Ada hal-hal di dunia ini yang seharusnya tak pernah diucapkan. Bukan karena tak penting, melainkan karena kita sudah tahu persis bagaimana akhirnya. Seperti meminta maaf kepada seseorang yang telah memaafkan kita, mengucapkan selamat tinggal pada jiwa yang sudah jauh pergi, atau menyatakan cinta pada seseorang yang ditakdirkan menjadi milik orang lain.
Hari itu, aku berdiri di depan cermin, merapikan turtleneck hitam yang dibalut blazer serta celana abu-abu berpotongan presisi. Sepatu boots kulit hitamku tersemir mengilat. Semprotan parfum bermerek yang kubeli mahal menyebar aroma maskulin yang elegan. Aku berdandan sebaik mungkin karena kali ini aku akan menyatakan semua perasaanku yang tertahan dulu.
Aku memacu mobil menuju sekolah.
Begitu menginjakkan kaki di pelataran, beberapa perubahan langsung menyapa mata. Cat dinding yang dulu hijau kusam kini berganti abu-abu terang yang modern. Namun, sudut-sudut kenangan itu tetap tak berubah: lapangan tempat aku berdiri memimpin upacara, dinding belakang laboratorium tempatku pernah meluncur jatuh dan menyembunyikan tangis delapan tahun lalu, serta lorong-lorong sunyi tempat tawa Risa pernah bergema.
"Rasanya... bikin kangen juga," gumamku pelan.
Aku melangkah menuju aula utama yang sudah dipenuhi riuh suara alumni satu angkatan. Meja-meja panjang berhias aneka hidangan berjejer di sudut ruangan. Baru beberapa langkah melintas, sebuah lambaian tangan menyergap pandanganku.
"Ravel! Ke mana saja lo, kagak pernah kelihatan?!" seru Irul, berlari menghampiri lalu merangkul bahuku kencang.
"Biasa... sibuk kerja, Rul," sahutku tersenyum tipis.
"Dih, sok sibuk banget lo! Yuk, gabung sama anak-anak!"
Irul menyeretku ke kerumunan laki-laki di tengah ruangan. Dodit dan Yogi yang sedang mengobrol langsung berbalik. Mata mereka membelalak melihatku sebelum menyodorkan kepalan tangan yang kusambut dengan antusias.
"Gimana kabar kalian?" tanyaku.
"Harusnya kita yang tanya, Cuk," Yogi memukul dadaku pelan. "Ke mana saja lo? Sejak Ekhsan meninggal, lo langsung menghilang telan bumi."
Keheningan mendadak merayap kaku di antara kami. Memory pahit itu berputar kembali. Semenjak satu tahun setelah kelulusan kami, Ekhsan mengalami kecelakaan maut bersama kekasihnya—siswi adik kelas kami. Hubungan mereka yang dulu sarat putus-nyambung akhirnya disatukan Tuhan dalam keabadian maut.
Melihat raut wajah teman-temanku meredup, aku segera memutar suasana. "Gue sibuk membanting tulang. Eh, Yogi... dengar-dengar lo sekarang jadi pegawai BUMN farmasi ya? Wah, PNS berduit nih. Boleh lah pinjam seratus-dua ratus. Iya kagak, Dit?"
"Bener tuh! Enak yang gajinya dijamin negara!" timpal Dodit tertawa lepas.
"Kalian berdua ini... benar-benar ya!" seru Yogi geleng-geleng kepala.
PAK!
Sebuah tepukan keras mendarat di bahuku, menyengat bekas cedera lama hingga dadaku agak ngilu. Aku berbalik kaget dan menemukan sosok wanita berambut pendek sebahut sedang bersedekap. Dia mengenakan gaun merah panjang dengan belahan anggun di bagian bawah, memamerkan sepasang kaki jenjangnya yang putih bersih.
"Hmm... ada manusia purba yang akhirnya turun gunung rupanya," cibir Putri dengan senyum miring. "Tumben lo datang? Apa karena lagi kangen sama seseorang, makanya bela-belain hadir?"
Putri masih sama seperti dulu. Senyumnya penuh intrik, tatapannya tajam menembus isi kepala orang, dan ucapannya selalu tepat menohok ke inti masalah. Memory saat dia menyatakan cinta padaku di masa SMA melintas sekilas. Aku pasti benar-benar bodoh dulu pernah menolak gadis secantik dan seseksi ini.
"Kenapa? Lo terkesima sama kecantikan gue?" Putri memutar tubuhnya anggun, tertawa kecil. "Tapi penampilan lo lumayan juga sih hari ini. Kalau lo mau nembak gue sekarang—"
"Sorry," aku menangkupkan kedua tangan di dada dengan raut memohon. "Gue masih sayang nyawa dan kagak mau cari urusan sama Dodit. Benar kagak, Dit?"
"Woi! Kagak usah dibahas lagi! Itu masa lalu, mau gue kepret lo?!" gelak Dodit memburu.
Aku tertawa kaku, berbalik dan melangkah mundur menghindari kejaran Dodit. Namun, langkahku yang terburu-buru justru membuatku menabrak seseorang dari arah samping.
BRUK!
"Ah, maaf!" reaksiku refleks merengkuh pinggang wanita itu agar tidak tersungkur ke lantai.
Begitu pandangan kami bertemu dan aku menyadari siapa wanita di pelukanku, genggamanku hampir terlepas karena panik. Beruntung refleksku cepat, menahannya kembali hingga dia berdiri tegak.
"R--Ravel...?" jemari wanita itu menunjukku, matanya membulat tak percaya.