Senin pagi di SMA Negeri 1 Margotulus selalu diawali dengan simfoni penderitaan yang disamarkan dalam bentuk upacara bendera. Matahari, yang baru saja merangkak naik dari balik perbukitan kapur, seolah-olah sudah kehilangan belas kasihannya. Sinar itu jatuh tegak lurus, membakar lapangan aspal yang retak-retak dan menerbangkan debu halus yang segera menempel di kulit yang berkeringat. Ratusan siswa berbaris dalam barisan yang tidak pernah benar-benar lurus, menciptakan hamparan warna putih-abu-abu yang tampak memudar di bawah terik yang ganas.
Aris berdiri di barisan guru, tepat di belakang rekan sejawat berstatus PNS yang wangi detergen mahalnya menguap tertiup angin sepoi-sepoi yang panas. Ia merapikan kemejanya—kemeja yang sama yang ia cuci hingga larut malam setelah pertempurannya dengan lumpur di "Jalan Angkuh" beberapa hari lalu. Meski noda cokelat di bagian kelim bawah tidak bisa hilang sepenuhnya, ia tetap menyetrikanya dengan suhu paling panas, mencoba memaksakan serat kain itu untuk tetap kaku dan berwibawa. Namun, matanya tidak fokus pada punggung Pak Kepala Sekolah yang sedang berpidato panjang lebar tentang "Integritas Digital"; matanya menyisir barisan kelas XI-IPS 2, mencari satu titik di barisan paling belakang.
Di sana, di bawah bayang-bayang pohon jati yang meranggas, Bima berdiri tegak. Sikap sempurnanya begitu kaku, seolah ia sedang menahan beban yang jauh lebih berat daripada sekadar berdiri di bawah sengatan matahari. Seragam Bima adalah sebuah monumen atas perjuangan bertahan hidup. Warnanya bukan lagi putih, melainkan kuning gading yang kusam, dipenuhi oleh tambalan-tambalan kecil yang dijahit dengan tangan—jahitan yang kasar namun sangat teliti, menunjukkan bahwa seseorang, entah Bima atau ayahnya yang lumpuh, telah mencoba sekuat tenaga untuk menjaga agar kain itu tidak tercerai-berai.
Aris memperhatikan bagaimana kerah baju Bima sudah berserabut, menipis akibat gesekan leher dan cuci gilas yang terlalu sering. Kain itu tampak sangat tipis, hampir transparan, seolah-olah jika angin bertiup sedikit lebih kencang, ia akan robek begitu saja. Harapan Bima, pikir Aris, persis seperti serat kain itu: sudah sangat tipis, rapuh, namun entah bagaimana masih mampu menyatukan bagian-bagian yang hancur.
"Lihat itu," sebuah bisikan dingin menyentuh telinga Aris.
Ia menoleh sedikit. Gita berdiri di sampingnya, wajahnya tersembunyi di balik kacamata hitam besar yang ia gunakan khusus untuk upacara. Bibirnya membentuk garis tipis yang getir.
"Pak Sugeng mulai beraksi lagi. Razia kedisiplinan di hari Senin. The Monday Ritual of Humiliation," gumam Gita pelan, hampir tidak terdengar oleh guru lain.
Aris melihat Pak Sugeng, guru olahraga yang tempo hari membentak Bima di gudang, mulai berjalan menyisir barisan siswa. Ia memegang sebuah gunting kecil dan sebuah penggaris kayu panjang. Di belakangnya, beberapa guru kesiswaan mengekor, siap mencatat nama-nama "pemberontak" yang seragamnya tidak sesuai standar sekolah.
Langkah kaki Pak Sugeng yang berat di atas aspal terdengar seperti detak jantung yang cemas bagi para siswa. Ia berhenti di depan seorang siswa yang rambutnya menyentuh kerah, lalu dengan gerakan cepat memotong sejumput rambut itu tanpa ampun. Ia terus melangkah, memeriksa kaus kaki yang kurang panjang, atribut topi yang hilang, hingga akhirnya ia sampai di barisan belakang kelas XI-IPS 2.
Ia berhenti tepat di depan Bima.
