Pukul lima pagi di sebuah kamar kontrakan sempit di pinggiran kota kabupaten, dunia masih berupa bayang-bayang kelabu yang dingin. Aris berdiri di depan cermin tua yang permukaannya mulai "berjerawat" oleh bintik-bintik jamur hitam akibat kelembapan kronis. Cahaya dari bohlam lima watt di atas kepalanya berkedip-kedip tidak stabil, seolah sedang berjuang melawan tarikan gravitasi kegelapan. Di dalam kotak beton berukuran tiga kali tiga meter itu, aroma kapur barus murahan bercampur dengan bau apak tumpukan makalah masa kuliah di sudut ruangan.
Aris menarik napas panjang, sebuah tarikan napas berat yang sarat beban. Ia mematut dirinya sendiri dengan ketelitian seorang kurator museum. Ia mengenakan kemeja katun putih paling layak yang ia miliki. Meski jika dilihat di bawah cahaya matahari yang jujur, kerah bajunya sudah mulai menipis dan warnanya bergeser dari putih cemerlang menjadi krem pucat—tanda bahwa kain itu telah berkali-kali dihajar papan gilas. Dengan gerakan mekanis, ia menyisir rambutnya ke samping. Setiap helai harus berada di tempatnya, kaku oleh pomade murah yang baunya terlalu tajam, seolah kerapian rambut adalah benteng pertahanan terakhir bagi harga dirinya yang sedang berada di titik nadir.
"Ekonomi adalah tentang pilihan di tengah kelangkaan," bisiknya pada bayangan di cermin, mengutip baris pertama dari buku teks Samuelson yang ia hafal luar kepala. "Dan hari ini, pilihanku adalah tidak terlihat seperti pecundang."
Ia menunduk, menatap sepatu pantofel hitamnya yang tergeletak di atas lantai semen yang dingin. Sepatu itu bukan sekadar alas kaki; itu adalah artefak perjuangannya sejak semester pertama. Ia mengambil kaleng semir yang isinya tinggal sepertiga, lalu menggosokkannya dengan gerakan melingkar yang bertenaga menggunakan potongan kain kaus bekas. Ia ingin sepatu itu mengkilap, menciptakan ilusi kemakmuran yang bisa menipu mata dunia. Namun, saat ia mengangkat sepatu sebelah kanan untuk memeriksa bagian bawahnya, hatinya mencelos.
Sol karet di bagian depan telah terlepas sepenuhnya dari badan sepatu, membentuk celah menganga selebar tiga jari yang tampak seperti mulut monster kecil yang sedang menertawakan nasibnya. Aris mengumpat pelan. Ia merogoh kolong tempat tidur, menarik sebuah kotak kardus berisi sisa-sisa barang bengkel motor ayahnya. Ia menemukan sebuah tabung lem kuning yang isinya sudah mengeras di bagian mulut. Dengan sisa tenaga, ia memencet tabung itu hingga cairan kental berbau menyengat keluar. Ia mengoleskannya terburu-buru, lalu menekan sol itu dengan kakinya selama sepuluh menit penuh, sambil berdoa agar hukum kimia hari ini berpihak pada seorang guru honorer.
Perjalanan dari kontrakan menuju Desa Margotulus adalah ziarah kesabaran yang menguras raga. Motor tua peninggalan ayahnya—kendaraan dua tak tahun sembilan puluhan yang mesinnya sering terbatuk-batuk mengeluarkan asap putih tebal—dipacu melintasi aspal kabupaten yang perlahan menyempit. Begitu melewati gapura perbatasan desa, pemandangan berubah drastis menjadi lanskap melankolis. Sawah-sawah di kanan dan kiri jalan tampak meranggas, tanahnya pecah-pecah membentuk pola retakan yang menyerupai labirin keputusasaan akibat kemarau panjang yang tidak wajar di tahun 2026 ini.
Dunia digital yang digembar-gemborkan oleh pemerintah pusat dalam kampanye "Indonesia Emas" tampak seperti dongeng dari galaksi lain di sini. Aris melihat sebuah menara BTS di kejauhan yang tampak karatan, berdiri tegak namun tak berdaya memberikan sinyal yang layak. Spanduk-spanduk kain tentang "Pendidikan Digital 4.0" sudah sobek-sobek, menari-nari ditiup angin kering seperti bendera putih tanda menyerah.
Aris merasakan getaran yang tidak menyenangkan di kaki kanannya. Setiap kali ia melewati lubang jalanan yang dalam, ia bisa merasakan sol sepatunya kembali mengendur. Hawa panas dari mesin motor yang merembet ke area pijakan kaki mempercepat kegagalan lem murahan tersebut. Bau aspal panas dan debu tanah merah mulai menyesakkan dadanya, namun ia tetap memacu motornya dengan kecepatan konstan tiga puluh kilometer per jam—kecepatan paling aman agar mesinnya tidak tiba-tiba mogok.
