Cascade

Ribato
Chapter #65

BAB LXIV: Aku dan Cangkang Kosong


Ada pepatah kuno yang pernah kubaca: seorang pria hanya benar-benar jatuh cinta satu kali dalam hidupnya, sisanya hanyalah usaha mati-matian untuk melanjutkan hidup.

Dulu, aku menganggap kalimat itu sekadar omong kosong romantis. Di dunia yang sejuta warna ini, dengan miliaran perempuan yang melangkah di atasnya, betapa konyolnya menyerahkan seluruh poros hidup hanya pada satu nama. Namun, butuh waktu tujuh tahun bagi waktu untuk menampar dan membuktikannya padaku.

Namaku Ravel Andri. Usiaku kini dua puluh lima tahun.

Dari balik dinding kaca ruang manajer di salah satu perusahaan periklanan terkemuka, hidupku terlihat begitu mapan. Kemeja rapi yang tersetrika sempurna, jam tangan elegan di pergelangan, dan gaji dua digit yang masuk ke rekening saban bulan. Dari luar, aku adalah potret keberhasilan seorang pemuda yang merangkak dari bawah. Namun, jika ada yang bersedia membedah dadaku, mereka hanya akan menemukan sebuah cangkang kosong yang sunyi.

Siang itu, pendingin udara di ruanganku berdesing halus. Jemariku bergerak lincah di atas papan ketik, menyusun laporan bulanan yang harus dipresentasikan besok. Suara ketukan pelan di pintu kaca memotong fokusku.

"Pak Ravel, sudah masuk jam istirahat. Ini katering makan siangnya," ujar stafku, meletakkan kotak makanan di sudut meja.

"Ah, terima kasih," sahutku kaku, melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul dua belas tepat.

Aku meraih tas kerjaku, membukanya pelan. Dari selipan terdalam, jemariku menyentuh sebuah buku saku kecil bercover kusam dengan sudut-sudut kertas yang mulai melipat. Buku panduan salat pemberian Risa delapan tahun lalu. Meski seluruh bacaan di dalamnya sudah terpatri di luar kepala, buku kusam itu tetap mendekam di tas kerjaku—menjadi satu-satunya kenangan utuh yang tak pernah sanggup kubuang.

Aku tersenyum tipis, merapikan buku itu kembali, lalu melangkah turun ke mushola di lantai tiga.

Usai menunaikan salat, aku berjalan menyusuri lorong kantor. Dari arah belakang, derap langkah cepat mendekat hingga sosok perempuan bertubuh kurus dengan kulit putih pucat menyamakan langkah di sisiku. Kemeja kerjanya tampak agak sempit di bagian dada.

"Hai, Vel," sapa Faiza dengan senyum lebar.

Aku menoleh sekilas. "Lo ke sini lagi, Za? Kantor lo kagak punya mushola yang layak sampai harus bela-belain menyeberang gedung ke sini?"

"Ada sih, tapi aku lebih suka suasana di sini," jawab Faiza santai. Dia merogoh tasnya, lalu menyodorkan sebuah amplop berhias pita perak padaku. "Ini... undangan reuni angkatan yang kedelapan. Kali ini diadakannya di aula sekolah kita dulu. Kamu bisa datang, kan?"

Aku menatap amplop tebal itu sejenak sebelum memasukkannya ke saku kemeja. "Gue usahain. Tapi kagak janji."

Aku kembali ke ruangan berkaca untuk menyantap makan siang. Namun, belum sempat tutup kotak katering kubuka, ponsel di atas meja bergetar hebat. Nama Ibu tertera di layar.

"Halo, Bu?"

"Ravel... tolong, Nak... hiks... tolong Ibu..."

Suara isak tangis yang histeris dari seberang telepon seketika membuatku berdiri dari kursi. "Bu! Tenang dulu. Ada apa? Ibu di mana?"

"Datang ke sini, Vel... Ibu butuh bantuanmu..."

"Oke, Ravel ke sana sekarang. Kirim lokasinya ke WhatsApp Ravel, Bu!"

Tanpa memedulikan makan siangku, aku menyambar kunci mobil, berlari menuju basemen, dan memacu sedan hitamku menembus kemacetan kota. Tujuannya adalah sebuah depot makan di pinggiran perumahan padat.

Lihat selengkapnya