Catatan Dari Bangku Belakang

kutipan.izs
Chapter #10

BAB 10: PERJANJIAN GANJIL DI JAM ISTIRAHAT

Jam istirahat di SMA Negeri 1 Margotulus bukanlah waktu untuk bersantai bagi mereka yang hidup di garis depan kecemasan. Saat bel yang terbuat dari pelek mobil bekas itu dipukul bertalu-talu, menciptakan kegaduhan logam yang membelah udara panas, Aris justru merasa dadanya semakin sesak. Ia baru saja keluar dari "sidang kecil" di gedung utama—sebuah ruangan ber-AC yang dinginnya terasa ketus, tempat Pak Kepala Sekolah duduk dengan jemari yang mengetuk-ngetuk meja jati mengkilap sementara matanya menatap Aris seolah-olah Aris adalah hama yang baru saja merusak tanaman hias kesayangannya.

Teguran itu singkat namun tajam. Pak Kepala Sekolah tidak berteriak, namun setiap katanya adalah ancaman yang terbungkus rapi dalam retorika "kedisiplinan sekolah". Aris diingatkan bahwa statusnya hanyalah tenaga honorer yang kontraknya bisa diputus kapan saja jika dianggap "menciptakan faksi" atau "merusak wibawa guru senior". Insiden pembelaannya terhadap Bima di lapangan upacara tadi pagi telah sampai ke telinga pimpinan sebagai bentuk pembangkangan publik.

Aris berjalan menyusuri selasar dengan langkah yang berat, melewati kantin yang riuh oleh teriakan siswa yang berebut gorengan berminyak dan es teh dalam plastik. Bau minyak jelantah dan keringat memenuhi udara, namun Aris tidak merasa lapar. Ia justru mencari sosok Gita di antara kerumunan. Ia butuh tempat bernaung, bukan dari hujan, tapi dari tatapan-tatapan sinis guru PNS yang baru saja ia tinggalkan di gedung utama.

Ia menemukan Gita di pintu perpustakaan. Wanita itu tidak perlu bicara; hanya dengan melihat bahu Aris yang merosot, ia sudah tahu apa yang terjadi. Gita memberikan isyarat dengan kepalanya, menunjuk ke arah lorong paling gelap di balik rak-rak ensiklopedia yang sampulnya sudah mengelupas dan tak pernah disentuh selama satu dekade. Itu adalah wilayah tak bertuan di sekolah ini, tempat di mana debu dan rayap menjadi penguasa tunggal.

"Masuklah," bisik Gita saat Aris mendekat. "Bima sudah di sana."

Aris melangkah masuk ke dalam kegelapan yang berbau kapur barus dan kertas tua. Di sana, di antara rak buku "Sejarah Peradaban Dunia" yang sudah usang, Bima duduk di atas sebuah kotak kayu. Ia sudah mengenakan seragam barunya—kemeja putih yang begitu cerah hingga tampak kontras dengan kegelapan ruangan itu. Namun, wajah Bima tidak menunjukkan kegembiraan. Ia tampak seperti seorang terdakwa yang sedang menunggu vonis.

Gita menutup pintu perpustakaan dan menguncinya dari dalam. Tindakan ini sangat berisiko; jika mereka tertangkap, skandal yang muncul akan lebih buruk daripada sekadar urusan seragam. Namun di Margotulus, risiko adalah mata uang harian mereka.

"Bima," Aris memulai, suaranya parau karena emosi yang tertahan. "Bapak baru saja dipanggil Pak Kepala Sekolah. Posisi kita semua sedang tidak aman. Pak Sugeng sangat marah, dan sekolah mulai memperhatikan setiap gerak-gerikmu."

Bima menunduk, tangannya meremas lutut celananya yang baru. "Maafkan saya, Pak. Gara-gara saya, Bapak jadi kena masalah. Lebih baik saya berhenti saja sekarang sebelum Bapak dipecat."

"Berhenti bukan solusi, Bima. Itu pelarian," potong Gita tajam. Ia berdiri bersandar pada rak buku, menyilangkan tangan di dada. "Jika kamu berhenti sekarang, kemenangan ada di tangan Sugeng. Kamu akan kembali ke pasar secara penuh, punggungmu akan hancur total dalam satu tahun, dan Aris akan tetap menjadi guru honorer yang gagal menyelamatkan satu pun siswanya. Kita butuh rencana yang lebih cerdas daripada sekadar menyerah."

Aris mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan sebuah grafik sederhana yang ia buat di aplikasi catatan—grafik yang menunjukkan korelasi antara jam kerja Bima di pasar, absensinya di sekolah, dan penurunan nilai ujiannya yang mulai terlihat di beberapa mata pelajaran lain.

"Lihat ini, Bima," Aris menunjuk layar ponselnya. "Secara ekonomi, kamu sedang melakukan 'manajemen krisis' yang salah. Kamu mengorbankan aset jangka panjangmu—yaitu otakmu—demi likuiditas jangka pendek yang sangat kecil. Jika ini diteruskan, kamu akan mengalami bangkrut secara intelektual sebelum kamu lulus."

Bima menatap grafik itu dengan bingung. Istilah-istilah Aris mungkin terlalu teknis, namun ia mengerti intinya: ia sedang menuju kehancuran.

"Lalu saya harus bagaimana, Pak? Saya butuh uang itu untuk obat Bapak," suara Bima bergetar.

Aris menarik napas panjang. Inilah saatnya ia meresmikan "perjanjian ganjil" itu. "Bapak dan Ibu Gita sudah bicara. Kami akan menawarkan sebuah kontrak kepadamu. Bukan kontrak kerja, tapi kontrak kehormatan."

Bima mendongak, matanya yang lelah kini tampak waspada. "Kontrak apa, Pak?"

Lihat selengkapnya