Pagi itu, udara di SMA Negeri 1 Margotulus terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah oksigen di tempat ini telah bercampur dengan kecemasan yang tak kasat mata. Aris melangkah memasuki ruang kelas XI-IPS 2 dengan ritme jantung yang sedikit lebih cepat. Karet gelang di sepatunya masih terpasang rapi, sebuah pengingat bisu akan interaksi tulusnya dengan Bima kemarin lusa. Ia sudah menyiapkan materi tentang "Distribusi Pendapatan", sebuah topik yang ia harap bisa membuka cakrawala anak-anak desa ini tentang betapa timpangnya dunia yang sedang mereka tempati.
Namun, begitu ia berdiri di balik meja kayu yang permukaannya dipenuhi coretan tip-ex, pandangannya langsung meluncur ke sudut paling belakang ruangan. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Bangku kayu paling pojok, tempat di mana Bima biasanya duduk dengan punggung sedikit membungkuk dan tangan yang tak henti mencatat, kini kosong. Yang tersisa di sana hanyalah debu halus yang menari-nari tertimpa seberkas cahaya matahari dari jendela yang kacanya pecah di pojok atas.
"Selamat pagi semuanya," sapa Aris, suaranya terdengar sedikit hampa bagi telinganya sendiri. "Sebelum kita mulai, mari kita periksa kehadiran."
Aris merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel pintarnya yang layarnya retak. Ia membuka aplikasi Sistem Presensi Siswa Digital 2026. Di layar, deretan nama siswa muncul dengan foto-foto kecil yang buram. Satu per satu ia memanggil nama mereka. Setiap "Hadir, Pak!" yang diteriakkan siswa terasa seperti detakan jam yang membawanya semakin dekat ke baris nama yang ia takutkan.
"Bima Aditia?"
Keheningan yang dingin menyergap ruangan. Aris mendongak dari layar ponselnya, menatap kembali ke arah bangku kosong itu. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara gesekan sepatu di lantai ubin yang pecah. Hanya suara desau angin yang meniup tirai kelas yang sudah sobek-sobek.
"Ada yang tahu di mana Bima?" tanya Aris, matanya menyapu seluruh kelas, mencari jawaban di wajah-wajah yang tampak acuh tak acuh.
Seorang siswa di barisan depan, yang sedang sibuk memutar-mutar pulpennya, mengangkat bahu. "Paling juga narik, Pak. Kemarin sore saya lihat dia di pasar, sudah pakai kaus kuli panggul."
"Narik? Maksudmu bekerja?" Aris mengerutkan kening. Ia tahu Bima bekerja, tapi ia tidak menyangka pekerjaan itu bisa mencuri jam sekolahnya. "Bukankah hari ini ada jadwal ujian harian matematika di jam pertama tadi?"
"Bima kalau sudah urusan perut, matematika nomor dua, Pak," celetuk siswa lain dari barisan tengah, diikuti tawa kecil dari beberapa temannya. Tawa itu terdengar sangat pahit di telinga Aris, seolah-olah kemiskinan adalah sebuah lelucon yang sudah biasa mereka dengar setiap hari.
Aris terdiam sejenak. Tangannya yang memegang ponsel terasa sedikit gemetar. Di layar aplikasi, ia harus memberikan status pada nama Bima. Ada pilihan: Hadir, Sakit, Izin, Alpa. Di bawah regulasi digital 2026, tiga kali status Alpa berturut-turut akan secara otomatis memicu surat peringatan sistem ke dinas pendidikan, yang bisa berujung pada penghentian bantuan subsidi sekolah bagi siswa tersebut. Sistem ini dirancang untuk disiplin, namun di Margotulus, sistem ini terasa seperti algojo yang siap mencabut nyawa masa depan seorang anak.
Dengan berat hati, Aris menekan pilihan Alpa. Sebuah titik merah muncul di samping nama Bima. Merah yang tampak seperti luka.
Pelajaran hari itu berjalan dengan sangat hambar bagi Aris. Meskipun ia berusaha menjelaskan konsep rasio Gini dan kesenjangan ekonomi dengan penuh gairah, pikirannya terus melayang ke arah bangku belakang yang kosong itu. Ia merasa seolah-olah penjelasannya tentang keadilan ekonomi adalah sebuah kebohongan besar selama salah satu siswa terbaiknya bahkan tidak bisa hadir karena harus memanggul beban hidup yang nyata di pundaknya.
Begitu bel istirahat berbunyi, Aris tidak langsung menuju ruang guru utama untuk mengumpulkan laporan. Ia melangkah cepat menuju "Inner Sanctum". Ia butuh bicara dengan Gita. Ia butuh perspektif dari seseorang yang sudah lebih lama menghirup debu sekolah ini.
Di dalam ruang guru honorer yang pengap, aroma kopi murah kembali menyambutnya, namun kali ini bau itu terasa menyesakkan. Gita sedang duduk dengan laptopnya, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Cahaya dari layar laptop memantul di kacamatanya, menyembunyikan ekspresi matanya.
"Gita, Bima tidak masuk hari ini," ujar Aris tanpa basa-basi sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi plastik yang bergoyang.
Gita tidak berhenti mengetik. "Aku tahu. Dia juga tidak ada di kelas Bahasa Inggris jam pertama tadi. Kenapa? Kamu kaget?"
"Tentu saja aku kaget! Dia siswa yang cerdas, Gita. Bagaimana mungkin sekolah membiarkan siswa seperti dia hilang begitu saja hanya untuk bekerja di pasar?" Aris menaikkan nada suaranya, rasa frustrasinya mulai meluap.
Gita akhirnya berhenti mengetik. Ia menutup laptopnya dengan perlahan, lalu menatap Aris dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang penuh dengan kelelahan yang terakumulasi selama bertahun-tahun.
"Aris, dengarkan aku baik-baik," kata Gita, suaranya tenang namun tajam. "Di sekolah ini, siswa yang 'hilang' bukan berita baru. Kemarin ada Sari yang tidak masuk karena harus menjaga adiknya saat ibunya jadi TKW. Minggu lalu ada Doni yang berhenti karena harus membantu ayahnya di sawah. Bima hanya satu dari sekian banyak korban. Kamu tidak bisa memperlakukan setiap siswa yang absen sebagai krisis nasional."