Catatan Dari Bangku Belakang

kutipan.izs
Chapter #2

BAB 2: SELAMAT DATANG DI NERAKA HONORER

Debu kapur tulis adalah residu pertama yang mengkhianati idealisme Aris di hari pertamanya. Partikel putih halus itu kini melapisi ujung jari telunjuk dan ibu jarinya, menyusup ke sela-sela kuku yang tadi pagi ia potong dengan sangat rapi. Entah bagaimana, sebagian darinya telah berpindah ke lengan kemeja putihnya yang paling berharga. Aris berdiri di depan wastafel di sudut selasar kelas XI-IPS 2, mencoba memutar keran yang kepalanya sudah bergoyang longgar.

Tidak ada air yang keluar. Hanya suara nggriiit dari pipa besi yang kering, disusul oleh desisan udara yang berbau karat. Aris menghela napas, menatap pantulan wajahnya yang mulai kusam di cermin wastafel yang sudah retak seribu. Keringat membanjiri dahi dan lehernya. Suhu udara Margotulus di jam sepuluh pagi terasa seolah-olah matahari hanya berjarak beberapa jengkal di atas atap seng sekolah yang berkarat.

"Selamat datang di realitas, Aris," bisiknya pada diri sendiri. Ia terpaksa membersihkan tangannya dengan sapu tangan biru tua miliknya, menggosok noda kapur itu hingga kainnya memutih.

Ia melangkah meninggalkan gedung belakang, melewati laboratorium fisika yang jendelanya tertutup papan kayu silang. Lewat celah-celah papan itu, ia bisa melihat tumpukan kursi patah dan alat peraga yang sudah menjadi sarang laba-laba. Di tahun 2026, di saat sekolah-sekolah di kota besar mungkin sudah menggunakan laboratorium virtual berbasis Augmented Reality, SMA Negeri 1 Margotulus masih berjuang melawan rayap yang memakan kaki meja praktikum.

Aris berjalan menuju "Inner Sanctum", sebutan sarkastik dari Gita untuk ruang guru honorer. Letaknya memang strategis untuk menyembunyikan rasa malu: tepat di balik gedung perpustakaan, terhimpit antara gudang olahraga dan tembok pembatas desa yang ditumbuhi pohon bambu rimbun. Semakin mendekat ke ruangan itu, aroma buku lembap dan kopi murah mulai menyambut indra penciumannya.

Ia mendorong pintu kayu yang bagian bawahnya sudah keropos dimakan usia. Bunyi derit pintu itu seolah-olah adalah bel masuk bagi para pecundang sistem. Di dalam, ruangan itu pengap dan remang-remang. Satu-satunya cahaya alami masuk dari jendela kecil yang terhalang jeruji besi, menciptakan bayangan garis-garis di atas lantai ubin yang warnanya sudah tidak seragam lagi.

Gita masih di sana. Ia sedang duduk dengan punggung tegak di kursinya, seolah-olah kursi plastik yang bergoyang itu adalah takhta kerajaan. Di depannya, sebuah laptop tua yang kipasnya berbunyi nyaring seperti mesin giling sedang menampilkan layar aplikasi Laporan Kinerja Guru Digital (LKGD).

"Bagaimana rasanya memberikan khotbah ekonomi di depan anak-anak yang sarapannya mungkin hanya segelas air gula?" tanya Gita tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Suaranya datar, namun mengandung getaran skeptis yang sudah menjadi ciri khasnya.

Aris meletakkan tas punggungnya di atas meja kayu yang permukaannya penuh dengan bekas goresan pulpen. "Mereka punya potensi, Bu Gita. Tadi ada siswa bernama Bima. Dia tampaknya punya pemahaman yang berbeda tentang nilai sebuah perjuangan."

Gita akhirnya mendongak. Ia melepaskan kacamatanya, memijat pangkal hidungnya yang mancung dengan ekspresi lelah. "Bima? Kamu bicara soal anak yang duduk di bangku paling belakang itu?"

"Iya. Dia memberikan saya karet gelang untuk mengikat sepatu saya yang rusak." Aris menunjukkan kakinya yang kini terikat karet hitam pemberian Bima. "Dia siswa yang baik."

Gita mendengus, sebuah suara yang terdengar antara kasihan dan peringatan. "Bima itu jenius, Pak Aris. Terutama dalam matematika. Tapi dia juga siswa paling bermasalah di sekolah ini dalam hal kehadiran. Kamu tahu kenapa? Karena jam tidurnya habis untuk mengangkut beras di pasar tradisional setiap malam. Dia tidak butuh teori Ekonomi makro darimu; dia butuh mukjizat untuk melunasi tunggakan uang praktikumnya yang sudah menumpuk setahun."

Aris terdiam. Ia baru saja menyadari bahwa "potensi" yang ia banggakan di kelas tadi hanyalah permukaan tipis dari sebuah samudra masalah yang dalam. Ia menarik kursi plastik di seberang meja Gita, kursi itu mengeluarkan bunyi kriet yang menusuk telinga.

"Kenapa sekolah tidak memberikan beasiswa?" tanya Aris pelan.

Gita tertawa kecil, suara tawa yang kering dan pahit. Ia menunjuk ke arah tumpukan map cokelat di sudut ruangan. "Beasiswa? Di sekolah yang atap laboratoriumnya hampir roboh ini? Prioritas anggaran sekolah kita adalah untuk 'Akreditasi Digital' tahun depan. Kepala sekolah lebih memilih membeli layar monitor besar untuk diletakkan di lobi—agar terlihat canggih saat pengawas datang—daripada memberikan subsidi makan siang untuk siswa seperti Bima. Itulah ekonomi yang sebenarnya di Margotulus, Pak Guru Baru."

Aris merasakan dadanya sesak. Ia melihat sekeliling ruangan itu dengan lebih teliti. Di atas meja Gita, ada sebuah kaleng biskuit karatan yang bagian atasnya dilubangi. Di samping lubang itu tertulis menggunakan spidol permanen: DANA DARURAT HONORER.

"Apa itu?" tanya Aris, menunjuk kaleng tersebut.

"Itu adalah satu-satunya sistem asuransi yang kita miliki," jawab Gita sambil kembali mengenakan kacamatanya. "Setiap hari, kita memasukkan uang kembalian atau recehan ke sana. Gunanya? Untuk membeli bensin atau mi instan jika gaji bulan depan telat lagi. Dan percayalah, gaji di sini punya hobi telat yang sangat konsisten."

Aris merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan selembar uang dua ribu rupiah yang sudah kumal—sepertiga dari uang receh yang ia miliki. Dengan gerakan ragu, ia memasukkannya ke dalam lubang kaleng tersebut. Bunyi denting uang logam yang jatuh ke dasar kaleng yang hampir kosong itu terdengar sangat menyedihkan di tengah kesunyian ruangan.

"Investasi pertama yang cerdas," sindir Gita, namun kali ini nada suaranya sedikit melunak.

"Saya harus ke ruang guru utama," kata Aris tiba-tiba. "Bu Lastri bilang saya harus mengambil modul kurikulum baru di sana."

Gita berhenti mengetik. Ia menatap Aris dengan tatapan "Semoga Beruntung". "Satu saran: Jangan minta apa-apa selain modul itu. Dan jangan duduk di kursi yang ada bantalnya. Itu kursi milik mereka yang punya NIP."

Aris mengangguk, mencoba mencerna peringatan Gita yang terdengar seperti instruksi memasuki wilayah musuh. Ia merapikan kemejanya yang mulai lembap oleh keringat, memastikan simpul dasinya tidak miring, lalu melangkah keluar menuju gedung utama.

Lihat selengkapnya