Catatan Dari Bangku Belakang

kutipan.izs
Chapter #5

BAB 5: DEBAT BAHASA INGGRIS DI BAWAH ATAP BOCOR

Langit di atas Desa Margotulus mendadak berubah menjadi warna ungu pekat yang tidak sehat, seolah-olah semesta sedang memar hebat. Angin kencang mulai menyapu debu-debu kering dari lapangan upacara, menerbangkannya dalam pusaran kecil yang kasar, menghantam kaca-kaca jendela kelas yang sudah retak. Aris berdiri di selasar, menatap cakrawala yang tertutup tirai kelabu. Aroma tanah kering yang terpanggang kini perlahan berganti menjadi bau ozon dan kelembapan yang tajam—pertanda bahwa hujan badai pertama di musim ini akan segera menghantam Margotulus dengan kemarahan yang tertunda.

Ia baru saja keluar dari kelas XI-IPS 2. Pikirannya masih tertinggal di pasar kemarin sore, pada pundak Bima yang legam oleh peluh dan debu beras. Bayangan itu seperti duri yang terselip di balik kemeja putihnya yang kusam; tidak terlihat, namun menusuk setiap kali ia bernapas. Aris mempercepat langkahnya menuju "Inner Sanctum". Di tangannya, ia mendekap tumpukan berkas absensi digital yang baru saja ia cetak di ruang TU—lembaran kertas yang kini terasa seperti tumpukan beban moral yang sia-sia.

Begitu ia mendorong pintu ruang guru honorer, suara gemuruh pertama meledak di langit. Getarannya terasa hingga ke ubin yang ia pijak. Di dalam ruangan yang pengap itu, Gita masih setia di posisinya. Ia tidak menoleh, namun jemarinya yang lincah di atas papan ketik laptop tua itu berhenti sejenak saat kilat menyambar di luar jendela kecil.

"Simpan kertas-kertasmu itu di tempat yang tinggi, Aris," ujar Gita tanpa nada basa-basi. Suaranya hampir tenggelam oleh desau angin yang menyusup lewat celah ventilasi. "Seng di atas meja itu sudah lama tidak bersahabat dengan air."

Aris mendongak ke langit-langit. Di sana, tepat di atas tumpukan dokumen "Rencana Anggaran Biaya" yang ia susun semalam, terdapat noda cokelat besar berbentuk lingkaran tidak beraturan. Kayu tripleknya sudah melengkung, menunjukkan tanda-tanda kelelahan struktural yang akut. Sebelum ia sempat memindahkan berkas-berkas itu, hujan turun.

Bukan gerimis yang sopan, melainkan air yang jatuh seolah-olah bendungan di langit baru saja jebol. Suara hantaman air pada atap seng yang berkarat meledak menjadi simfoni yang memekakkan telinga—bunyi klontang-klontang yang ritmis dan kasar, membuat percakapan apa pun menjadi sebuah perjuangan vokal. Dan dalam hitungan detik, ramalan Gita menjadi kenyataan.

Tetes. Tetes. Currr.

Air mulai merembes dari sela-sela sambungan seng, jatuh tepat di atas meja kayu Aris. Aris terperanjat, ia segera menarik berkas-berkasnya ke dada, mencoba melindunginya dengan tubuhnya sendiri. Namun, kebocoran itu bukan hanya di satu titik. Di sudut dekat rak buku perpustakaan, air mulai mengalir menyerupai air terjun kecil, membasahi tumpukan novel-novel klasik yang sudah berdebu.

"Sial!" umpat Aris, sebuah kata yang jarang keluar dari mulutnya yang terdidik.

Gita bangkit dengan tenang, seolah ia sudah melatih skenario ini dalam kepalanya selama bertahun-tahun. Ia mengambil sebuah ember plastik biru yang sudah pecah di bagian pinggirnya dari bawah meja, lalu meletakkannya tepat di bawah kucuran air terbesar. Bunyi plung-plung air yang jatuh ke dalam ember plastik itu menjadi latar belakang yang janggal di tengah hiruk-pikuk badai.

