel.

"Vel... please, tolongin sahabat lo yang ganteng ini," puji Irul memasang wajah memohon.

"Tolong apaan lagi?"

"Peserta kelas satu kan ganjil," bisik Irul cengengesan. "Bisa kagak lo atur biar gue berpasangan sama Yura di pos jurit malam nanti?"

Aku menepuk jidatku kencang hingga menimbulkan suara plak yang nyaring. "Lo tahu ini namanya nepotisme?! Gimana kalau anak-anak lain tahu?"

Lihat selengkapnya