Aris merasakan otot perutnya menegang. Ia bisa melihat Bima sedikit menunduk, namun punggungnya tetap tegak. Pak Sugeng mengelilingi Bima seolah-olah sedang menginspeksi sebuah barang cacat di pasar loak. Ia menarik ujung seragam Bima yang keluar dari celana, lalu menunjuk ke arah sepatu Bima.
Sepatu itu—sepatu yang kemarin diikat karet gelang hitam—kini sudah mencapai batas akhirnya. Solnya sudah hampir lepas sepenuhnya, menyingkapkan jari-jari kaki Bima yang kotor terkena debu lapangan.
"Kamu lagi, Bima," suara Pak Sugeng menggelegar, memotong keheningan lapangan upacara yang baru saja menyelesaikan lagu Indonesia Raya. "Sudah berapa kali saya bilang? Sekolah ini punya aturan. Seragam kusam seperti kain pel, sepatu jebol, atribut tidak lengkap. Kamu niat sekolah atau mau jadi gembel?"
Beberapa siswa di barisan depan mulai cekikikan. Suasana upacara yang sakral mendadak berubah menjadi panggung penghakiman publik. Bima tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya di samping paha, matanya menatap aspal dengan intensitas yang menyakitkan.
"Jawab kalau ditanya!" Pak Sugeng mendorong pundak Bima dengan penggaris kayunya. "Kenapa baju kamu warnanya begini? Kamu tidak punya sabun atau kamu sengaja mau menghina sekolah dengan penampilan kumalmu ini?"
Aris tidak bisa menahannya lagi. Sebelum otaknya sempat memikirkan konsekuensi birokrasi, kakinya sudah melangkah keluar dari barisan guru. Ia mengabaikan tatapan kaget dari guru-guru PNS lainnya.
"Pak Sugeng, cukup," suara Aris terdengar tenang namun mengandung otoritas yang tidak terduga.
Pak Sugeng menoleh, alisnya bertaut. "Mas Aris? Ini urusan kesiswaan. Mas jangan ikut campur."
Aris berdiri tepat di samping Bima. Ia bisa merasakan hawa panas yang menguar dari tubuh siswanya itu—perpaduan antara panas matahari dan amarah yang tertahan. "Disiplin itu soal karakter, Pak, bukan soal seberapa putih kain yang kita pakai. Bima masuk sekolah tepat waktu, dia tidak pernah bolos kecuali ada urusan darurat keluarga, dan dia siswa terbaik di kelas matematika saya. Jika seragamnya kusam, itu bukan karena dia tidak disiplin, tapi karena dia lebih mendahulukan uang untuk makan ayahnya daripada membeli baju baru."
Lapangan upacara mendadak sunyi sesunyi kuburan. Bahkan Pak Kepala Sekolah yang tadinya asyik mengobrol dengan wakil kepala sekolah, kini menatap ke arah mereka dengan mulut sedikit terbuka.
"Peraturan tetap peraturan, Mas Aris. Kalau semua dibebaskan karena alasan miskin, sekolah ini jadi kumuh!" balas Pak Sugeng, wajahnya mulai memerah karena malu dibantah di depan umum.
"Kekumuhan yang sebenarnya adalah saat kita lebih peduli pada warna baju daripada martabat manusia di dalamnya," Aris membalas, suaranya tetap rendah namun tajam. "Biarkan Bima masuk kelas. Saya yang akan bertanggung jawab secara pribadi atas penampilannya hari ini."
Pak Sugeng mendengus, membuang muka dengan gusar. "Terserah Mas Arislah. Tapi kalau nanti ada sidak dari dinas dan sekolah kita nilainya jatuh karena penampilan siswa, jangan salahkan saya!" Ia melenggang pergi menuju barisan lain dengan langkah menghentak.
Aris menatap Bima. Siswa itu akhirnya berani mengangkat kepalanya. Matanya merah, bukan karena debu, tapi karena menahan tangis yang tidak boleh tumpah di depan teman-temannya. Ia membisikkan satu kata yang sangat pelan: "Terima kasih, Pak."