Cascade

Ribato
Chapter #67

BAB LXVI: Aku dan Tempat untuk Pulang

Manusia sebenarnya hanya membutuhkan satu tempat untuk pulang. Cukup satu. Bukan rumah berkubah megah, bukan kamar berpendingin udara, melainkan sosok seseorang yang selalu ada di sisimu, mendekap erat apa pun yang terjadi. Dulu, aku pernah mengira memiliki tempat seperti itu. Setidaknya, kebodohan itulah yang kuyakini selama bertahun-tahun.

Pagi itu, sebelum melangkah ke pesta pernikahan Risa, aku mendatangi kamar kos Ibu. Sudah sepekan Ibu menyewa kamar kecil di pinggiran kota sementara aku menumpang di mes kantor. Semua itu dilakukan karena Ibu mengaku ketakutan setengah mati bayangan amukan Ayah.

Pelataran kosan tampak lengang. Aku menarik tuas pintu kayu berwarna hijau pupus itu, namun gagangnya terkunci rapat dari dalam.

"Ke mana Ibu hari libur begini?" gumamku heran.

Aku merogoh saku, mengirimkan pesan singkat via WhatsApp. Aneh, indikator di layar hanya menunjukkan centang satu abu-abu. Ponsel Ibu yang biasanya tak pernah lepas dari genggaman kini membisu. Panggilanku pun berkali-kali ditolak otomatis.

Gelisah mulai merayap kaku di tengkukku. Aku bergegas menemui pemilik kosan untuk meminta kunci cadangan.

Begitu engsel pintu berderit terbuka, napas di dadaku seketika terhenti.

Kosong.

Bukan sekadar tidak ada orang. Kasur lipat, rice cooker, lemari plastik, hingga deretan gantungan baju di dinding—semuanya lenyap tanpa sisa. Hanya menyisakan sepi dan bayangan debu berbentuk persegi di lantai ubin.

Mimpi buruk masa kecilku mendadak bangkit, memukul dadaku dengan hantaman yang luar biasa telak. Tubuhku merosot di ambang pintu, menempel pada tembok dingin seraya mencengkeram dada yang mendadak sesak luar biasa.

"Bu... Ibu ke mana...?" bisikku serak, menatap kehampaan di depanku.

Jam dinding menunjukkan pukul lima sore saat aku akhirnya menyerahkan kunci cadangan itu kembali pada pemilik kos. Ibu telah pergi. Dia melangkah pergi dari hidupku, membawa seluruh sisa barangnya, menyatu dalam pelarian bersama Vikri.

Dengan sisa tenaga dan pikiran yang kalut, aku mendatangi sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian layak. Aku memilih kemeja batik tulis bernuansa biru tua dengan corak burung feniks cokelat keemasan.

Di depan meja kasir, aku mengulurkan kartu ATM milikku pada petugas wanita di balik mesin EDC.

"Maaf, Pak. Saldo Anda tidak mencukupi," ujar kasir wanita itu sopan.

Dahiku berkerut. "Mbak, tolong coba digesek sekali lagi. Tidak mungkin."

Mbak kasir mengangguk, menggesek ulang kartu plastik itu. Hasilnya tetap sama: Insufficient Funds.

Beruntung, di dalam dompetku masih tersimpan beberapa lembar uang tunai untuk melunasi kemeja tersebut. Begitu melangkah keluar toko, jemariku yang gemetar hebat membuka aplikasi perbankan di ponsel, mengecek sisa saldo di rekening utamaku.

Rp100.000,00.

Layar ponselku serasa membakar mata. Ratusan juta rupiah hasil keringatku yang kupoles bertahun-tahun untuk masa depan keluarga... menguap tanpa jejak.

Aku menyandarkan punggung di dinding mal yang dingin, menggigit ibu jariku kencang-kencang menahan denyut hebat di kepala. Kartu ATM kedua beserta PIN-nya ada di tangan Ibu—kartu yang kuberikan saat dia menangis ketakutan tempo hari.

Perempuan yang kubela seluruh hidupnya, perempuan yang membuatku mengorbankan impian kuliah dan cinta pertamaku... telah menguras habis seluruh tabunganku lalu pergi bersama selingkuhannya.

Gedung resepsi itu berdiri megah bertabur cahaya lampu kristal. Harum bunga melati dan mawar segar menyengat indra penciumanku begitu aku melangkah masuk.

Di atas pelaminan, Risa berdiri anggun dibalut gaun pengantin putih bersih. Senyumnya terukir begitu tulus dan berseri saat menyambut uluran tangan para tamu. Padahal, baru beberapa bulan lalu di ruang OSIS tua itu, dia menangis sesenggukan di dadaku.

Melihatnya bersanding dengan pria lain membuat dadaku berdenyut nyeri. Andai saja aku bertindak lebih cepat... Andai aku tidak dicekam ketakutan... Andai aku tidak menumbalkan hidupku demi Ibu... mungkinkah pria yang berdiri memegang tangannya di sana adalah aku?

Lihat selengkapnya