"Jangan hanya berdiri di sana seperti patung pahlawan yang bingung, Pak Ekonomi," teriak Gita, suaranya dipaksakan untuk melampaui suara hujan. "Geser mejamu ke sudut kiri, di sana satu-satunya tempat yang tripleknya masih cukup waras untuk menahan rembesan!"

Aris segera bertindak. Ia mendorong meja kayunya yang berat dengan segenap tenaga. Bunyi gesekan kaki meja dengan lantai ubin yang kasar menambah kebisingan di ruangan itu. Gita membantunya, tangannya yang ramping ternyata memiliki tenaga yang cukup kuat untuk menarik sisi meja yang lain. Dalam proses itu, bahu mereka bersentuhan sesaat—sebuah kontak fisik yang tidak disengaja namun terasa elektrik di tengah udara yang mendadak dingin dan lembap.

Setelah meja berhasil diamankan di sudut yang kering, mereka berdua terengah-engah. Ruangan itu kini terasa semakin sempit. Luas lantai yang tidak terkena tetesan air hujan hanya tersisa sekitar dua meter persegi. Mereka terpaksa berdiri berdekatan, terjebak di antara tumpukan buku dan meja yang digeser. Bau tanah basah yang masuk melalui celah pintu kini bercampur dengan aroma kopi pahit dari termos Gita dan aroma keringat Aris yang terperas karena kepanikan.

"Infrastruktur yang luar biasa," sindir Aris sambil menyeka tetesan air dari kacamata dan kemejanya. "Bagaimana mungkin kita bicara soal 'Pendidikan Digital 2026' jika atap tempat kita bekerja saja lebih mirip saringan?"

Gita kembali duduk di kursinya yang sempit, melipat tangannya di dada. Ia menatap tetesan air yang jatuh ke ember dengan tatapan kosong. "Welcome to the real world, Aris. It’s not about the hardware, it’s about survival. Kamu pikir kabel fiber optik yang mereka banggakan itu akan bertahan di tanah Margotulus yang setiap musim hujan berubah menjadi bubur?"

Aris mengatur napasnya, mencoba menenangkan diri. Ia menatap dokumen-dokumen di tangannya yang syukurlah hanya basah sedikit di bagian pinggir. "Tapi ini tidak masuk akal secara ekonomi, Gita. Biaya perbaikan atap ini jauh lebih murah daripada risiko kerusakan perangkat elektronik dan dokumen di ruangan ini. Ini adalah inefisiensi yang disengaja."

Gita mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar seperti tawa yang tersedak. "Inefisiensi? You’re talking about efficiency in a place that thrives on neglect. Di sini, membiarkan sesuatu rusak adalah strategi politik. Jika atap ini diperbaiki, tidak akan ada alasan untuk meminta dana bantuan 'keadaan darurat' tahun depan yang sebagian besar akan menguap di saku orang-orang di gedung utama."

"Itu kriminal," desis Aris.

"Itu Margotulus," balas Gita cepat. Ia kemudian menatap Aris dengan saksama. "Omong-omong, kudengar kamu pergi ke pasar kemarin sore. Mencari Bima? Searching for a lost cause?"

Aris tersentak. Ia tidak menyangka berita itu sudah sampai ke telinga Gita secepat itu. "Dia bukan lost cause, Gita. Dia adalah sumber daya manusia yang paling berharga yang dimiliki sekolah ini. Aku melihatnya memikul karung yang beratnya mungkin sama dengan berat tubuhnya sendiri. Itu pemborosan potensi yang mengerikan."

Gita mengambil bukunya, membolak-balik halaman tanpa benar-benar membacanya. "Potential is a luxury, Aris. In English, we call it a 'conditional sentence'. Sesuatu yang 'mungkin' terjadi jika syaratnya terpenuhi. Syarat Bima adalah perut kenyang dan utang lunas. If he doesn’t work, he doesn't eat. Simple grammar, hard reality."

Lihat selengkapnya