Catatan Dari Bangku Belakang

kutipan.izs
Chapter #6

BAB 6: EKONOMI BERAS DAN GAJI YANG TERTUNDA

Dini hari di Margotulus tidak pernah benar-benar sunyi. Di kamar kontrakan Aris yang pengap, kesunyian itu justru memiliki tekstur—bunyi retakan kayu reng yang dimakan rayap, desau angin yang menyelinap lewat celah ventilasi tanpa kawat nyamuk, dan yang paling memekakkan telinga: suara keroncongan perutnya sendiri yang mulai protes sejak semalam. Aris terbangun sebelum alarm di ponsel retaknya berbunyi. Cahaya lampu jalan yang remang-remang menembus gorden tipisnya yang sudah luntur warnanya, menciptakan bayangan jeruji di atas lantai semen yang dingin.

Ia bangkit dari kasur lipatnya, merasakan pening yang menghantam pangkal kepalanya—sebuah gejala klasik dari kekurangan glukosa. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju dapur sempit yang hanya berisi satu kompor gas satu tungku dan sebuah rak plastik yang miring. Ia mengambil kaleng bekas biskuit yang selama ini ia gunakan untuk menyimpan cadangan beras. Aris membukanya, dan bunyi sendok logam yang mengetuk dasar kaleng plastik itu terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya pagi ini.

Hanya ada segenggam beras yang tersisa. Butir-butirnya tampak kusam, pecah-pecah, dan tercampur dengan sedikit kutu hitam yang merayap lambat.

Aris menatap butiran itu dengan tatapan seorang ekonom yang sedang menghitung kegagalan pasar. Di kepalanya, ia mencoba melakukan kalkulasi cepat: segenggam beras ini, jika dimasak dengan air yang banyak hingga menjadi bubur, mungkin bisa menahan rasa laparnya hingga jam istahat sekolah. Namun, setelah itu, ia tidak punya apa-apa lagi. Saldo di aplikasi perbankan digitalnya masih tertahan di angka lima puluh ribu rupiah—batas minimum yang tidak bisa ditarik tunai. Sementara itu, notifikasi di grup WhatsApp guru honorer semalam telah mengonfirmasi bahwa honorarium bulan ini kembali "mengalami kendala teknis di tingkat kabupaten".

"Ekonomi adalah seni mengelola kelangkaan," bisiknya getir, mengulangi definisi dasar yang sering ia ajarkan di kelas. "Tapi mereka tidak pernah mengajarkan bagaimana cara mengelola kelangkaan yang mencapai titik nol."

Ia mencuci beras itu dengan hati-hati, memastikan tidak ada satu butir pun yang terbuang ke lubang pembuangan. Air cucian beras yang keruh itu ia gunakan untuk menyiram satu-satunya tanaman cabai di dalam pot plastik di depan pintunya—sebuah upaya efisiensi yang kini terasa sangat menyedihkan. Sambil menunggu beras itu melunak di atas api kecil, Aris duduk di lantai, memandangi sepatu pantofelnya yang masih terikat karet gelang hitam pemberian Bima. Karet itu kini tampak seperti satu-satunya hal yang masih menyatukan hidupnya yang retak.

Pukul tujuh pagi, Aris sudah berdiri di bawah pohon kamboja depan kantor TU SMAN 1 Margotulus. Ia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, mencoba menangkap sinyal yang paling stabil untuk melakukan presensi wajah. Cahaya matahari pagi yang mulai terik membuat layar ponselnya yang retak semakin sulit dibaca.

Gagal Sinkronisasi. Server Sibuk.

"Ayo, tolonglah... sekali saja," gumamnya dengan bibir yang kering.

Ia tahu, jika ia gagal melakukan presensi digital hari ini, sistem pusat akan memotong tunjangan kehadirannya yang nilainya sudah sangat kecil. Di tahun 2026, teknologi seharusnya mempermudah hidup, namun di Margotulus, teknologi adalah mandor kejam yang tidak mau tahu bahwa sinyal seluler adalah barang gaib di bawah pohon kamboja ini.

"Sedang mencoba peruntungan lagi, Pak Aris?" sebuah suara familiar menyapa dari arah belakang.

