Roda mobilku mencengkeram aspal dingin, melaju membabi buta membelah kegelapan malam hingga akhirnya berhenti di depan rumah.
Rumah ini dulu hanya bangunan kecil beratap bocor. Berkat kerja keras, lembur tanpa kenal waktu, dan remuknya tulang punggungku selama bertahun-tahun, aku berhasil membeli lahan kosong di sampingnya. Bangunan ini kini berdiri megah dua lantai dengan garasi luas. Namun, begitu melangkah melewati ambang pintu, kehangatan sebuah rumah sama sekali tak pernah ada di sana. Hanya ada bau bau stover busuk dan hawa kusam.
Di ruang tamu, sosok pria tua itu sedang duduk santai di depan televisi. Pria yang seharusnya kupanggil ayah.
"Ooo... baru pulang lo?" suaranya meninggi, sarat akan nada merendahkan yang sangat kukenal. "Di mana lo sembunyiin ibu lo, hah?!"
Langkahku terhenti di tengah ruangan. Dalam sepersekian detik, kilasan masa kecil berputar hebat di kepalaku bagaikan kaleidoskop berdarah: jeritan Ibu di sudut kamar, lemparan barang-barang, memar di tubuhku saat mencoba melindungi wanita itu, dan makian bertubi-tubi yang mengikis masa mudaku.
Jemariku mengepal kencang hingga buku-buku jariku memutih. Mataku menatapnya lurus, tajam, dan dingin.
Melihatku hanya membisu, pria itu bangkit dari sofa, melangkah maju lalu mencengkeram kerah kemeja batikku kasar.
"Ditanya malah diam aja lo! Dasar anak anj—"
BAM!
Kesabaranku yang kupupuk bertahun-tahun pecah.
Sebelum kalimat nistanya selesai, tinju kananku melayang sekuat tenaga, menghantam tepat di rahang kiri pria itu. Suara benturan tulang bergema riuh. Tubuhnya limbung dan ambruk menghantam lantai.
Pria itu menatapku dengan mata membelalak penuh syok. Predator jahat itu tampaknya tak pernah menyangka bahwa mangsa yang saban hari dia siksa kini memiliki taring untuk melumatnya.
Tanpa memberi jeda, aku meraih asbak kaca tebal di atas meja kopi lalu melemparkannya tepat ke wajahnya. Pria itu refleks mengangkat kedua lengan untuk melindungi kepala. Asbak hancur menghantam dinding, dan dia bangkit berderap dengan mata berurat merah memancarkan kemarahan liar.
"Anak bangsat! Berani lo ngelawan gue?!"
Satu pukulan keras melayang dari sisi kirinya. Aku refleks menahannya menggunakan siku kiri, lalu mengayunkan balasan telak menghantam pelipisnya. Pria itu terhuyung dan kembali terjungkal ke belakang.
Sebelum dia sempat berdiri, aku melompati tubuhnya, menindih dadanya, dan mengunci gerakannya.
"Anjing lo!" raungku, menyambar kerah kemejanya seraya mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke wajahnya. "Bapak bangsat! Lo itu cuma pengangguran tolol! Gue udah suruh lo cuma buat jagain Ibu di rumah... tapi lo cuma mentingin tidur! Kalau lo pengin tidur selamanya, sini gue kabulin, Bangsat!"
Tinju demi tinju mendarat telak. Suara tulang pipi beradu dengan kepalan tanganku yang mulai berdarah menyatu dengan rintihan pria itu. Sosok yang dulu berlagak sok perkasa dan menakutkan kini merengek-rengek mengatupkan tangan memohon ampun di bawah kungkunganku.
"Gue udah ngorbanin semua, Cuk!" jeritku dengan napas memburu dan dada yang mau meledak. "Gue lepas mimpi kuliah gue! Gue banting tulang bayar utang-utang lo! Gue bahkan harus kehilangan Risa! Tapi lo... cuma minta jagain Ibu aja kagak becus! Memang ayah anjing lo!"