Ada satu hal yang baru kupahami setelah bertahun-tahun merayap di lembah kelam. Ternyata, manusia tidak selalu membutuhkan alasan serba megah untuk terus bernapas. Kadang-kadang, alasan itu sesederhana keberanian untuk melepaskan beban yang bukan milik kita, dan menyadari bahwa kebahagiaan diri sendiri adalah hal yang teramat penting.
Hidup terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk menanggung dosa penderitaan orang lain, atau memutus urat leher demi memenuhi ekspektasi dunia. Aku Ravel Andri, dan ini adalah caraku untuk merengkuh hidupku kembali.
Malam di atas tebing air terjun itu tidak jadi menjadi tempat terakhirku. Aku melangkah mundur dari bibir jurang, membiarkan dinginnya air menyapu sisa-sisa dendam di dadaku.
Keesokan harinya, aku menjual mobilku, mengemas barang-barang seperlunya, lalu memboyong Nanda pergi sejauh mungkin dari rumah berdarah itu. Aku melepaskan pekerjaan lamaku, memotong seluruh benang masa lalu, dan memberanikan diri meniti jalur baru yang selama ini hanya jadi impian terpendam: menjadi seorang game designer.
Entah karena garis takdir yang akhirnya berpihak atau berkah Tuhan setelah badai panjang, proyek gim perdanaku meledak di pasaran. Gim indie sederhana yang kutingahi bersama studio kecil kami mendadak viral dan mendatangkan keuntungan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Pagi itu, aroma kopi hitam dan derak papan ketik memenuhi ruangan studio kami yang berkonsep minimalis. Aku sedang menyipitkan mata di depan layar laptop, mengagumi sekaligus menyeleksi beberapa berkas lamaran untuk posisi lead illustrator proyek gim keduaku.
Brak!
Pintu ruang kerjaku terdorong. Ko Albert—bos sekaligus mitra bisnisku yang nyentrik—melangkah masuk seraya melempar sebuah map portofolio tebal ke atas mejaku.
"Vel, gue udah nemu illustrator yang pas banget sama vibe proyek kedua kita," ujar Ko Albert sembari mengusap dagunya. "Nanti pas makan siang, lo yang nemuin dia, ya."
Dahiku berkerut. Aku menghentikan ketikan, membuka map tersebut dan mengamati lembar demi lembar karya di dalamnya. Garis gambarnya tegas, permainan warnanya hangat, dan estetikanya sangat kuat—persis seperti visualisasi yang menari-nari di kepalaku.
"Tapi Ko Albert... kok mendadak banget?" tanyaku menengadah. "Lagian bukannya ini ranahnya HR atau Koko yang wawancara? Jangan main lempar tugas dong."