Catatan Dari Bangku Belakang

kutipan.izs
Chapter #3

BAB 3: AROMA KOPI MURAH DAN RUANG GURU PENGAP

Dunia di SMA Negeri 1 Margotulus selalu dimulai dengan dua hal yang konstan: debu yang tidak pernah benar-benar hilang dari permukaan meja, dan aroma apak dari ribuan buku perpustakaan yang perlahan membusuk dimakan kelembapan. Aris tiba tiga puluh menit lebih awal dari jadwal piket resminya. Bukan karena ia ingin menunjukkan dedikasi yang berlebihan di hadapan Kepala Sekolah yang jarang muncul, melainkan karena ia ingin menghindari tatapan merendahkan dari guru-guru senior di gedung utama yang biasanya datang dengan motor matik mengkilap atau mobil pribadi hasil tunjangan sertifikasi.

Ia melangkah menyusuri selasar panjang yang gelap. Cahaya matahari pagi baru saja menyentuh pucuk pohon jati di kejauhan, menyisakan bayangan panjang yang menyeramkan di sepanjang koridor sekolah. Aris berjalan dengan sangat hati-hati, memastikan tumit kakinya tidak menghentak terlalu keras. Karet gelang pemberian Bima kemarin masih terikat kuat di sepatunya, membungkam bunyi klepak-klepak yang memalukan itu dengan sebuah keheningan yang dipaksakan. Di tangannya, ia menjinjing sebuah kantong plastik kecil berisi sepotong roti tawar murah yang ia beli di warung depan kontrakan tadi subuh.

Tujuannya adalah "Inner Sanctum", sebuah ruangan yang secara administratif mungkin tidak pernah ada dalam denah resmi bangunan sekolah, namun secara fungsional adalah jantung pertahanan bagi para pejuang honorer. Ruangan itu terletak tepat di balik dinding belakang perpustakaan, sebuah area yang dulunya digunakan untuk menyimpan tumpukan koran bekas dan kursi-kursi rusak. Pintu kayunya sudah sangat tipis, dengan cat cokelat yang menggelembung dan mengelupas, seolah-olah kayu itu sendiri sedang berusaha melepaskan kulitnya untuk bernapas.

Begitu Aris mendorong pintu tersebut, aroma pertama yang menyambutnya adalah bau debu kertas yang bercampur dengan sisa aroma kopi kemarin sore. Ruangan itu pengap, dengan satu-satunya sirkulasi udara berasal dari ventilasi kecil yang tertutup jaring kawat berkarat. Di sudut ruangan, sebuah teko listrik tua berwarna putih yang sudah berubah menjadi kuning gading berdiri di atas meja kayu yang permukaannya penuh dengan bekas lingkaran hitam—jejak dari ratusan gelas kopi yang pernah diletakkan di sana selama bertahun-tahun.

Aris mendekati teko listrik itu. Ia membukanya, melihat kerak kapur yang tebal di dasar logamnya. Ia menghela napas, lalu menuangkan air dari botol minum plastiknya yang sudah mulai kusam. Dengan gerakan mekanis, ia menekan tombol power. Suara dengungan teko itu mulai mengisi keheningan ruangan, sebuah suara yang terdengar seperti mesin tua yang sedang merintih kesakitan.

"Ekonomi mikro di ruang pengap," gumam Aris pada dirinya sendiri.

Ia mengambil sebuah gelas plastik milik bersama yang sudah kehilangan transparansinya akibat noda kafein yang permanen. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan satu saset kopi instan "3-in-1" yang harganya tidak sampai dua ribu rupiah. Kopi itu adalah kombinasi antara gula yang terlalu banyak, krimer nabati yang rasanya seperti plastik, dan sedikit sekali bubuk kopi asli. Namun bagi Aris, di pagi yang dingin dan perut yang hanya berisi harapan ini, cairan hitam itu adalah kemewahan yang tak ternilai harganya.

Aris duduk di kursinya—kursi plastik biru yang salah satu kakinya diganjal dengan lipatan kardus agar tidak bergoyang. Ia menatap meja kerjanya. Di sana, tumpukan berkas administrasi digital yang harus ia cetak ulang (karena sistem pusat sering kali "kehilangan" data jika tidak ada arsip fisiknya) tampak seperti gunung yang siap longsor. Di era transisi digital 2026 ini, ironi terbesar yang dirasakan Aris adalah betapa banyaknya kertas yang harus ia habiskan untuk membuktikan bahwa ia telah bekerja secara digital.

