Laut dan manusia memiliki kemiripan yang pekat. Kadang tenang bak cermin, kadang bergolak tanpa ampun. Biru jernih atau kelam guram, kamu tidak akan pernah benar-benar tahu monster atau keindahan apa yang tersembunyi di kedalamannya.
Pagi itu, jemariku membeku di atas layar ponsel. Di halaman media sosial, sebuah akun bernama Vikri—lelaki yang menghancurkan rumah tangga orang tuaku—memajang foto terbaru. Sosoknya berdiri jemawa berpose di samping mobil. Namun, yang membuat napasku tersedak adalah unggahan paling gres: siluet seorang perempuan dari belakang. Bahu yang sedikit bungkuk, garis leher itu... aku mengenalnya luar biasa baik. Ibu.
Darahku serasa berhenti mengalir. Jemariku gemetar hebat, hampir menjatuhkan ponsel ke lantai.
Aku bangkit dari kasur, melangkah kaku keluar kamar. Di dapur yang samar oleh uap masakan, Ibu sedang berdiri membelakangiku, sibuk memotong daging ayam.
"Sudah bangun, Vel?" tanya Ibu tanpa menoleh, mengusap peluh di dahinya dengan lengan baju.
Ada dorongan membakar di dadaku untuk mencecar Ibu, menanyakan foto itu, menuntut kejujuran. Namun, melihat rambutnya yang acak-acakan dihinggapi keringat dan bayangan lingkaran hitam di bawah matanya, lidahku mendadak kelu. Perempuan ini bekerja membanting tulang saban hari, melunasi utang keluarga dan menopang sekolahku tanpa pernah mengeluh.
Aku melangkah mendekat, lalu melingkarkan kedua tanganku di pinggang Ibu dari belakang, menyandarkan dagu di bahunya.
Ibu terkekeh pelan, menghentikan sabetan pisau. "Tumben anak laki-laki Ibu pagi-pagi sudah manja begini?"
"Ibu... jangan pernah tinggalkan Ravel lagi, ya," bisikku kencang, makin merapatkan pelukan.
Ibu mengusap lenganku lembut. "Iya, Ibu tidak ke mana-mana. Paling cuma berangkat kerja terus pulang. Mau ke mana lagi?"
Aku mengembuskan napas panjang, melepaskan pelukan seraya tersenyum tipis. "Cuma mau bilang gitu aja. Ibu masak apa hari ini?"
"Ayam koloke kesukaanmu," sahut Ibu hangat.
Memasuki semester kedua kelas dua, kesibukan OSIS kembali menyergap. Kami ditugasi menggalang dana kurban Iduladha ke perusahaan dan pabrik di sekitar kota. Aku dipasangkan dengan Risa untuk menyusuri daftar donatur yang sudah dipetakan Kak Auliyah.
Sore itu, usai bel pulang, aku menuntun motor tua menuju gerbang. Risa menyambutku dengan senyum mengembang saat kuserahkan helm penumpang padanya.
"Ngapain lo senyum-senyum begitu?" tanyaku heran.
"Tidak ada," goda Risa, merapikan tali helmnya. "Aku cuma ingat waktu kelas satu saat kita minta sumbangan Agustusan. Kita terjebak hujan deras terus malah main air di pinggir jalan."
"Kagak usah ingat yang aneh-aneh," cetusku memutar kunci kontak.
"Itu tidak aneh, tahu! Itu sangat menyenangkan," balas Risa terkekeh. "Dan kadang-kadang aku ingin kembali ke masa itu."
"Lo udah bawa baju ganti, kan?"
"Sudah ada di tas. Kita mau ke mana memangnya?"
"Udah, ikut aja dulu."
Hingga petang menyeberang pukul enam, kami naik turun pabrik dan kantor. Kami berhenti di sebuah SPBU untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Aku keluar dari toilet dengan kemeja flanel kotak-kotak yang sedikit kedodoran.
Tak lama, Risa muncul dari pintu toilet wanita. Kerudung dan terusan serbapink lembut membungkus tubuhnya. Wajahnya yang masih basah oleh air wudu memancarkan binar yang begitu bersih—cantik alami tanpa torehan riasan sedikit pun.
"Lama amat lo," dengkusku.
"Sudah masuk Maghrib, Vel. Aku salat dulu tadi," ujar Risa menunjuk musala. "Kamu juga salat gih, biar urusanmu dilancarkan dan kagak dosa."