Aris menoleh dan melihat Gita berjalan mendekat. Pagi ini, Gita tampak lebih pucat dari biasanya. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan oleh kacamata tipisnya. Ia memegang botol minum plastiknya dengan erat, seolah itu adalah tongkat penyangga tubuhnya.

"Sinyalnya sedang tidak kooperatif, Bu Gita," jawab Aris sambil mencoba tersenyum, meski senyumnya terasa kaku dan dipaksakan.

Gita berdiri di sampingnya, juga mengangkat ponselnya. Ia menatap layar ponsel Aris yang menunjukkan pesan error. "Sudah dengar kabar terbaru di grup semalam? Bendahara bilang kemungkinan besar gaji baru cair pertengahan bulan depan. Ada audit mendadak di dinas."

Aris menghela napas panjang, bahunya merosot. "Pertengahan bulan depan? Itu berarti dua minggu lagi. Bagaimana mungkin mereka mengharapkan kita mengajar dengan perut kosong selama dua minggu?"

Gita memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan gerakan kasar. "Mereka tidak peduli, Aris. Selama laporan di aplikasi terlihat 'hijau', selama akreditasi sekolah aman, mereka tidak peduli apakah kita makan nasi atau makan janji. Kamu sudah sarapan?"

Pertanyaan itu sederhana, namun bagi Aris, itu adalah pertanyaan paling sulit untuk dijawab dengan jujur. "Sudah. Tadi masak bubur sedikit."

Gita menatapnya tajam, tatapan yang seolah bisa menembus kebohongan di balik mata Aris. "Bubur? Atau air rebusan beras? Jangan bohong padaku. Aku sudah tiga tahun di sini, aku tahu bau keringat orang yang belum makan nasi sejak kemarin sore."

Gita merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah bungkus kecil berisi biskuit gandum yang sudah remuk. Ia menyodorkannya pada Aris. "Ambil. Ini sisa pembagian di kelas Bahasa Inggris tadi. Anak-anak tidak suka karena rasanya tawar, tapi ini punya kalori yang cukup untuk membuatmu tidak pingsan saat menjelaskan tentang hukum permintaan dan penawaran."

Aris ragu sejenak. Harga dirinya sebagai seorang pria dan seorang guru bertarung dengan rasa lapar yang kini mulai melilit lambungnya. Namun, melihat sorot mata Gita yang tegas—sorot mata yang mengatakan 'jangan buat ini jadi masalah harga diri'—Aris akhirnya menerima biskuit itu.

"Terima kasih, Gita. Aku akan menggantinya setelah..."

"Jangan pernah bicara soal mengganti," potong Gita cepat. "Di ruang honorer, kita tidak punya utang piutang. Kita hanya punya sistem subsidi silang rasa sakit. Ayo masuk, Pak Kepsek sedang ingin bicara di ruang guru utama. Katanya soal iuran ulang tahunnya yang belum terkumpul semua."

Mendengar kata "iuran", Aris merasa dunianya seolah runtuh. Lima puluh ribu rupiah. Itu adalah sisa uang di dunianya, dan sekarang ia harus menyerahkannya untuk sebuah pesta ulang tahun pria yang bahkan tidak tahu nama belakangnya.

Ruang guru utama terasa sangat dingin pagi itu—bukan karena suasana batinnya, tapi karena AC barunya berfungsi terlalu baik. Aris masuk dengan langkah hati-hati, mengikuti Gita dari belakang. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang sudah dipenuhi oleh kotak-kotak makanan ringan dari toko kue ternama di kabupaten. Aroma risoles hangat dan kopi aromatik memenuhi ruangan, membuat perut Aris bergejolak hebat.

Pak Kepala Sekolah, seorang pria dengan perut buncit yang dibalut seragam dinas yang tampak sempit, duduk di ujung meja sambil tertawa bersama beberapa guru senior berstatus PNS. Di depan mereka, sebuah daftar nama dengan kolom tanda centang terpampang jelas.

"Ah, ini dia para pahlawan muda kita," sapa Pak Kepsek dengan nada suara yang dibuat-buat ramah. "Gita, Aris, bagaimana kabar kelas hari ini? Lancar?"

Lihat selengkapnya