Tiba di gerbang SMA Negeri 1 Margotulus, Aris mematikan mesin motornya. Suasana sekolah itu sunyi, seolah-olah bangunan itu sendiri sedang menahan napas agar tidak roboh di bawah beban waktu dan pengabaian. Pagar besinya yang berkarat mengeluarkan bunyi derit panjang dan memilukan saat ia mendorongnya sedikit untuk lewat. Ia turun dari motor, dan saat itulah hal yang paling ia takuti terjadi dengan sangat dramatis.
Klepak.
Langkah pertama Aris di tanah berbatu Margotulus ditandai dengan sol sepatu yang benar-benar menyerah total. Lem itu kalah oleh panas dan gesekan. Sol itu kini terbuka lebar, dan setiap kali ia melangkah, bunyinya bergema di antara kesunyian selasar sekolah yang kosong. Aris memejamkan mata sesaat, meratapi nasibnya yang seolah dikutuk untuk selalu tampil "setengah matang". Ia berdiri di sana, di depan gerbang yang cat hijaunya sudah mengelupas menyerupai sisik ular mati, merasa seperti seorang orator yang kehilangan suaranya sebelum naik ke mimbar.
Di halaman sekolah yang luas namun gersang, seorang pria tua dengan topi bambu lusuh sedang menyapu daun-daun jati kering yang berserakan. Gerakan sapu lidinya sangat lambat, seirama dengan waktu di Margotulus yang seolah berhenti berputar sejak dekade lalu. Pria itu berhenti menyapu, menopang dagunya di atas gagang sapu, lalu menatap Aris dengan mata yang mulai keruh oleh katarak.
"Guru baru lagi, ya?" tanya pria itu dengan suara serak dan dalam, seolah suaranya keluar dari sumur tua.
"Iya, Pak. Saya Aris, guru ekonomi," jawab Aris, mencoba menjaga intonasi suaranya agar tetap berwibawa meskipun ia harus berdiri dengan posisi kaki kanan yang ditekuk sedikit ke belakang untuk menyembunyikan sol yang menganga.
"Jangan terlalu bersemangat di hari pertama, Mas," gumam pria itu sambil kembali menyapu dengan gerakan ritmis. "Sekolah ini punya cara sendiri untuk mematahkan semangat anak muda. Kemarin ada yang datang pakai dasi, pulangnya menangis karena motornya habis bensin dan gajinya ternyata hanya cukup untuk beli sabun mandi. Masuk saja, ruang TU ada di sana, cari perempuan yang wajahnya paling suntuk. Namanya Bu Lastri."
Aris tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju bangunan utama yang cat putihnya sudah bertransformasi menjadi abu-abu kusam akibat jamur dan debu jalanan yang menempel selama bertahun-tahun. Ia melewati lapangan upacara yang lebih mirip padang rumput liar. Di sudut lapangan, dekat tiang bendera yang talinya sudah putus dan hanya menyisakan batang besi berkarat yang melengkung, beberapa ekor kambing milik warga sekitar tampak asyik merumput dengan tenang, seolah mereka adalah pemilik sah dari tanah pendidikan ini.
Aris merogoh ponselnya—sebuah perangkat lama dengan layar retak di pojok kiri atas. Aplikasi Sistem Presensi Pendidik Digital 2026, syarat mutlak agar ia mendapatkan honor yang tidak seberapa itu, menunjukkan ikon pencarian sinyal yang berputar tanpa henti. Aris mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke udara, bergerak memutar seperti orang yang sedang melakukan ritual pemanggilan hujan.
"Ayo, sinyal... sedikit saja... aku hanya butuh sepuluh detik untuk check-in wajah," bisiknya dengan nada memohon. Ia bergeser ke arah pohon kamboja tua di depan kantor, tempat yang menurut desas-desus adalah satu-satunya titik di mana sinyal bisa tertangkap.
"Kalau teknologi itu selemah imanmu, lebih baik simpan saja ponsel itu di saku."
Sebuah suara dingin, tajam, dan penuh sarkasme menyambar dari arah pintu perpustakaan di belakangnya. Aris tersentak, hampir saja menjatuhkan ponselnya ke atas tanah merah. Ia berbalik dan menemukan seorang wanita muda berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu kayu yang sudah dimakan rayap di bagian bawahnya.
Wanita itu mengenakan blus biru tua yang simpel, sangat rapi, tanpa kerutan sedikit pun. Rambutnya diikat kuda dengan sangat kencang, menonjolkan garis wajah yang tegas, tulang pipi yang tinggi, dan mata tajam di balik kacamata berbingkai hitam tipis. Di tangannya, ia memegang sebuah buku sastra Inggris klasik yang sampulnya sudah menguning. Ekspresi wajahnya adalah perpaduan antara kebosanan yang mendalam dan kecerdasan yang disalahgunakan.
Itulah Gita. Aris belum tahu namanya saat itu, tapi ia bisa merasakan aura "tembok besar" yang dibangun wanita ini di sekelilingnya. Aura yang seolah berteriak bahwa ia telah melihat terlalu banyak kegagalan di sekolah ini untuk bisa bersikap ramah pada orang baru.