Sore itu, SMA Negeri 1 Margotulus seolah sedang mengembuskan napas terakhirnya sebelum terlelap dalam gulita. Matahari mulai turun, menyisakan cahaya jingga kemerahan yang memantul pada kaca-kaca jendela perpustakaan yang berkerak debu. Aris berdiri di depan lokernya di "Inner Sanctum", menjejal buku agenda dan alat tulis ke dalam tas punggung yang jahitannya mulai merapuh. Di luar, suara guntur berdentum rendah—sebuah peringatan dari langit bahwa hujan akan kembali menghajar tanah Margotulus yang sudah jenuh air.
Gita masih mematung di mejanya, memandangi layar laptop yang cahayanya mulai redup karena ia mencoba menghemat sisa baterai. Listrik sekolah baru saja padam sepuluh menit yang lalu—kejadian rutin yang sudah tidak lagi mengagetkan siapa pun di sini.
"Kamu benar-benar nekat mau pergi sekarang?" tanya Gita, suaranya tenang namun mengandung nada peringatan yang tersirat. "Awan di balik bukit itu tidak sedang bercanda, Aris. Jalan menuju dusun Bima bukan sekadar tanah merah. Itu adalah medan tempur antara ban motormu dan gravitasi lumpur."
Aris mengencangkan tali tasnya. "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, Gita. Setelah melihat luka di punggungnya kemarin, aku tidak bisa hanya duduk diam menunggu dia muncul di kelas. Aku harus melihat sendiri di mana dia tinggal dan bagaimana dia bertahan hidup. Ekonomi bukan hanya soal angka di papan tulis, tapi soal ruang hidup manusia."
Gita mendesah. Ia berdiri dan merogoh lacinya, mengeluarkan sebuah kantong plastik bening berisi dua batang lilin dan sebuah pemantik. Ia menyodorkannya pada Aris. "Bawa ini. Di pinggiran desa sana, listrik adalah mitos. Dan bawa juga jas hujan plastik ini. Warnanya kuning norak, mungkin merusak seleramu yang necis, tapi setidaknya kamu tidak akan pulang dengan paru-paru basah."
Aris menerima pemberian itu dengan senyum tipis. "Terima kasih, Gita. Kamu selalu punya persiapan untuk skenario terburuk."
"Di Margotulus, skenario terburuk adalah menu harian kita," balas Gita datar. "Hati-hati. Ada satu tanjakan setelah jembatan kayu yang orang sini sebut 'Jalan Angkuh'. Kalau kamu ragu sedikit saja saat menarik gas, lumpur liatnya akan menelan motormu tanpa ampun."
Aris mengangguk, lalu melangkah keluar. Ia menuntun motor tuanya menuju gerbang sekolah. Penjaga sekolah yang sedang menutup rantai gerbang menatapnya dengan heran. "Mau ke mana sore-sore begini, Mas Guru? Mendung sudah pekat itu."
"Mau kunjungan ke rumah siswa, Pak. Di Dusun Tengah," jawab Aris singkat.
Pria tua itu menggeleng-gelengkan kepala. "Walah, nekat. Hati-hati di jalan, Mas. Lumpur di sana lebih galak dari istri saya kalau belum dikasih uang belanja."
Aris menghidupkan mesin motornya. Suara knalpotnya yang sedikit pecah membelah kesunyian sore yang mencekam. Begitu ia keluar dari area aspal utama desa, realitas geografi Margotulus mulai menunjukkan taringnya. Jalanan berubah menjadi tanah merah yang lembap. Sisa hujan semalam menciptakan kubangan-kubangan air cokelat pekat yang menyembunyikan lubang-lubang dalam yang bisa saja mematahkan as roda motor tuanya.
Awalnya, perjalanan terasa masih bisa dikendalikan. Aris lincah menghindari lubang, memilih jalur di pinggiran yang ditumbuhi rumput agar ban motornya mendapatkan traksi. Namun, setelah melewati jembatan kayu yang berderit ngeri di bawah beban motornya, ia tiba di depan 'Jalan Angkuh' yang disebutkan Gita.
Itu bukan sekadar jalan; itu adalah sebuah tanjakan terjal yang permukaannya murni tanah liat. Hujan mulai turun, awalnya hanya rintik halus, namun dalam hitungan detik berubah menjadi guyuran deras yang membuat pandangan mata kabur. Tanah liat di depannya berubah menjadi bubur licin yang berkilau di bawah cahaya lampu motor yang remang-remang.
Aris menarik napas panjang, menurunkan posisi giginya ke angka satu, dan mulai memacu gas.
Vroom... vroom!
Ban belakang motornya berputar di tempat, mencipratkan lumpur kental ke arah punggung dan kemeja putihnya yang ia jaga mati-matian. Aris merasakan motornya bergoyang liar ke kiri dan ke kanan. Kakinya harus turun ke lumpur untuk menjaga keseimbangan. Sensasi dingin dan lengket segera meresap ke dalam sepatunya yang sudah terikat karet gelang. Lumpur itu seolah memiliki tangan-tangan gaib yang menarik kakinya ke bawah, menahan setiap inci kemajuannya.
"Ayo... sedikit lagi!" teriak Aris, suaranya kalah oleh deru hujan dan erangan mesin motor.
Ia terus berjuang. Tangannya mulai pegal karena harus menahan setang yang memberontak. Lumpur kini sudah memenuhi spakbor motornya, membuat putaran ban semakin berat. Di tengah tanjakan, motornya tiba-tiba mati. Suara mesin digantikan oleh suara hujan yang menghantam dedaunan pohon jati di sekelilingnya.
Aris terengah-engah. Ia berdiri di tengah tanjakan, di tengah kegelapan yang mulai turun, dengan lumpur setinggi mata kaki. Kemeja putihnya yang tadi pagi tampak begitu rapi kini penuh dengan noda cokelat yang mustahil dibersihkan. Ia menatap ke atas, ke arah puncak tanjakan yang masih terlihat jauh.
Pada saat itu, keraguan mulai menyelinap. Untuk apa aku melakukan ini? pikirnya. Aku bisa saja pulang, mandi air hangat, dan membiarkan Bima tetap menjadi urusan takdir. Namun, bayangan luka lecet di punggung Bima kembali melintas. Luka itu adalah jeritan yang tidak bersuara, dan Aris sadar bahwa jika ia menyerah pada lumpur ini, ia juga menyerah pada masa depan Bima.
Dengan sisa tenaga, Aris turun dari motor. Ia mendorong kendaraannya dengan seluruh berat tubuhnya. Setiap langkah adalah perjuangan fisik yang luar biasa. Sepatunya hampir terlepas karena daya hisap lumpur yang begitu kuat. Ia jatuh berlutut sekali, membiarkan celana kainnya bermandikan lumpur, namun tangannya tetap memegang erat setang motor. Ia bukan lagi guru ekonomi yang necis; ia adalah seorang pria yang sedang bertaruh dengan martabatnya di tengah belantara.