Catatan Dari Bangku Belakang

kutipan.izs
Chapter #7

BAB 7: RAHASIA DI BALIK PUNGGUNG BIMA

Pagi itu, Margotulus diselimuti oleh kabut tipis yang tidak membawa kesejukan, melainkan kelembapan yang lengket dan menyesakkan. Matahari yang tertutup awan kelabu tampak seperti piringan perak yang pudar, memancarkan panas yang terperangkap di permukaan bumi yang basah sisa hujan semalam. Aris berdiri di depan cermin kontrakannya, merapikan kerah kemejanya yang kini terasa sedikit lebih longgar. Perutnya tidak lagi berbunyi nyaring; nasi menir pemberian Bima semalam telah memberikan fondasi energi yang cukup untuk membuatnya berdiri tegak, meski rasa bersalah masih mengendap di dasar hatinya seperti ampas kopi yang pahit.

Ia menatap bungkusan beras menir yang masih tersisa di sudut meja. Di dunianya yang dulu, di kota yang penuh dengan kafe estetis dan diskusi tentang investasi saham, beras pecah-pecah seperti ini mungkin hanya dianggap sebagai pakan ternak. Namun di sini, di bawah atap yang bocor dan sistem yang mencekik, butiran-butiran putih tak sempurna itu adalah simbol martabat yang tertukar. Seorang guru yang seharusnya memberi, justru menjadi pihak yang menerima dari tangan kecil seorang buruh panggul.

"Utang budi ini lebih berat dari bunga bank mana pun," bisik Aris pada bayangannya sendiri.

Ia berangkat ke sekolah dengan beban pikiran yang berbeda. Jika minggu lalu ia sibuk memikirkan bagaimana cara mengajar teori pertumbuhan ekonomi, hari ini ia sibuk memikirkan bagaimana cara menatap mata Bima tanpa merasa seperti seorang pengecut yang gagal.

Sesampainya di SMA Negeri 1 Margotulus, suasana tampak lebih sibuk dari biasanya. Hari ini adalah hari Jumat, waktu di mana kurikulum 2026 mewajibkan "Gerakan Lingkungan Hijau" atau yang secara praktis di lapangan lebih sering diterjemahkan sebagai kerja bakti paksa untuk membersihkan gudang-gudang sekolah yang terbengkalai. Para siswa terlihat berkumpul di lapangan, memegang sapu lidi, sabit, dan beberapa cangkul yang sudah berkarat.

Aris berjalan menuju "Inner Sanctum". Di sana, ia menemukan Gita sedang sibuk mengisi botol semprotan air dengan cairan pembersih kaca yang ia campur sendiri dari sabun cuci piring murah—sebuah trik penghematan yang ia pelajari dari tahun-tahun sebelumnya.

"Jangan terlalu banyak melamun, Aris," tegur Gita tanpa menoleh. "Hari ini hari pembersihan besar. Gedung utama harus terlihat mengkilap karena sore nanti ada pengawas dari dinas yang mau mampir untuk urusan seremonial digital. Kita, para kasta rendah, ditugaskan untuk mengosongkan gudang olahraga di belakang perpustakaan."

Aris meletakkan tasnya. "Gudang olahraga? Bukankah itu penuh dengan peralatan tua yang berat?"

"Tepat sekali. Dan kamu tahu siapa yang akan jadi ujung tombak pekerjaan berat itu, kan?" Gita menatap Aris dengan tatapan yang sarat akan makna.

Aris segera teringat pada Bima. Benar saja, ketika mereka sampai di area gudang belakang yang aromanya didominasi oleh bau kotoran tikus dan kayu yang membusuk, ia melihat Bima sedang berdiri di sana. Siswa itu tampak pucat di bawah sinar matahari yang samar. Ia memegang sebuah peti kayu besar berisi bola-bola basket yang sudah kempis dan jaring gawang yang berjamur.

Pak Sugeng, guru olahraga senior yang memiliki suara seperti petir dan temperamen yang pendek, berdiri di sampingnya sambil berkacak pinggang. "Ayo, Bima! Kamu kan badannya kuat. Angkat peti ini ke truk di depan. Jangan lembek seperti kerupuk kena air. Anak muda itu harus punya otot!"

Aris melangkah maju, tangannya mengepal di samping paha. "Pak Sugeng, peti itu terlalu berat untuk diangkat sendirian. Biar saya bantu dia."

Pak Sugeng menoleh, menatap Aris dengan pandangan meremehkan. "Halah, Mas Aris. Mas ini guru ekonomi, tangan halus, nanti kalau kotor kemejanya bisa repot. Biar Bima saja, dia sudah biasa angkut karung di pasar, kan? Peti begini mah enteng buat dia."

Bima tidak membantah. Ia hanya menunduk, lalu mencoba mengangkat peti kayu itu. Aris melihat otot-otot di leher Bima menegang hebat. Pembuluh darah di pelipisnya menonjol, dan untuk sekejap, Aris melihat wajah Bima berubah menjadi sangat pucat, hampir membiru.

Krakk.

Suara kayu peti itu bergesekan dengan lantai beton, namun ada suara lain yang hanya didengar oleh Aris—suara rintihan halus yang tertahan di tenggorokan Bima. Siswa itu berhasil mengangkat peti itu beberapa senti, namun tiba-tiba tubuhnya limbung. Peti itu jatuh berdentum ke lantai, menimbulkan debu yang pekat di udara.

"Aduh! Kamu ini gimana sih, Bima! Ceroboh sekali!" bentak Pak Sugeng.

Namun Bima tidak menjawab. Ia jatuh terduduk, tangannya memegangi pinggang belakangnya. Napasnya memburu, pendek-pendek dan tidak beraturan. Aris tidak lagi memedulikan etika senioritas. Ia berlari mendekat, mendorong Pak Sugeng ke samping, dan berlutut di depan Bima.

"Bima! Kamu tidak apa-apa?" tanya Aris panik.

Bima hanya menggeleng pelan, namun matanya terpejam rapat. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai muncul di keningnya. Gita berlari mendekat, wajahnya yang biasanya sinis kini menunjukkan kekhawatiran yang murni.

"Bawa dia ke gudang belakang, Aris. Di sana lebih sepi. Pak Sugeng, biarkan kami yang mengurusnya. Dia sepertinya cedera otot," kata Gita dengan nada memerintah yang tidak bisa dibantah.

Pak Sugeng mendengus, "Ya sudah, urus sana. Dasar anak zaman sekarang, fisiknya payah." Pria itu melenggang pergi tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Aris merangkul bahu Bima, mencoba membantu siswa itu berdiri. Tubuh Bima terasa sangat panas, namun gemetar. Mereka membawanya ke sebuah sudut di dalam gudang yang lebih tersembunyi, di balik tumpukan matras olahraga yang sudah sobek-sobek. Di sana, udaranya pengap dan lembap, namun setidaknya mereka terhindar dari mata-mata usil.

"Duduk di sini, Bima," perintah Aris lembut.

Bima bersandar pada matras tua itu. Bajunya yang kusam tampak basah kuyup oleh keringat. Aris menyadari sesuatu yang aneh; di bagian punggung baju seragam Bima, ada noda kemerahan yang perlahan melebar, bukan warna keringat biasa.

"Bima, Bapak harus periksa punggungmu. Sepertinya kamu terluka," kata Aris.

Lihat selengkapnya