Salah satu hal yang menyelamatkan jiwaku selain gim adalah film-film pahlawan super. Topeng-topeng gagah dan jargon ajaib mereka seolah sanggup menyulap dunia yang bobrok menjadi baik-baik saja. Namun, makin aku dewasa, makin aku sadar bahwa pahlawan adalah wujud paling munafik. Menahan penderitaan, menghancurkan diri sendiri demi orang lain... jangan bercanda. Tidak ada manusia berakal sehat yang mau melakukan hal sekonyol itu.
Pagi itu, halaman sekolah riuh oleh gema takbir dan aroma darah hewan kurban. Para guru dan panitia OSIS sibuk memotong daging sapi dan kambing hasil donasi yang berhasil kami kumpulkan. Aku duduk bersila di atas terpal, menggenggam golok tebal, memotong bongkahan daging dengan irama kaku. Di sampingku, Risa duduk telaten memasukkan tiap potong daging ke dalam kantong plastik.
TAK!
Tanpa sadar, aku menghentakkan pisau terlalu keras hingga membentur talenan kayu, menimbulkan dentum nyaring yang membuat orang-orang di sekitar kami menoleh kaget. Dada yang terhimpit sesak sejak semalam membuat napas gatal hendak meledak. Aku tak peduli pada tatapan mereka, memilih kembali mencacah daging tanpa kata.
"Vel... kamu tidak apa-apa?" bisik Risa pelan, jemarinya terhenti di atas plastik.
"Gue kagak apa-apa. Kagak usah berisik, masukin aja dagingnya," potongku kaku tanpa menatapnya.
Risa mengatupkan bibir, mematuhi instruksiku tanpa bertanya lagi.
Usai bagianku rampung, aku melangkah kaku menuju kamar mandi. Di depan cermin yang berdebu, aku memandangi pantulan wajahku sendiri. Bayangan kejadian semalam mendadak merayap kencang, mencabik-cabik kepalaku.
Semalam, aku sengaja mengecek saldo rekening di mesin ATM dekat minimarket—tempat aku menaruh seluruh uang hasil kerja paruh waktuku selama hampir setahun. Di layarnya, angka yang tertera membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
Hanya ada Rp200.000.
Seharusnya, tabungan untuk biaya awal kuliahku itu sudah menyentuh angka sepuluh juta. Dengan tubuh gemetar dan dada bergemuruh, aku pulang melangkah membabi buta menuju ruang tamu, di mana Ayah dan Ibu sedang menonton televisi.
"Bu... uang di ATM kok cuma sisa dua ratus ribu?" suaraku bergetar, menatap Ibu penuh tuntutan. "Ibu kena tipu orang?"
Ibu tersentak, wajahnya pucat pasi tanpa sanggup mengeluarkan patah kata. Sementara lelaki brengsek itu rebahan di samping ibu, tidak memalingkan wajah dari layar kaca.
"Bu... jawab, Bu!"
SRAK! PAK!
Remot televisi melayang menghantam dahiku. Rasa panas menyengat seketika membakar kulit keningku sebelum benda plastik itu jatuh berkeping-keping di lantai. Kepalan tanganku mencengkeram erat di samping paha.
"Ngapain lo ngelempar remot?!" bentakku meledak.
Lelaki itu bangkit berdiri, menyambar kerah bajuku lalu mendaratkan tamparan keras yang membuat pandanganku berkunang-kunang dan tubuhku ambruk ke ubin.
"Ngelawan lo, bocah anjing!" makiannya membakar udara. "Gue lagi nonton, lo malah teriak-teriak! Emang kenapa kalau uang lo kepakai?! Gue udah ngebesarin lo belasan tahun, barang uang segitu aja lo udah kayak kesurupan!"
"Uang itu gue tabung buat biaya kuliah gue, bangsat!" jeritku di atas lantai.
BUGH!
Sebuah tendangan keras mendarat tepat di dadaku. Utang napasku terputus seketika, menyisakan rasa nyeri menusuk yang membuat dadaku seperti diremas besi panas.
"Kuliah?! Kagak usah kebanyakan gaya lo goblok!" caci lelaki itu, menginjak bahuku tanpa ampun. "Kuliah kagak ada gunanya! Lihat gue, sarjana tapi hidup tetap susah! Mending lo kerja, cari uang, kagak usah nyusahain orang tua!"
"Gue ngumpulin uang itu pakai keringat gue sendiri—"
"Masih mau menyahut lo?!"
Dia terus menginjak dan menendang kepalaku hingga telingaku berdengung pekat. Penglihatanku mengabur oleh rasa sakit yang melumpuhkan. Aku juga merasakan darah mengalir keluar dari hidungku.
"Sudah! Cukup! Kau mau membunuh anakmu sendiri?!" jerit Ibu histris, melempar tubuhnya menutupi kepalaku.