Sambil menunggu air mendidih, Aris memperhatikan detail ruangan itu dengan lebih saksama. Di dinding yang catnya sudah mengapur, tertempel sebuah kalender dari tahun lalu yang gambarnya adalah pemandangan kota Zurich, Swiss. Sebuah kontras yang kejam: pegunungan Alpen yang jernih dan bersih, beradu dengan realitas dinding sekolah yang ditumbuhi jamur dan berbau tanah basah. Di bawah kalender itu, ada sebuah foto kecil yang dibingkai plastik murah—foto seluruh guru honorer angkatan sebelum Aris. Beberapa wajah di foto itu sudah tidak ada lagi di Margotulus, entah karena menyerah pada sistem atau karena menemukan pekerjaan yang lebih manusiawi sebagai buruh pabrik di kota.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Bunyi deritnya yang nyaring seolah membelah kesunyian pagi. Gita melangkah masuk dengan aura yang sama seperti kemarin: dingin, waspada, dan tajam. Ia mengenakan seragam batik yang tampak sangat kaku, seolah ia baru saja menyetrikanya dengan amarah. Rambutnya diikat kuda dengan sangat rapi, tidak ada satu helai pun yang berani mengkhianati barisannya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah termos kecil berwarna perak.

Gita berhenti sejenak saat melihat Aris sudah ada di sana. Matanya melirik ke arah saset kopi yang tergeletak di meja Aris, lalu ke arah roti tawar yang masih terbungkus plastik.

"Datang lebih pagi tidak akan membuat gajimu cair lebih cepat, Aris," ujar Gita datar, tanpa memberikan salam pembuka. Ia berjalan menuju mejanya yang terletak tepat di seberang meja Aris.

"Saya hanya ingin menikmati ketenangan sebelum badai administrasi dimulai, Bu Gita," jawab Aris sambil mencoba tersenyum sopan.

Gita meletakkan tasnya dengan bunyi deb yang cukup keras. Ia duduk di kursinya yang untungnya tidak bergoyang seseram kursi Aris. "Ketenangan di sini adalah ilusi. Sebentar lagi, suara mesin pemotong rumput di lapangan akan mulai berisik, disusul suara teriakan guru-guru di gedung utama yang mengeluhkan aplikasi presensi mereka yang error. Nikmati kopimu selagi sempat."

Suara klik dari teko listrik menandakan air telah mendidih. Aris menuangkan air panas itu ke dalam gelas plastiknya. Aroma manis yang menyengat segera memenuhi ruangan—aroma yang bagi orang kota mungkin dianggap sampah, namun bagi mereka adalah bahan bakar semangat. Ia mengaduk kopinya dengan penggaris plastik karena tidak menemukan sendok yang bersih.

"Mau biskuit?" Aris mencoba menawarkan keramahan, menyodorkan roti tawarnya.

Gita membuka termos peraknya, menuangkan cairan hitam pekat ke dalam tutup termosnya. Bau kopi yang keluar dari termos Gita jauh lebih kuat, pahit, dan otentik. Bukan kopi saset. Itu adalah kopi tubruk murni yang aromanya memenuhi setiap sudut ruangan, menenggelamkan aroma manis dari kopi saset Aris.

"Simpan rotimu untuk jam makan siang. Kamu akan membutuhkannya saat melihat menu di kantin yang hanya terdiri dari gorengan dingin dan es teh yang kebanyakan air," kata Gita, namun ia mengambil sekeping biskuit dari kaleng "Dana Darurat" yang ia simpan di laci mejanya, lalu memberikannya kepada Aris. "Ini lebih layak disebut makanan daripada roti tanpa selai itu."

Aris menerima biskuit itu dengan rasa terima kasih yang tulus. "Terima kasih. Kenapa Anda selalu terlihat seolah-olah sedang bersiap untuk perang, Gita?"

Gita menyesap kopi pahitnya perlahan. Uap kopi itu mengembun di lensanya, membuatnya tampak sejenak kehilangan ketajamannya. "Karena kita memang sedang berperang, Aris. Kita berperang melawan waktu yang ingin melupakan kita, melawan sistem yang ingin memeras kita, dan melawan diri sendiri yang setiap pagi bertanya: untuk apa aku masih di sini?"

Aris terdiam. Ia menyesap kopi sasetnya yang kini terasa terlalu manis di lidahnya. "Saya mengajar Ekonomi untuk memberikan harapan bahwa hidup bisa direncanakan. Tapi di ruangan ini, saya merasa semua perencanaan itu adalah lelucon."

"Ekonomi adalah tentang distribusi sumber daya yang langka, bukan?" Gita menatap Aris dengan mata yang dalam. "Lihat sekelilingmu. Sumber daya kita bukan hanya uang yang langka, tapi martabat yang langka. Ruangan ini pengap bukan karena ventilasinya kecil, tapi karena terlalu banyak rahasia kegagalan yang kita simpan di sini."

Lihat selengkapnya